HeadlineIHSG

Ada Crazy Rich, Bank Neo Commerce (IDX: BBYB) Bersiap Right Issue Lagi

Tempias.com, JAKARTA – Aksi korporasi rights issue V PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) telah rampung pada 2021 lalu. Gelaran tambah modal jumbo dengan target Rp 2,5 triliun itu berhasil melewati rencana yang ditetapkan. Bahkan perusahaan mencatat terdapat kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar Rp 882,5 miliar. 

Seperti diketahui, right issue BBYB menerbitkan 1,92 miliar lembar saham baru dengan nilai pelaksanaan Rp 1.300.

Dalam keterangan tertulisnya, Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan mengatakan keberhasilan right issue itu tidak lepas dari transformasi perusahaan dalam 10 bulan terakhir untuk memperkuat bank digital.

“Raihan ini penting karena berarti Bank Neo Commerce telah berhasil meraih modal inti melebihi dari ketentuan yang dipersyaratkan oleh OJK,” ujar Tjandra Gunawan dalam keterangan tertulis pada 22 Desember 2021 lalu. 

Pelaksanaan right issue telah mengokohkan posisi Akulaku Silver Indonesia sebagai pengendali Bank Neo. Berdasarkan data per  14 Desember 2021 pemegang saham utama PT Akulaku Silvrr Indonesia mencatatkan kepemilikan sebesar 24,98 persen. Diikuti PT Gozco Capital 15,64 persen, Rockcore Financial Technology Co. Ltd 6,12 persen, Yellow Brick Enterprise Ltd. 5,17 persen, dan sisanya pemegang saham publik 48,08%.

Akulaku masuk menjadi pemegang saham mulai 2019 dan pada 2020. Bank Neo Commerce bertransformasi menjadi bank digital dimulai dengan pergantian nama bank diikuti dengan pengukuhan Bank Neo menjadi Bank Buku II oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK).

Pelaksanaan right issue juga membawa sejumlah nama masuk dalam jajaran pemilik saham individu Bank Neo. Sejumlah konglomerat disebut-sebut mengantongi saham BBYB seperti bos Provindent Capital, Winato Kartono. 

Mengenai munculnya sejumlah crazy rich di belakang right issue V Bank Neo ini, sebelumnya sempat diumumkan perusahaan dalam keterbukaan informasi pada Rabu 12 Januari 2022. Namun keterbukaan ini ditarik kembali.  

Head of Corporate Secretary Bank Neo Commerce Agnes Fibri menyatakan keterbukaan informasi mengenai laporan pelaksanaan hasil penjatahan saham sehubungan dengan PMHMETD V sudah tidak tersedia.  

“Data pada Keterbukaan Informasi pada tanggal 12 Januari 2022 sudah tidak tersedia karena tidak menggambarkan keadaan terkini,” jelas Agnes kepada Tempias.com, Minggu, 16 Januari 2022. 

 

BACA JUGA: Pemilik Adaro (IDX: ADRO) & Adaro Minerals (IDX: ADMR), Inilah 4 Keluarga Crazy Rich di Belakangnya

Bersiap Right Issue Lagi

Seiring dengan suksesnya pelaksanaan PMHMETD V, Bank Neo Commerce kini bersiap mengebut kinerja pada 2022. Dalam keterangan terbarunya, 12 Januari 2022, Direktur Utama BBYB mengatakan bahwa per akhir tahun lalu perusahaan telah memiliki ekuitas Rp 2,8 triliun. Jumlah ini sudah di atas ketentuan OJK pada 2021. 

Meski begitu, Tjandra mengatakan Bank Neo akan terus meningkatkan ekuitas untuk memenuhi ketetapan OJK untuk 2022 yang mengharuskan modal inti tier I bank umum sebesar Rp 3 triliun. 

“Untuk pemenuhan modal inti minimum Rp 3 triliun pada tahun 2022 sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB), perseroan akan melaksanakan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHETD) VI dengan proyeksi dana yang diperoleh sebesar Rp 5 triliun,” kata Tjandra. 

Dia menjelaskan aksi korporasi ini akan dilaksanakan dalam waktu dekat dengan estimasi pada triwulan I/2022. Pemenuhan modal inti minimum ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja usaha Bank baik operasional dan keuangnan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan fasilitas pembiayaan dan layanan digital perbankan. (Ira Guslina)

 

Update:

Laporan ini telah direvisi pada Minggu, 16 Januari 2022 pukul 17.25 sehubungan dengan adanya fakta baru mengenai penarikan keterbukaan informasi tentang laporan informasi atau fakta material laporan pelaksanaan hasil penjatahan saham sehubungan dengan PMHMETD V BBYB dari website Bursa Efek Indonesia. 

 

 

Putra

Editor In Chief https://www.theeconopost.com/ Hubungi saya di redaksi@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com