Finance

Membanding Manufaktur ASEAN pada September 2026 Saat Indonesia Optimistis

TheEconopost.com, Aktivitas manufaktur di kawasan ASEAN tetap berada dalam fase ekspansi pada September 2026, tetapi lajunya melambat. Kondisi manufaktur yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) ASEAN turun menjadi 52,1 dari 52,3 pada Agustus.

Berdasarkan laporan S&P Global, PMI manufaktur ASEAN masih berada di atas ambang 50 yang menandakan ekspansi. Dengan demikian, sektor manufaktur kawasan tersebut telah membaik selama 15 bulan berturut-turut. Namun, PMI September merupakan level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Perlambatan terutama terlihat dari pertumbuhan produksi dan pesanan baru yang tetap meningkat, tetapi menjadi yang paling lambat dalam tiga bulan. Di sisi lain, jumlah tenaga kerja kembali bertambah dengan laju terkuat sejak Februari.

Aktivitas pembelian bahan baku juga meningkat dengan laju yang lebih cepat. Persediaan bahan baku kembali bertambah, sementara persediaan barang jadi turun selama tujuh bulan berturut-turut. Penurunan persediaan barang jadi pada September menjadi yang terdalam dalam lebih dari enam tahun.

Dari sisi harga, kenaikan biaya input melambat. Namun, produsen menaikkan harga jual dengan laju yang lebih cepat.

Kinerja manufaktur negara-negara ASEAN menunjukkan perbedaan yang cukup lebar. Thailand mencatat PMI 54,3 pada September, naik dari 53,8 pada Agustus. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak akhir 2025. PMI Thailand juga bertahan di atas level 50 selama hampir satu setengah tahun.

Vietnam masih mencatat ekspansi dengan PMI 51,9, tetapi turun dari 53,3 pada Agustus. Dengan demikian, kondisi manufaktur Vietnam tetap membaik selama 15 bulan berturut-turut, meski laju perbaikannya melambat.

Sementara itu, Malaysia masuk zona kontraksi dengan PMI 49,9 dari 50,2 pada Agustus. Kontraksi tersebut merupakan yang pertama dalam empat bulan dan mengakhiri tiga bulan perbaikan. Meski demikian, kondisi manufaktur Malaysia secara umum masih mendekati stabil.

Perubahan paling tajam terjadi di Filipina. PMI manufaktur negara tersebut anjlok 5,3 poin menjadi 49,6 dari 54,9 pada Agustus. Penurunan itu membuat Filipina kembali masuk zona kontraksi untuk pertama kalinya sejak April 2026.

Myanmar juga kembali mengalami kontraksi. PMI manufakturnya turun menjadi 49,1 dari 50,3 pada Agustus. Kondisi manufaktur Myanmar memburuk untuk keempat kalinya dalam lima bulan, terutama akibat melemahnya pesanan baru dan produksi.

Di sisi lain, data Singapura baru akan diumumkan 5 Oktober mendatang. Sebelumnya, aktivitas bisnis sektor swasta menguat pada Agustus. PMI ekonomi sektor swasta meningkat menjadi 59,4 dari 59,2 pada Juli. Perbaikan tersebut ditopang pertumbuhan pesanan baru yang semakin cepat, peningkatan permintaan, serta keberhasilan promosi.

Data Singapura tersebut merupakan PMI ekonomi sektor swasta untuk Agustus 2026 sehingga tidak dibandingkan langsung dengan PMI manufaktur ASEAN dan negara lain pada September.

Produsen ASEAN masih memperkirakan produksi meningkat dalam 12 bulan mendatang. Namun, tingkat keyakinan mereka turun ke posisi terendah dalam tiga bulan.

S&P Global mencatat optimisme tersebut dibayangi sejumlah risiko, antara lain ketegangan di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta potensi kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com