HeadlineIHSG

Di Balik Ledakan Laba BNI (IDX: BBNI) & Putar Arah Treasury ke Hong Kong, Ada Apa?

Tempias.com, JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. (BBNI) mengumumkan kenaikan laba yang signifikan pada tahun buku 2021. Perusahaan mencatat laba tahun buku 2021 yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 10,89 triliun. Laba ini melonjak 232,2 persen dibandingkan periode 2020 sebesar Rp 3,28 triliun. 

“Apa yang kami tuju adalah ROE berkelanjutan terbaik di kelasnya , karenanya asset mix bergeser ke nasabah dengan risiko rendah menjadi penting. Strategi ini akan menghasilkan fee income yang tinggi dan biaya kredit, melebihi dampak pada margin,” jelas manajemen BNI dalam paparan analyst meeting kinerja 2021 pada Bursa Efek Indonesia. 

Lalu dari manakah sumber utama laba BBNI ini?

Laporan keuangan BBNI mencatat secara bisnis pendapatan bunga perusahaan justru tertekan dalam yakni anjlok -10,94 persen dari Rp 56,17 triliun pada 2020 menjadi Rp 50,02 triliun pada 2021 lalu. 

Pembalikan kinerja tertolong akibat berkurangnya beban bunga dan beban syariah. Beban bunga BBNI turun dari Rp 18,1 triliun menjadi Rp 11,72 triliun. Sedangkan beban syariah turun dari Rp 919,82 miliar menjadi Rp 58,21 miliar. 

 

BACA JUGA: Tajir! Laba BBNI Meroket, Segini Lho Untung Per Lembar Saham

 

Catatan laporan keuangan konsolidasi BNI mengungkapkan penurunan beban bunga utamanya disebabkan kebijakan penurunan imbal hasil yang dibayarkan kepada nasabah. Pos ini turun dari Rp 16,15 triliun menjadi Rp 10,38 triliun. 

Keringanan beban bunga juga didapat dari penurunan bunga pinjaman yang diterima BNI. Pos ini turun dari Rp 1,68 triliun menjadi Rp 769,91 miliar. 

Kenaikan laba BNI lainnya disebabkan adanya penyelesaian kredit macet. BNI berhasil memulihkan pendapatan sebesar Rp 2,5 triliun dari kredit bermasalah ini. Dalam laporan analyst meeting, BNI menyebutkan kredit macet (non performing loan/NPL) perusahaan pada 2021 turun dari 4,3 persen menjadi 3,7 persen.

Penurunan ini jika dibandingkan dengan periode 2020, disumbangkan dengan perbaikan NPL sektor korporat. Yakni sumbangannya turun dari  48,3 persen menjadi 37,8 persen. Meski demikian segmen usaha medium mengalami kenaikan kredit macet menjadi 40,9 persen, kredit macet sektor small naik dari 8 persen menjadi 11 persen dan kredit macet consumer naik persentasenya dari 9,7 persen menjadi 10,4 persen.

 

BACA JUGA: Sah! BNI Caplok Bank Mayora, Ini Skema Akuisisi & Nasib Karyawannya

 

Sementara peningkatan laba lainnya disumbang  adanya perolehan laba dari entitas asosiasi. Pos ini berasal dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS). Seperti diketahui BNI memiliki 24,91 persen saham BRIS. Bank syariah terbesar di Indonesia itu membukukan penghasilan komprehensif tahun berjalan Rp 3,18 triliun. Sehingga pendapatan yang menjadi bagian BNI setara dengan Rp 698,33 miliar. Bandingkan dengan 2020 lalu, di mana laba komprehensif BNI Syariah (sebelum merger)diatribusikan sebesar Rp 455,17 miliar.

BNI juga menjual aset kreditnya dengan keuntungan Rp 1,71 triliun. Lainnya, terdapat laba kurs sebesar Rp 1,32 triliun. 

Saat laba disokong kinerja pengelolaan, BNI mencatatkan  kenaikan beban operasional. Yakni dari Rp 24,21 triliun menjadi Rp 24,8 triliun.  Kenaikan beban itu utamanya disebabkan oleh gaji dan tunjangan yang naik dari Rp 9,75 triliun menjadi Rp 11,19 triliun. 

Catatan laporan keuangan BNI menyebutkan terjadi kenaikan gaji dan tunjangan Dewan Komisaris, Direksi, Komite Audit, SEVP, EVP dan SVP. 

Pos pejabat pengelola bank BUMN ini tercatat melonjak dari Rp 176,27 miliar menjadi Rp 256,6 miliar. Perinciannya gaji dan tunjangan dewan komisaris naik dari Rp 19,97 miliar menjadi Rp 23,7 miliar. 

 

BACA JUGA: Kocok Ulang Merdeka Copper (IDX: MDKA) & Lengsernya Putra Mahkota Saratoga

 

Selanjutnya gaji dan tunjangan direksi naik dari Rp 52,3 miliar menjadi Rp 62,96 miliar. Sedangkan kenaikan terbesar juga terjadi di level SEVP, EVP dan SVP dari Rp 103,15 miliar menjadi Rp 168,86 miliar. 

“Sesuai dengan kebijakan Bank, selain gaji, pegawai juga mendapatkan fasilitas dan tunjangan berupa Tunjangan Hari Raya (THR), fasilitas kesehatan, sumbangan kematian, tunjangan cuti, fasilitas jabatan untuk jabatan tertentu, program pensiun untuk pegawai tetap, insentif sesuai dengan kinerja Bank dan pegawai, dan manfaat untuk pegawai yang berhenti bekerja sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berlaku,” ulas manajemen dalam laporan keuangannya yang dikutip, Minggu, 30 Januari 2022. 

Melalui capaian ini, aset BBNI naik dari Rp 891,33 triliun menjadi Rp 964,83 triliun. Kenaikan aset ini utamanya dari belanja efek yang dibeli dengan rencana dijual kembali dari Rp 8,66 triliun menjadi Rp 22 triliun. Juga ada kenaikan wesel ekspor dari Rp 17,89 triliun menjadi Rp 19,56 triliun.

BNI juga meningkatkan kepemilikan di obligasi pemerintah dari Rp 90 triliun menjadi Rp 111,42 triliun. Perusahaan juga rajin menempatkan dananya di bank lain yakni naik dari Rp 61,32 triliun menjadi Rp 92,29 triliun. 

 

DANA BBNI BERALIH KE HONGKONG

Hal lain yang dapat diketahui dari paparan laporan keuangan BNI adalah adanya perubahan kebijakan treasury perusahaan yang semula dari Korea beralih ke Hong Kong. Sedangkan di dalam negeri, BNI meningkatkan penempatan dananya di Bank BRI dan Bank Mayapada (IDX: MAYA). 

Perinciannya, dalam bentuk rupiah dana ditempatkan di Bank Indonesia dalam bentuk Deposit Facility naik dari Rp 29,04 triliun menjadi Rp 48,98 triliun. Pada Bank BRI naik dari Rp 106 miliar menjadi Rp 158,4 miliar. Sementara di Bank Mayapada dari sebelumnya tidak ada menjadi Rp 31,4 miliar. 

 

BACA JUGA: BSI (IDX: BRIS) Cetak Laba Rp 3,2 Triliun, Bagaimana Prospek Saham?

 

BNI juga menempatkan uangnya dalam bentuk mata uang asing di BRI sebesar setara Rp 285,05 miliar, San In Godo Bank, Tokyo dari Rp 126,45 miliar menjadi Rp 171,03 miliar. 

Saat yang sama, BBNI meningkatkan bisnis dalam dolar dengan penempatan ke Wells Fargo Bank (Rp 50,59 miliar) dan Bank of New York Mellon (Rp 17,1 miliar) berupa call money

Juga meningkatkan deposito di The Chugoku Bank Limited, Hong Kong dari Rp 210 miliar menjadi Rp 427,57 miliar. Dengan Woori Bank Seoul (Rp 83,86 miliar). 

Pada 2021, BNI juga tercatat menarik seluruh dananya dari Bank Mega (Rp 250 miliar), Bank of America Jakarta (Rp 100 miliar) dan Bank CTBC Indonesia (Rp 20 miliar). 

 

BACA JUGA: BCA (IDX: BBCA) Cetak Laba Rp 31,4 Triliun, Segini Untung Per Saham

 

BNI juga menghapus akun deposito dengan menarik seluruh asetnya di Bank of Nova Scotia Hong Kong sebesar Rp 281 miliar dan menurunkan dana dari KEB Hana Seoul dari Rp 694,9 miliar menjadi Rp 35,94 miliar. 

“Giro pada bank lain selain dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dan Yuan China tidak mendapat bunga,” tulis manajemen BNI dalam catatan laporan keuangannya. 

Sedangkan pinjaman antar bank yang diperoleh BNI dengan periode 6-12 bulan berasal dari Wells Fargo Bank dari Rp 491,75 miliar menjadi Rp 855,15 millar. 

CoBank Singapura (Rp 712,62 miliar), Mitsubishi UFJ Trust and Banking Singapura (Rp 712,62 miliar), CTBC Singapura (Rp 427,57 miliar), KDB Bank (427,57 miliar) dan DZ Bank Singapura (Rp 142,52 miliar).

Tempias.com mengkonfirmasi strategi perusahaan dalam dana asing ini Sekretaris Perusahaan BNI, Mucharom. Apakah perubahan penempatan ini terkait dengan rencana bank digital yang diusung seiring langkah mengakuisisi Bank Mayora? Faktor penempatan selain strategi kompensasi pinjaman antar bank yang diperoleh. 

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, konfirmasi yang diminta belum diperoleh. Sementara pesan yang dikirim dalam dua kali kesempatan sudah terbaca sebagian dengan adanya centang biru. (Ira Guslina).

Putra

Editor In Chief https://www.theeconopost.com/ Hubungi saya di redaksi@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com