HeadlineIHSG

Kenapa IHSG Turun 1,43% Sepekan (7-11 Sep 2026)? Saham Big Caps dan Net Sell Asing Jadi Beban

TheEconopost.com, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,43 persen sepanjang perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7–11 September 2026. Pelemahan terutama dipengaruhi tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar dan aksi jual bersih investor asing.

IHSG ditutup di level 6.541,38 pada akhir perdagangan Jumat (11/9/2026), turun dari posisi 6.636,48 pada pekan sebelumnya. Sejalan dengan penurunan indeks, kapitalisasi pasar BEI menyusut 1,32 persen menjadi Rp11.446 triliun dari Rp11.599 triliun.

Tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi penurunan 33,09 poin terhadap IHSG.

Selain BBCA, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memberikan tekanan 23,63 poin setelah harganya turun 10,51 persen. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga menekan IHSG sebesar 17,51 poin dengan penurunan harga 3,54 persen.

Dengan demikian, tiga saham tersebut saja memberikan tekanan sekitar 74 poin terhadap IHSG sepanjang pekan.

Saham berkapitalisasi besar lainnya juga bergerak turun. DSSA melemah 6,78 persen dan memberikan tekanan 6,86 poin terhadap IHSG. BBNI turun 4,82 persen dan menekan indeks 6,26 poin.

Selanjutnya, BRMS turun 5,59 persen, BRPT melemah 5,03 persen, BMRI turun 1,36 persen, BREN terkoreksi 3,57 persen, dan VKTR turun 8,09 persen.

Tekanan juga terlihat pada kelompok saham perbankan. Pada pekan tersebut, BBCA turun 5,60 persen, BBNI 4,82 persen, BBRI 3,54 persen, dan BMRI 1,36 persen.

Secara sektoral, indeks financials turun 1,54 persen. Pelemahan sektor keuangan menjadi salah satu faktor penting mengingat sejumlah saham bank berkapitalisasi besar memiliki bobot besar dalam pergerakan IHSG.

Selain financials, sejumlah sektor mencatat penurunan lebih dalam. Consumer cyclicals menjadi sektor dengan pelemahan terbesar, yakni 3,17 persen, diikuti technology yang turun 3,14 persen.

Sektor properties & real estate melemah 2,62 persen, infrastructures turun 1,33 persen, consumer non-cyclicals 1,32 persen, dan energy 0,36 persen.

Di tengah mayoritas sektor yang melemah, beberapa sektor masih mencatatkan penguatan. Industrials naik 2,03 persen, healthcare 1,49 persen, basic materials 0,22 persen, serta transportation & logistics 0,18 persen.

Namun, penguatan sektor-sektor tersebut belum mampu mengimbangi tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar.

Faktor lain yang turut membebani IHSG adalah perubahan arah transaksi investor asing. Sepanjang 7–11 September 2026, investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell Rp3,36 triliun.

Nilai transaksi beli investor asing mencapai Rp22,70 triliun, sedangkan transaksi jual mencapai Rp26,06 triliun. Pada pekan sebelumnya, investor asing masih mencatatkan net buy Rp2,31 triliun.

Dengan demikian, terjadi perubahan posisi transaksi asing sebesar Rp5,67 triliun secara mingguan, dari net buy menjadi net sell.

Porsi transaksi investor asing sepanjang pekan tersebut sekitar 30 persen dari total nilai perdagangan, sedangkan investor domestik menyumbang sekitar 70 persen.

Pelemahan IHSG juga berlangsung di tengah tekanan di sejumlah pasar saham global. Di kawasan Asia Pasifik, Hang Seng turun 3,30 persen, Australia All Ordinaries 3 persen, Sensex India 2,27 persen, Nikkei 225 1,55 persen, Malaysia KLCI 1,25 persen, dan Vietnam VN-Index 1,22 persen.

Tekanan juga terlihat di pasar saham Amerika Utara dan Eropa. Dow Jones turun 2,53 persen dan S&P/TSX Kanada melemah 2,76 persen. Di Eropa, Swiss Market Index turun 4,05 persen, DAX Jerman 1,96 persen, FTSE 100 Inggris 1,50 persen, dan CAC 40 Perancis 1,36 persen.

Selain indeks yang melemah, aktivitas perdagangan saham di BEI juga menyusut. Rata-rata nilai transaksi harian turun 14,88 persen menjadi Rp16,36 triliun dari Rp19,22 triliun pada pekan sebelumnya.

Rata-rata volume transaksi harian turun 26,34 persen menjadi 36,09 miliar saham dari 48,99 miliar saham. Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi turun 7,07 persen menjadi 2,22 juta kali dari 2,39 juta kali.

Dengan kombinasi tekanan saham berkapitalisasi besar, net sell investor asing, pelemahan sejumlah sektor utama, serta sentimen negatif pasar global, IHSG kehilangan 95,10 poin dalam sepekan.

Pada saat yang sama, kapitalisasi pasar BEI berkurang Rp153 triliun menjadi Rp11.446 triliun.

Mayoritas indeks sektoral bergerak melemah. Tekanan paling dalam terjadi pada:

SektorKinerja Mingguan
Consumer Cyclicals-3,17%
Technology-3,14%
Properties & Real Estate-2,62%
Financials-1,54%
Infrastructures-1,33%
Consumer Non-Cyclicals-1,32%
Energy-0,36%

Di sisi lain, Industrials naik 2,03%, Healthcare 1,49%, Basic Materials 0,22%, dan Transportation & Logistic 0,18%, tetapi penguatan tersebut belum mampu menahan penurunan IHSG.

Putra

Editor In Chief https://www.theeconopost.com/ Hubungi saya di redaksi@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com