EconopediaIHSGKolomMeet the Leader

Strategi Investasi Warren Buffett: Pahami Bisnis, Hindari Risiko Berlebihan

TheEconopost.com, Investor Warren Buffett menekankan pentingnya memahami bisnis dan membatasi risiko dalam berinvestasi. Kecerdasan serta pengalaman panjang, menurutnya, tidak cukup melindungi investor dari kerugian apabila keputusan investasi disertai pengambilan risiko berlebihan.

Pesan tersebut disampaikan Buffett dalam sesi tanya jawab bersama mahasiswa pada 1998. Dalam sesi itu, dia menjelaskan pendekatannya terhadap pemilihan perusahaan, penggunaan utang, hingga cara menghadapi perubahan harga saham.

Buffett menyoroti perilaku investor yang mempertaruhkan kekayaan yang dibutuhkan demi mengejar tambahan keuntungan. Menurutnya, keputusan semacam itu tidak masuk akal apabila potensi kerugiannya dapat menghancurkan kondisi keuangan.

“Jika Anda mempertaruhkan sesuatu yang penting bagi Anda demi sesuatu yang tidak penting bagi Anda, itu sama sekali tidak masuk akal,” ujar Buffett.

Dia menggambarkan persoalan itu melalui ilustrasi investor yang memiliki US$100 juta. Dengan asumsi imbal hasil 10%, kekayaannya menjadi US$110 juta. Penggunaan utang atau leverage mungkin meningkatkan hasil menjadi US$120 juta, tetapi juga membuka kemungkinan kehilangan seluruh modal.

Bagi Buffett, tambahan keuntungan tersebut tidak sepadan apabila konsekuensi kegagalannya jauh lebih besar. Terlebih, ketika dana yang dipertaruhkan merupakan milik orang lain.

Pandangan mengenai risiko itu berkaitan dengan prinsip dasar Buffett dalam membeli saham. Dia menempatkan saham sebagai bagian kepemilikan bisnis, sehingga penilaiannya bertumpu pada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.

Harga yang bergerak setiap hari tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan investasi. Buffett justru mengajukan pengujian sederhana: apakah investor tetap nyaman memiliki perusahaan tersebut apabila bursa saham tutup selama lima tahun?

Dia membandingkannya dengan kepemilikan lahan pertanian atau gedung apartemen. Pemilik kedua aset itu tetap dapat menilai hasil investasinya dari kegiatan usaha dan pendapatan, meskipun tidak memperoleh penawaran harga setiap hari.

Karena itu, pemahaman terhadap bisnis menjadi syarat utama. Buffett menyebut batas pengetahuan tersebut sebagai circle of competence atau lingkaran kompetensi.

Menurutnya, investor tidak harus memahami seluruh perusahaan di bursa. Hal yang lebih penting ialah mengetahui perusahaan mana yang dapat dianalisis serta menyadari bidang yang berada di luar kemampuan sendiri.

Pemahaman itu mencakup sumber pendapatan, posisi persaingan, kualitas pengelola, dan prospek usaha. Buffett juga menceritakan kebiasaannya mempelajari industri melalui percakapan dengan pelanggan, pemasok, serta pelaku usaha.

Dalam memilih perusahaan, dia mencari keunggulan kompetitif yang sulit ditiru. Buffett menggambarkannya sebagai parit pertahanan atau moat yang melindungi sebuah kastil dari serangan pesaing.

Keunggulan tersebut dapat berupa biaya rendah, kekuatan merek, kualitas produk, pelayanan, paten, maupun lokasi. Namun, pertahanan bisnis harus terus diperkuat karena pesaing selalu berupaya merebut pasar.

Buffett mencontohkan See’s Candies untuk menjelaskan kekuatan merek. Dalam penuturannya, hubungan produk dengan pengalaman menyenangkan dan kebiasaan memberi hadiah membuat konsumen tidak semata-mata mempertimbangkan harga termurah.

Meski mengutamakan kualitas, Buffett tetap memperhatikan harga pembelian. Bisnis yang baik perlu dibeli pada harga yang masuk akal, sedangkan harga murah saja tidak cukup menjadikan perusahaan buruk sebagai investasi menarik.

“Namun waktu adalah sahabat bisnis yang hebat. Waktu adalah musuh bisnis yang buruk,” tuturnya.

Cara pandang tersebut turut menentukan sikapnya terhadap penurunan pasar. Bagi investor yang masih akan membeli saham dalam jangka panjang, harga lebih rendah dapat membuka kesempatan memperoleh kepemilikan bisnis dengan biaya lebih murah.

Buffett mengibaratkan bursa sebagai supermarket perusahaan. Sebagaimana pembeli barang menginginkan harga lebih terjangkau, investor yang masih mengakumulasi saham dapat memperoleh manfaat dari penurunan harga, sepanjang memahami bisnis yang dibeli.

Dia juga menilai investor tidak perlu merasa wajib bertransaksi setiap hari. Dorongan untuk terus bertindak justru dapat mengalihkan perhatian dari kualitas perusahaan dan alasan awal berinvestasi.

Buffett menegaskan bahwa setiap pembelian harus memiliki dasar yang dapat dijelaskan sendiri oleh investor. Informasi dari orang lain, keramaian transaksi, atau pergerakan harga semata tidak cukup menjadi landasan keputusan.

“Dan jika Anda tidak bisa menyebutkan alasannya, Anda seharusnya tidak membelinya,” ujarnya.

8 JURUS INVESTASI WARREN BUFFETT
Pahami Bisnisnya, Kendalikan Risikonya

Dalam sesi tanya jawab bersama mahasiswa Warren Buffett membagikan prinsip berinvestasi: memahami bisnis, memilih perusahaan berkualitas, serta menjaga disiplin menghadapi gejolak pasar.

1. Beli Bisnis, Bukan Sekadar Saham
Saham merupakan bagian kepemilikan perusahaan. Nilai investasi berdasarkan kemampuan bisnis menghasilkan keuntungan, bukan hanya perubahan harga setiap hari.

2. Tetap dalam Lingkaran Kompetensi
Tidak perlu memahami semua perusahaan. Kenali bisnis yang benar-benar dikuasai dan sadari batas pengetahuan sebelum mengambil keputusan.

3. Cari Benteng Persaingan yang Kuat
Buffett menyukai perusahaan dengan keunggulan yang sulit ditiru, seperti merek kuat, biaya rendah, kualitas produk, dan pelayanan. Keunggulan ini perlu terus diperkuat.

4. Murah Saja Tidak Cukup
Bisnis buruk bisa tetap mengecewakan meskipun dibeli murah. Utamakan kualitas usaha, kemampuan menghasilkan laba, serta harga pembelian yang masuk akal.

5. Jangan Pertaruhkan yang Penting
Mengejar tambahan keuntungan tidak sepadan jika mempertaruhkan seluruh kekayaan. Buffett menyoroti bahaya penggunaan utang berlebihan, bahkan oleh investor yang sangat cerdas.

6. Berpikir sebagai Pemilik Jangka Panjang
Pilih perusahaan yang tetap nyaman dimiliki meskipun bursa tutup selama lima tahun. Fokus pada perkembangan usaha, bukan kebutuhan untuk terus bertransaksi.

7. Sikapi Penurunan Harga secara Rasional
Bagi investor yang masih mengakumulasi saham, penurunan harga dapat membuka peluang membeli bisnis yang dipahami dengan harga lebih menarik.

8. Punya Alasan Membeli yang Jelas
Keputusan investasi harus bisa dijelaskan dengan penilaian sendiri. Kabar dari orang lain atau pergerakan harga saja bukan alasan yang memadai.

BEKAL DI LUAR INVESTASI: INTEGRITAS
Kecerdasan dan energi perlu disertai kejujuran. Buffett juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan baik, menghargai orang lain, dan memilih rekan yang dapat dipercaya.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com