Harga Emas Naik, Intip Daftar 13 Saham Emas di BEI 2026
TheEconopost.com, Harga emas kembali berada dalam tren penguatan pada pekan lalu. Harga emas lompat naik menjadi 4.341,56 dollar AS per troy ounce pada perdagangan 8 Juli 2026, naik 2,41 persen. Tren tersebut melanjutkan reli sepanjang pekan setelah emas sempat terperosok ke level di bawah US$ 4.000 pada pertengahan Juli, meski investor perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek karena harga telah memasuki area resistance.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia pekan ini bergerak dalam rentang US$4.151–US$4.493 per troy ounce. Perubahan pengelolaan keamanan di kawasan strategis Selat Hormuz turut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi harga emas. Untuk perdagangan Senin, emas diperkirakan berpeluang menguat dengan support US$4.279 dan resistance US$4.405 per troy ounce.
Sementara Dupoin Futures meramal support emas terdekat berada di US$4.179 per troy. Jika harga mampu membentuk swing low di sekitar level tersebut, peluang pembelian dinilai kembali menarik. Sebaliknya, apabila momentum kenaikan berlanjut dan resistance US$4.331 ditembus, emas berpeluang menuju US$4.382.
Pergerakan harga emas tersebut ikut menempatkan saham-saham emiten yang memiliki bisnis emas dalam perhatian investor. Di Bursa Efek Indonesia, pilihan tersebut tidak hanya berasal dari perusahaan yang menambang emas secara langsung. Ada pula perusahaan yang bergerak di pengolahan dan perdagangan emas, serta perusahaan investasi yang memperoleh eksposur melalui kepemilikan pada emiten tambang.
Lantas, saham apa saja yang masuk dalam daftar emiten emas di BEI?
Untuk melihatnya, emiten tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan sumber eksposurnya terhadap emas:
Perusahaan hulu yang menambang emas yang terdaftar di BEI.
Kelompok ini memiliki eksposur paling langsung terhadap kegiatan pertambangan emas. Di dalamnya terdapat PT Bumi Resources Minerals Tbk dengan kode saham BRMS, yang memiliki tambang utama di Poboya, Palu.
Ada pula PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang mengelola Tambang Tujuh Bukit dan Proyek Emas Pani. Selanjutnya PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang memiliki wilayah operasional di Sulawesi Utara dan Bengkulu.
PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) juga masuk kelompok ini dengan fokus pada proyek emas di Ciemas, Sukabumi. Sementara PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mengelola Tambang Emas Toka Tindung.
Karakter saham kelompok hulu sangat berkaitan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan emas. Karena itu, kenaikan harga emas dapat menjadi sentimen positif, tetapi kinerja saham tidak hanya ditentukan oleh harga komoditas. Produksi tambang dan perkembangan proyek juga menjadi bagian penting dari prospek perusahaan.
Emiten di BEI yang bergerak di hilir emas.
Tidak semua perusahaan yang memperoleh manfaat dari kenaikan harga emas merupakan penambang. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), misalnya, memiliki posisi kuat di sisi hilir melalui bisnis logam mulia batangan yang dijalankan Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia. Antam sendiri juga memiliki tambang emas dengan sumber utama dari Pongkor, Bogor. Kawasan ini sendiri hanya akan bertahan hingga 2030 karena kehabisan cadangan.
Kemudian terdapat PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang bergerak pada pembuatan perhiasan emas dan memiliki jaringan toko ritel. Sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memiliki fasilitas precious metal refinery untuk memurnikan emas di Sumbawa.
Kelompok hilir memiliki karakter berbeda dari perusahaan tambang. Aktivitas pengolahan, pemurnian, manufaktur, dan perdagangan membuat hubungan antara harga emas dan kinerja perusahaan tidak selalu sama dengan emiten yang memperoleh pendapatan terutama dari produksi tambang.
Perusahaan investasi atau konglomerasi yang memperoleh eksposur melalui kepemilikan saham.
Investor juga dapat menemukan eksposur emas pada emiten yang tidak melakukan penambangan secara langsung. PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM), misalnya, memiliki portofolio saham pada MDKA.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) juga merupakan perusahaan investasi yang memiliki kepemilikan pada MDKA. Sementara PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki aset hulu Tambang Emas Martabe melalui anak usahanya.
Adapun PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merupakan perusahaan holding komoditas yang menjadi pemegang saham pengendali BRMS.
Dengan demikian, daftar saham emas di BEI sebenarnya tidak homogen. Ada saham yang memberikan eksposur langsung melalui kegiatan penambangan, ada yang memperoleh manfaat dari pengolahan dan perdagangan emas, serta ada yang mendapatkan eksposur secara tidak langsung melalui kepemilikan perusahaan tambang.
Perbedaan tersebut penting dipahami karena kenaikan harga emas tidak serta-merta memberikan dampak yang sama kepada seluruh saham dalam daftar tersebut.
Harga emas dan risiko koreksi
Prospek emas pada pekan depan masih dinilai positif. Namun, Dupoin Futures mengingatkan investor agar tidak terburu-buru mengejar harga setelah reli yang cukup agresif.
Selain faktor teknikal, arah emas akan dipengaruhi sentimen fundamental, terutama data Nonfarm Payrolls Amerika Serikat. Data tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan dapat memperbesar peluang penurunan suku bunga Federal Reserve. Kondisi tersebut berpotensi menekan dollar AS dan memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat.
Sebaliknya, NFP yang lebih kuat dapat mendorong ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Dollar AS berpotensi menguat dan ruang kenaikan emas menjadi lebih terbatas.
Penurunan harga minyak dan imbal hasil US Treasury juga menjadi sentimen pendukung bagi emas. Ketika tekanan inflasi berkurang dan imbal hasil aset berbunga menurun, daya tarik emas sebagai aset safe haven dapat meningkat.
Bagi investor saham, kondisi tersebut membuat pergerakan harga emas menjadi salah satu faktor yang layak diperhatikan. Namun, pemilihan saham tetap perlu mempertimbangkan seberapa besar keterkaitan emiten dengan emas dan bagaimana struktur bisnis masing-masing perusahaan.
Berikut daftar emiten emas di BEI berdasarkan jenis bisnis dan eksposurnya terhadap komoditas emas.
1. Bumi Resources Minerals (BRMS)
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) merupakan emiten yang bergerak di sektor hulu pertambangan emas. Perseroan memiliki tambang utama di Poboya, Palu.
Dengan bisnis yang berfokus pada pertambangan, BRMS memiliki keterkaitan langsung dengan produksi emas dari aset tambangnya.
2. Merdeka Copper Gold (MDKA)
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) merupakan perusahaan pertambangan yang mengelola Tambang Tujuh Bukit dan Proyek Emas Pani.
MDKA menjadi salah satu emiten yang memiliki eksposur terhadap bisnis emas melalui kegiatan eksplorasi dan pertambangan.
3. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)
Memegang hak eksplorasi dan pengembangan penuh atas Proyek Emas Pani di Gorontalo yang memiliki cadangan raksasa.
4. J Resources Asia Pasifik (PSAB)
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) merupakan perusahaan pertambangan emas dengan wilayah operasional di Sulawesi Utara dan Bengkulu.
Perseroan masuk dalam kelompok emiten hulu karena fokus bisnisnya berkaitan dengan pencarian dan penggalian bijih emas.
5. Wilton Makmur Indonesia (SQMI)
PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) merupakan emiten yang memiliki fokus pada proyek emas di Ciemas, Sukabumi.
Perusahaan ini masuk dalam kelompok emiten hulu karena eksposur bisnisnya berasal dari kegiatan pertambangan emas.
6. Archi Indonesia (ARCI)
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) merupakan perusahaan pertambangan emas yang mengelola Tambang Emas Toka Tindung.
ARCI menjadi salah satu saham yang memberikan eksposur langsung kepada investor terhadap kegiatan produksi emas dari sektor pertambangan.
7. Aneka Tambang (ANTM)
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki posisi yang berbeda dibandingkan emiten tambang emas lainnya karena memiliki bisnis hingga ke sisi hilir.
Perseroan dikenal melalui bisnis logam mulia batangan yang dijalankan melalui Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia (UBPP Logam Mulia). Karena itu, ANTM memiliki eksposur terhadap emas tidak hanya dari sisi pertambangan, tetapi juga pengolahan dan perdagangan produk emas.
8. Hartadinata Abadi (HRTA)
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) bergerak pada industri emas di sisi hilir.
Perseroan memiliki bisnis pembuatan perhiasan emas sekaligus jaringan toko ritel. Karakter bisnis ini membuat eksposur HRTA terhadap emas berbeda dari perusahaan yang memperoleh pendapatan terutama dari penambangan.
9. Amman Mineral Internasional (AMMN)
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memiliki fasilitas precious metal refinery untuk memurnikan emas di Sumbawa.
Dengan fasilitas tersebut, AMMN memiliki keterkaitan dengan bisnis emas pada sisi pengolahan dan pemurnian.
10. Provident Investasi Bersama (PALM)
PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) tidak melakukan penambangan emas secara langsung.
Eksposur terhadap emas diperoleh melalui portofolio investasinya, termasuk kepemilikan saham pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Karena itu, PALM dapat dikategorikan sebagai emiten dengan eksposur emas melalui model investment holding.
11. Saratoga Investama Sedaya (SRTG)
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) merupakan perusahaan investasi yang juga memiliki eksposur terhadap emas melalui kepemilikannya pada MDKA.
Dengan model bisnis tersebut, hubungan SRTG dengan harga emas bersifat tidak langsung karena kinerja perusahaan juga dipengaruhi oleh berbagai portofolio investasi lainnya.
12. United Tractors (UNTR)
PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki bisnis yang terdiversifikasi. Namun, perseroan juga memiliki eksposur terhadap bisnis emas melalui aset hulu Tambang Emas Martabe yang dimiliki secara langsung melalui anak usahanya.
Karena itu, UNTR menjadi salah satu emiten nonspesialis emas yang tetap memiliki keterkaitan dengan komoditas tersebut.
13. Bumi Resources (BUMI)
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merupakan perusahaan batu bara yang menjadi pemegang saham pengendali BRMS.
Eksposur BUMI terhadap emas dengan demikian berasal dari kepemilikannya pada perusahaan tambang emas, bukan dari aktivitas penambangan emas secara langsung oleh BUMI.
