Seberapa Besar Cukai Menyumbang APBN 2026? Ini Angkanya
TheEconopost.com, Cukai menjadi sumber penerimaan terbesar dalam kelompok kepabeanan dan cukai yang masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga Agustus 2026, penerimaan cukai mencapai Rp148,7 triliun atau sekitar 70,7 persen dari total penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp210,2 triliun.
Dalam paparan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam paparan APBN Kita hari ini, Jumat, 18 Agustus 2026 menunjukkan besarnya peran cukai dalam penerimaan negara dari aktivitas perdagangan dan konsumsi barang kena cukai.
Secara keseluruhan, penerimaan kepabeanan dan cukai hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp210,2 triliun. Realisasi itu setara dengan 62,6 persen dari target APBN dan tumbuh 7,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp194,9 triliun.
Lalu, sebenarnya seberapa besar sumbangan cukai terhadap APBN?
Cukai merupakan pungutan negara yang dikenakan terhadap barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam undang-undang. Dalam praktik penerimaan kepabeanan dan cukai, komponen ini antara lain berasal dari cukai hasil tembakau serta minuman mengandung etil alkohol.
Berdasarkan data hingga Agustus 2026, cukai menyumbang Rp148,7 triliun. Nilai tersebut meningkat 3,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp144,0 triliun.
Dengan realisasi Rp148,7 triliun, cukai menjadi komponen terbesar dalam penerimaan kepabeanan dan cukai. Kontribusinya mencapai sekitar 70,7 persen dari total penerimaan Rp210,2 triliun.
Sementara itu, penerimaan dari bea masuk mencapai Rp36,4 triliun atau sekitar 17,3 persen dari total penerimaan kepabeanan dan cukai. Penerimaan bea masuk tumbuh 13,0 persen dari Rp32,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun bea keluar mencapai Rp25,1 triliun atau sekitar 11,9 persen dari total penerimaan. Nilai ini menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 34,4 persen dari Rp18,7 triliun.
Dengan demikian, dari setiap Rp100 penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Agustus 2026, sekitar Rp71 berasal dari cukai, Rp17 dari bea masuk, dan Rp12 dari bea keluar.
Pertumbuhan penerimaan cukai sendiri tidak sebesar pertumbuhan bea masuk dan bea keluar. Cukai tumbuh 3,2 persen secara tahunan, sedangkan bea masuk tumbuh 13,0 persen dan bea keluar 34,4 persen.
Pada awal tahun, penerimaan secara akumulatif masih mengalami kontraksi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CUKAI PENYUMBANG TERBESAR, BEA KELUAR TUMBUH TERTINGGI
| Komponen | Jan–Ags 2025 | Jan–Ags 2026 | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Cukai | Rp144,0 triliun | Rp148,7 triliun | 3,2% |
| Bea masuk | Rp32,2 triliun | Rp36,4 triliun | 13,0% |
| Bea keluar | Rp18,7 triliun | Rp25,1 triliun | 34,4% |
| Total | Rp194,9 triliun | Rp210,2 triliun | 7,8% |
TREN PENERIMAAN CUKAI
Realisasi akumulatif sejak Januari hingga bulan bersangkutan, dalam Rp triliun.
| Bulan | 2025 | 2026 | Pertumbuhan tahunan |
|---|---|---|---|
| Januari | 26,3 | 22,6 | −14,0% |
| Februari | 52,6 | 44,9 | −14,7% |
| Maret | 77,6 | 67,9 | −12,6% |
| April | 100,0 | 100,6 | 0,6% |
| Mei | 122,9 | 123,8 | 0,7% |
| Juni | 147,0 | 152,0 | 3,4% |
| Juli | 171,1 | 182,6 | 6,7% |
| Agustus | 194,9 | 210,2 | 7,8% |
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami, dukung kami dengan membeli berita ini sesuai keinginan Anda. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. ![]() Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi eksklusif sesuai kebutuhan. |

