Beda Jurus Bank Neo Commerce (IDX: BBYB) dan Aladin (IDX: BANK) ‘Kuasai’ Bank Digital
Tempias.com, JAKARTA – Potensi ekonomi digital tanah air membuat industri keuangan terus bertransformasi menjadi bank digital. Adanya perubahan kebiasaan belanja masyarakat menjadi salah satu pemicu pesatnya perkembangan ekonomi digital.
Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan, Teguh Supangkat dalam webinar Dari Bank Hybrid Menuju Bank Digital yang diselenggarakan OJK Institute pada Kamis, 17 Februari 2022 menyatakan ekonomi digital Indonesia diproyeksikan akan tumbuh 8 kali lipat dari Rp 632 triliun menjadi Rp 4.531 triliun pada 2030. Pada 2025 Indonesia diproyeksi menjadi pasar digital paling besar di seluruh negara Asia.
Menurut Teguh, ekonomi digital Indonesia pada 2021 mencapai US$ 70 miliar dengan e-commerce sebagai leading sektor. Transaksi e-commerce pada 2021 diperkirakan tumbuh 5,6 persen dan akan terus meningkat pada 2022 hingga mencapai Rp 530 triliun atau tumbuh 31,4 persen.
“Sejalan dengan perkembangan tersebut, pembayaran digital banking pada 2021 diproyeksikan naik 46,1 persen yoy dan berlanjut naik 21,8 persen hingga mencapai Rp 48,6 ribu triliun pada 2022,” jelas Teguh dalam sesi webinar.
Lebih jauh Teguh mengatakan kehadiran bank digital menjadi penopang utama dalam pertumbuhan ekonomi digital di masa mendatang. Karena itu, bank dituntut untuk terus melakukan inovasi tidak hanya untuk dalam layanan tetapi juga inovasi untuk bisa mewujudkan inklusi keuangan bagi seluruh masyarakat.

Jurus Bank Digital
Besarnya pasar digital tanah air menjadi ruang bagi bank digital untuk terus berkembang, Karena itu sejumlah bank digital seperti Bank Neo Commerce (IDX: BBYB) dan Bank Aladin (IDX: BANK) melakukan sejumlah terobosan untuk memanfaatkan pasar digital Tanah Air.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk (IDX: BBYB) Tjandra Gunawan menyatakan perkembangan jaringan komunikasi dan internet yang makin baik menjadi modal dalam pengembangan bank digital tanah air. Apalagi, berdasarkan sensus penduduk 2020 lebih dari 70 persen penduduk Indonesia sudah ready to use untuk memanfaatkan bank digital.
Menurut Tjandra untuk mengembanngkan bank digital, hal utama yang perlu diperhatikan adalah efisiensi biaya dan ekspansi. Hal ini membuat pengembangan bank digital butuh investasi yang besar. Akibatnya, pada awal pengembangan sangat dimungkinkan bank digital mengalami kerugiaan sebagai imbas investasi untuk menyiapkan pondasi yang kuat dalam pengembangan bank digital.
“Bagi kami fondasi yang solid menjadi kekuatan untuk bisa riding the way,” ujar Tjandra
Salah satu strategi yang dilakukan Bank Neo Commerce dalam menggarap pasar bank digital adalah dengan memanfaatkan ekosistem grup Akulaku yang juga menjadi pemegang saham pengendali Bank Neo. Caranya adalah dengan memanfaatkan pengalaman Akulaku dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah.
Bank Neo Commerce juga menghadirkan aplikasi yang memberikan layanan perbankan yang mudah dan disesuaikan dengan kebutuhan keuangan masyarakat masa kini. Saat ini aplikasi Bank Neo telah mencapai lebih dari 15 juta pengguna dengan aktif user di atas 5 juta dengan total transaksi mencapai Rp 34 triliun pada akhir kuartal IV/2021.
BACA JUGA: Tancap Gas Bank Neo Commerce (IDX: BBYB) Jelang Right Issue Jumbo
Lebih lanjut, Tjandra menyatakan meski 70 persen nasabah Bank Neo terkonsentrasi di kota besar namun perusahaan tetap akan mengembangkan layanan agar bisa dijangkau seluruh masyarakat. Hal ini diawali dengan edukasi dan pengenalan kepada masyarakat luas tentang bank digital, salah satunya adalah edukasi lewat film.
Menurut Tjandra, saat ini Bank Neo tengah mensponsori film tentang grup komedi yang populer pada 80-an. Film yang dijadwalkan tayang pada Mei tahun ini, dianggap menjadi kesempatan untuk mengenalkan bank digital kepada masyarakat.
“Kami mensponsori film tersebut dan beberapa film kecil tidak hanya untuk jualan tetapi juga untuk edukasi karena kami mau memberdayakan customer agar lebih sejahtera. This is not just about bisnis but also about education.”
Berbeda dengan Bank Neo, Direktur Utama PT Bank Aladin Syariah Tbk (IDX: BANK) Dyota Marsudi menyatakan perusahaannya menyasar market syariah untuk memanfaatkan populasi masyarakat Indonesia yang didominasi oleh kelompok muslim. Selain itu Aladin juga menyasar kelompok underbank, unbank dan UMKM.
Untuk bisa menjangkau market underbank, unbanked dan UMKM ini menurut Dyota Aladin menggandeng jaringan ritel Alfamart yang dianggap bisa menjangkau masyarakat luas dengan lebih dari 18 ribu toko yang tersebar di Indonesia. Kerjasama dengan Alfamart dilakukan untuk memudahkan pelanggan mengakses layanan Aladin dengan adanya layanan offline dan bantuan dari petugas Alfamart,
‘Walaupun kami digital bank kami mengadopsi sistem yang sangat simple agar mudah digunakan. Kami membangun trust bahwa masyarakat bisa dengan mudah menemukan Aladin dengan datang ke Alfamart.”
Hal lain yang dilakukan adalah kerjasama dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk membantu masyarakat dalam mengelola dana rencana haji dan juga wakaf. Dengan strategi ini, Bank Aladin memastikan bahwa perusahaan lebih mengedepankan layanan kepada nasabah dibanding pengembangan superapp. (Ira Guslina)
