Kantongi Rp 33 Triliun, Adaro Energy (IDX: ADRO) Rampungkan Smelter Aluminium
Tempias.com, JAKARTA – PT Adaro Energy Indonesia Tbk (IDX: ADRO) mencatatkan kinerja usaha yang moncer sepanjang 2022. Dalam paparan public expose perusahaan, Senin, 12 September 2022 manajemen menyebutkan saat ini perusahaan mengantongi uang tunai US$2,24 miliar atau setara Rp 33,21 triliun (konversi Rp 14.800 per 1 US$).
“Posisi keuangan yang solid dan likuiditas yang kuat memungkinkan grup untuk menangkap peluang pertumbuhan di seluruh ekosistem energi,” jelas manajemen ADRO dalam paparan publik expose.
Sepanjang 2020 ADRO melaporkan produksi batu bara menjadi 58-60 MT naik dari produksi 2021 yang hanya 52,7 Mt. Sedangkan produksi Batubara Kestrel Met mencapai 7 Mt naik dari 5,7 Mt pada 2021.
Dengan memanfaatkan kapasitas produksi yang ada, Adaro kini telah memiliki pembangkit listrik dengan kapasitas mencapai 2,260 NW. Meski begitu, saat ini Adaro terus membidik peluang untuk memanfaatkan peluang investasi ekonomi hijau yang masih besar di Indonesia. Pada 2030 diperkirakan investasi energi terbarukan di mencapai US$ 3 triliun.
“Adaro berada di posisi yang tepat untuk menangkap peluang ini, sekarang dan di masa depan. Adaro akan terus menjajaki peluang untuk melayani kebutuhan mineral hijau di ekonomi baru.”
BACA JUGA: Pemilik Adaro (IDX: ADRO) & Adaro Minerals (IDX: ADMR), Inilah 4 Keluarga Crazy Rich di Belakangnya
Salah satu langkah yang dilakukan Adaro dalam diversifikasi produk adalah dengan mengembangkan smelter alumunium di Kaltara Industrial Park. Adapun lingkup proyek adalah 1,5 juta ton produksi aluminium.
Hingga 2025, ADRO menargetkan phase 1 selesai dengan kapasitas produksi di Kalimantan Utara ini bisa mencapai 500 ribu tpa aluminium. Sedangkan pembangunan phase dua diprediksi rampung [ada kuartal IV 2026 dengan kapasitas yang sama 500 ribu tpa alumunium. Dilanjutkan phase ketiga yang ditargetkan rampung 2029.
Tumbuh
Bila dilihat dari laporan keuangan, sepanjang semester 1 2022, Adaro Energi mencatatkan pendapatan bersih US$ 3,54 triliun atau setara Rp 52 triliun. Jumlah ini meningkat 127 persen dibanding pendapatan bersih semester 1 2021 yang hanya Rp 23,13 triliun.
Dilihat dari performa finansial bisnis, Adaro mencatatkan EBITDA US$ 2,33 miliar atau setara Rp 34,61 triliun. Nilai ini naik 269 persen dibanding EBITDA semester 1 2021 yang hanya US$635 juta atau setara Rp 9,3 triliun.
Di sisi lain capex atau belanja modal yang dikeluarkan untuk semester 1 2022 adalah US$ 157 juta atau setara Rp 2,3 triliun. Sedangkan free cash flow mencapai US$1,04 miliar atau setara Rp 15,3 triliun. (Ira Guslina)
