Profil Putera Sampoerna, Konglomerat yang Memilih Hengkang dari BEI dengan Menjual SGRO Hingga HMSP
TheEconopost.com, Aksi korporasi mengejutkan dilakukan oleh konglomerat gaek Putera Sampoerna. Crazy rich kelahiran 1947 itu memutuskan keluar dari Bursa Efek Indonesia dengan menjual entitas kelapa sawit sekaligus emiten terakhir yang dimilikinya.
Dalam pernyataan resmi perusahaan, perusahaan kelapa sawit yang sedang bertransformasi menjadi holding, PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) dijual kepada AGPA Pte. Ltd., anak perusahaan Posco International Corporation.
“Kami sangat bersyukur karena telah menemukan rumah baru bagi SGRO. Kami yakin, pemilik baru akan menjadi rumah yang baik bagi para pegawai dan membawa SGRO pada prospek pertumbuhan bisnis yang lebih baik ke depan,” ujar Presiden Direktur Grup Sampoerna Bambang Sulistyo dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 20 November 2025.
Tidak dijelaskan berapa nilai transaksi ini. Meski demikian, dalam data perdagangan kemarin (19/11/2025) terjadi transaksi jumbo saham SGRO senilai Rp9,44 triliun dengan Harga ata-rata Rp7.903/saham.
Twinwood Family Holdings Limited sebagai pemegang 65,71% saham terkonfirmasi menjual seluruh kepemilikanya kepada Posco. Berdasakan laporan tahunan, Twinwood beralamat di Dubai, UEA. Entitas ini baru memegang saham SGRO sejak 27 Agustus 2025 dengan harga perolehan Rp1.960 per helai dari Sampoerna Agri Resources Pte. Ltd.
Artinya, Twinwood merupakan perusahaan afiliasi Sampoerna Agri dengan pemilik manfaat akhir Putera Sampoerna mendapatkan multibagger dalam 1 tahun sejak transaksi pemindahan kepemilikan.
Bambang menyebut meski menjual SGRO, Grup Sampoerna akan tetap berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia melalui lini bisnis strategis lainnya seperti PT Bank Sahabat Sampoerna, Sampoerna Kayoe, hingga PT Sampoerna Land.
Aksi jumbo Putera Sampoerna sendiri bukan pertama kali. Pada 2005, Langkah serupa dilakukan melalui penjualan saham pabrik rokok Sampoerna (HMSP) kepada Philip Morris International dengan nilai waktu itu sekitar Rp40 triliun. (dengan menghitung inflasi hingga suku bunga, nilai penjualan ini setara dengan Rp110-Rp120 triliun nilai hari ini). Divestasi ini juga diikuti pelepasan Alfamart (AMRT) oleh Philip Moris kepada Djoko Susanto yang ditopang Northstar yang didirikan oleh menantu TP Rachmat, Patrick Walujo.
Lalu Bagaimanakan Profil Putera Sampoerna?
Putera Sampoerna dikenal sebagai generasi ketiga keluarga Sampoerna yang membawa PT HM Sampoerna Tbk memasuki fase modernisasi. Lahir di Schiedam, Belanda, pada 13 Oktober 1947, ia merupakan cucu pendiri usaha, Liem Seeng Tee, perantau asal Fujian, Tiongkok, yang merintis pabrik rokok kretek lewat merek Dji Sam Soe pada awal abad ke-20.
Mengenyam pendidikan di Hong Kong, Melbourne, dan University of Houston, Amerika Serikat, Putera kemudian kembali ke Asia Tenggara dan sempat mengelola usaha perkebunan kelapa sawit di Singapura. Ia menikah dengan Katie, perempuan keturunan Tionghoa-Amerika, dan dikaruniai empat anak: Jonathan, Jacqueline, Michael, dan Farah.
Putera bergabung dengan HM Sampoerna pada 1986 dan menjadi CEO pada 1988. Pada masa kepemimpinannya, perusahaan berekspansi agresif ke Malaysia, industri air minum, hingga pendidikan vokasi. Modernisasi distribusi dan strategi merek di bawah Putera menjadikan Sampoerna salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia.
Keputusan penting terjadi pada 2005 ketika Putera menjual 40 persen saham keluarga di HM Sampoerna kepada Philip Morris International. Transaksi tersebut menjadi salah satu akuisisi terbesar saat itu dan menghasilkan dana sekitar US$2 miliar. Sejak itu, Putera mengembangkan Sampoerna Strategic Group sebagai kendaraan investasi baru keluarga, dengan portofolio di telekomunikasi, perkebunan sawit, kayu, dan keuangan mikro. Grup ini kini dikendalikan oleh putranya, Michael Sampoerna.
Selain bisnis, Putera dikenal melalui kiprahnya di bidang filantropi. Ia mendirikan Putera Sampoerna Foundation (PSF), lembaga yang berfokus pada pendidikan, pemberdayaan perempuan, kewirausahaan, dan bantuan kemanusiaan. Di bawah kepemimpinan putrinya, Jacqueline Sampoerna, PSF mengembangkan model bisnis sosial dan program beasiswa yang bekerja sama dengan berbagai sekolah di Indonesia.
Berdasarkan data Forbes, pada 2024 sedikitnya Putera Sampoerna dan keluarga memiliki kekayaan bersih US$1,85 miliar atau sekitar Rp31,87 triliun.
