FokusHeadlineIHSG

Saham BBYB, Menakar Prospek dan Kinerja di Tengah Volatilitas Transaksi

Tempias.com- JAKARTA- PT Bank Neo Commerce Tbk  (IDX: BBYB) tercatat sebagai salah satu emiten dengan frekuensi perdagangan teraktif di Bursa Efek Indonesia selama perdagangan 12-16 Juli 2021. Data BEI mencatat terdapat 23.442 kali transaksi dengan market cap Rp168,98 miliar.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 16 Juli 2021 lalu, harga saham BBYB ditutup pada Rp635,-. Nilai ini meningkat dari perdagangan 18 Juni 2021 pada angka Rp424,- 

Pekan sebelumnya, pergerakan saham BBYB juga menunjukkan volatilitas transaksi yang tinggi. BEI mencatat terjadi peningkatan transaksi sebanyak 319.789.800, dengan frekuensi 25.589 kali dibanding hari bursa sebelumnya dengan transaksi 29.788.500 saham dengan frekuensi 3.243 kali. 

Berdasarkan informasi di keterbukaan pada 15 Juli 2021, PT Asabri (PERSERO)  telah melepas 18 juta lembar saham dari dari sebelumnya 963,125,590 lembar menjadi  945,125,59 lembar. 

Dalam kurun waktu 2 Juli 2021 hingga 14 Juli 2021, Asabri telah melepas 48.814.500 lembar kepemilikan saham BBYB. Dengan begitu kepemilikan Asabri menjadi 12,61 persen dari sebelumnya 12,85 persen. 

Sejak awal tahun Asabri memang gencar melakukan aksi jual saham seiring upaya penyelamatan yang tengah dilakukan di internal perusahaan. Asabri tercatat aktif melepas saham sejak kasus Jiwasraya meledak 

Saham BBYB
Perdagangan BBYB dalam kurun 18 Juni- 16 Juli

Terkait adanya volatilitas transaksi ini, sebelumnya dalam keterbukaan informasi tertanggal 12 Juli 2021, Direktur Utama Bank Neo Commerce (IDX: BBYB), Tjandra Gunawan mengatakan pihaknya tidak memiliki informasi apapun terkait adanya volatilitas transaksi di bursa. 

“Perseroan tidak mengetahui adanya aktivitas dari Pemegang Saham tertentu sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa keuangan Nomor 11/POJK.04/2017 tentang Laporan Kepemilikan atau Setiap Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka karena Pemegang Saham Perseroan tidak memiliki kewajiban untuk menginformasikan segala jenis aktivitasnya terkait transaksi saham dan lainnya kepada Emiten,” tulis Tjandra. 

Meski begitu, Tjandra menyebutkan bahwa dalam tiga bulan ke depan perusahaan berencana melaksanakan aksi korporasi melalui Penawaran Umum Terbatas (PUT) V kepada para Pemegang Saham dengan Hak Memesan Terlebih Dahulu (HMETD) atau Right Issue. . 

Right Issue Lagi, BBYB Terus Tambah Modal 

Manajemen Bank Neo Commerce telah mengumumkan, pada Right Issue kali ini perusahaan akan  melepas saham sebanyak-banyaknya 5.000.000.000 (lima miliar). Jumlah ini sesuai  saham sesuai dengan Risalah RUPS-LB Perseroan yang diumumkan kepada Sistem Pelaporan Elektronik IDXnet pada 2 Juni 2021. 

Sebelumnya, Tjandra menyebutkan selama semesterII/2021 BBYB menargetkan akan melakukan dua kali right issue dengan target bisa meraup Rp4 triliun. Right issue pertama akan dilakukan pada awal Kuartal III/2021 melalui PUT V dengan target bisa meraup dana Rp1,5 triliun sampai Rp2 triliun. 

Pada Juni 2021, BBYB baru saja merampungkan penambahan modal terbatas (PUT IV) melalui lewat Right Issue dengan mengantongi dana Rp 250 miliar.  Dana yang terkumpul dari Right Issue akan digunakan untuk meningkatkan permodalan untuk mendukung rencana dan investasi bisnis Bank Neo Commerce. 

Saat ini Bank Neo Commerce  terus melakukan transformasi menjadi bank digital seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di masyarakat dan kebutuhan nasabah. Perusahaan akan terus berkolaborasi dengan Akulaku yang menjadi pemegang saham pengendali Bank Neo. 

Selain itu BBYB juga terus mengembangkan kerjasama dengan group besar Alibaba sebagai investor Akulaku serta melanjutkan kerjasama yang sudah dijalin dengan Sunline, Tencent, Alicloud, Huawei dan Arrash untuk  mengembangkan infrastruktur bank digital. 

 

Baca Juga : Bank Syariah Indonesia (IDX: BRIS) Gelar RUPS 24 Agustus 2021, Siapa Investor yang Bisa Ikut?

 

Seiring dengan kebutuhan pasar tanah air, saat Bank Neo telah mengembangkan layanan digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti top up, utility, makanan dan minuman, transportasi dan layanan lewat direct debit payment dan QR Payment. 

Bank Neo Commerce (BBYB) juga tercatat aktif menggandeng P2P lending  menyasar pembiayaan produktif seperti kerjasama dengan Crowdo, Esta Kapital, Restock.id, dan Modal Rakyat. Sedangkan kerjasama untuk pembiayaan konsumtif dilakukan dengan finmas dan kredito. 

Saat ini kepemilikan saham Bank Neo Commerce (BBYB) masih dipegang oleh PT Gozco Capital dengan kepemilikan sekitar 20,13 persen, PT Akulaku Silvrr Indonesia dengan kepemilikan 24,9 persen saham, PT Rockcore Financial Technoloy, Ltd dengan 6,12 persen dan Yellow Brick Enterprise Ltd dengan 11,1 persen kepemilikan saham.

Bila melihat kinerja keuangan, hingga 31 April 2021 BBYB mencatatkan aset dengan total senilai Rp 5,91 triliun. Sementara dana pihak ketiga tercatat Rp 4,35 triliun dan total penyaluran kredit Rp 3,76 triliun. Selain itu perusahaan mencatat total ekuitas Rp 1,07 triliun.

Putra

Editor In Chief https://www.theeconopost.com/ Hubungi saya di redaksi@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com