PMI Manufaktur Indonesia Melempem, Filipina Pimpin Industri Asean
TheEconopost.com, Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona kontraksi pada Agustus 2026. Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managersโ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.
Dengan capaian tersebut, Indonesia menjadi satu-satunya negara di antara lima negara Asia Tenggara yang datanya sudah dirilis S&P Global hari ini, Selasa, 1 Seotember 2026 berada di bawah ambang 50 pada Agustus 2026. Sebaliknya, Filipina mencatat lonjakan aktivitas manufaktur paling kuat dengan PMI mencapai 54,9.
PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan indeks di bawah 50 menandakan kinerja pabrik mengalami pelemahan.
Penurunan PMI Indonesia terjadi setelah produksi kembali menyusut dan jumlah tenaga kerja kembali berkurang. Pelaku usaha juga menghadapi persaingan yang semakin ketat, permintaan yang masih lemah, serta tekanan dari kenaikan harga barang.
“Data PMI terbaru menunjukkan penurunan kesehatan sektor manufaktur Indonesia, karena penurunan produksi dan lapangan kerja yang kembali terjadi. Membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi permintaan secara umum netral,” kata Maryam Baluch, Ekonom di S&P Global Market Intelligence dalam pernyataan resminya.
Semenatara itu, sinyal data Agustus menunjukkan arah perbaikan. Pesanan baru meningkat tipis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Kepercayaan pelaku usaha bahkan menguat ke level tertinggi dalam tujuh bulan, mencerminkan optimisme produsen bahwa produksi dapat meningkat dalam 12 bulan mendatang.
Filipina dan Thailand Memimpin Ekspansi
Saat keyakinan manajer pengadaan di Indonesia akan prospek bisnis melemah. Filipina menjadi negara dengan kinerja manufaktur terkuat di antara lima negara yang hasil surveinya sudah dirilis. PMI manufaktur negara tersebut melonjak menjadi 54,9 pada Agustus, dari 51,8 pada Juli.
Sedangkan kinerja manufkatur untuk Singapura dan Vietnam dirancang PMI untuk dipublikasikan pada lusa, 3 September 2026.
PMI Manufaktur Agustus 2026
| Negara | Juli 2026 | Agustus 2026 | Perubahan | Kondisi |
|---|---|---|---|---|
| Filipina | 51,8 | 54,9 | +3,1 | Ekspansi kuat |
| Thailand | 54,2 | 53,8 | -0,4 | Ekspansi kuat |
| Myanmar | 49,3 | 50,3 | +1,0 | Ekspansi tipis |
| Malaysia | 50,7 | 50,2 | -0,5 | Ekspansi tipis |
| Indonesia | 50,2 | 49,8 | -0,4 | Kontraksi tipis |
Keterangan: PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan PMI di bawah 50 menunjukkan kontraksi. Sumber: PMI SpGlobal.
Kenaikan 3,1 poin itu menandai perbaikan kondisi manufaktur terkuat sejak Desember 2016. Pesanan baru tumbuh kuat, termasuk pesanan ekspor yang kembali meningkat, sehingga mendorong kenaikan produksi secara substansial.
Pertumbuhan produksi Filipina juga menjadi yang tercepat sejak Desember 2016. Perusahaan kembali menambah tenaga kerja, sementara tingkat kepercayaan bisnis mencapai posisi tertinggi dalam 21 bulan.
Thailand mempertahankan momentum ekspansi dengan PMI sebesar 53,8, meskipun sedikit turun dari 54,2 pada Juli. Produksi meningkat tajam dan pesanan baru tetap tumbuh kuat.
Ekspansi produksi Thailand pada Agustus menjadi yang tercepat kedua sepanjang 2026. Kondisi rantai pasok relatif stabil, sementara optimisme produsen mencapai level tertinggi sejak Januari 2026.
Aktivitas manufaktur Thailand sendiri telah menunjukkan tren perbaikan secara berkelanjutan sejak Mei 2025.
Di Malaysia, PMI manufaktur turun menjadi 50,2 dari 50,7 pada Juli. Sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi, tetapi pertumbuhannya menjadi yang paling lambat dalam tiga bulan terakhir.
Pertumbuhan pesanan baru melambat, sementara produksi dan aktivitas pembelian melemah. Persediaan juga menyusut. Meski demikian, perusahaan kembali menambah tenaga kerja dan tekanan inflasi biaya turun ke level terendah dalam enam bulan.
Sementara itu, Myanmar menunjukkan tanda awal pemulihan. PMI manufaktur negara tersebut naik menjadi 50,3 dari 49,3 pada Juli dan kembali berada di atas level 50 untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
Kendati demikian, pemulihan sektor manufaktur Myanmar masih rapuh. Produksi dan pesanan baru masih menurun, meskipun dengan laju yang lebih lambat. Aktivitas pembelian meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan dan persediaan bahan baku kembali bertambah, tetapi jumlah tenaga kerja masih menyusut dan tekanan biaya produksi meningkat.
Secara keseluruhan, data PMI Agustus menunjukkan peta manufaktur Asia Tenggara yang semakin beragam. Filipina dan Thailand mencatat ekspansi kuat, Malaysia dan Myanmar berada dalam fase ekspansi tipis, sementara Indonesia kembali menghadapi kontraksi.
Bagi Indonesia, kenaikan tipis pesanan baru dan menguatnya optimisme bisnis menjadi dua indikator yang dapat menjadi penopang pemulihan aktivitas manufaktur pada periode mendatang. Namun, pelemahan produksi, tenaga kerja, dan permintaan menunjukkan tekanan terhadap sektor manufaktur belum sepenuhnya mereda.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami, dukung kami dengan membeli berita ini sesuai keinginan Anda. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. ![]() Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi eksklusif sesuai kebutuhan. |

