Manajemen HK Metals (IDX: HKMU) Temui BEI Usai Ditinggal Pengendali
Tempias.com, JAKARTA – PT HK Metals Utama Tbk (IDX: HKMU) mengalami babak baru setelah ditinggal oleh PT Hyamn Sukses Abadi yang sebelumnya menjadi pengendali perusahaan. Emiten ini kini sepenuhnya dimiliki publik dengan kepemilikan saham di atas 100 persen.
Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek yang dipublikasikan Senin, 7 Februari 2022 yang dikeluarkan biro administrasi PT Raya Saham Registra, Hyamn Sukses tak lagi memiliki saham di HKMU.
Pada Januari 2022, Hyamn masih tercatat memiliki 98,367 juta lembar saham atau setara 3,05 persen. Namun per 7 Februari 2022 jumlah saham yang digenggam Hyamn sudah nihil atau 0. Sebaliknya kepemilikan oleh publik naik dar 96,95 persen menjadi 100 persen.
Menanggapi hal ini, VP of Finance PT HK Metals Utama Andri Riyadi mengatakan perusahaan telah menyiapkan sejumlah langkah, Pagi ini Rabu, 9 Februari 2022, manajemen HKMU akan berkonsultasi dengan Bursa Efek Indonesia.
”Setelah hari ini kami diskusi dengan bursa, besok kami akan menjawab surat bursa,” jelas Andri pada Tempias.com.
BACA JUGA: Jejak Hyamn di Balik Saham HKMU jadi 100 Persen Milik Publik
Lebih jauh ia mengatakan, meski telah ditinggal oleh Hyamn yang sebelumnya menjadi pengendali HK Metals tetap akan beraktivitas seperti biasa.
“Operasional perusahaan dan anak usaha tetap berjalan normal tidak terganggu dengan isu tidak ada pemegang saham pengendali (PSP) ini,”jelas Andri lagi.
HK Metals merupakan perusahaan yang berdiri pada 13 November 2010. Kegiatan usaha Perseroan berdasarkan Akta Pendiriannya adalah perdagangan, jasa, pembangunan, dan perindustrian.
HK Metals Utama melantai di bursa pada Oktober 2018. Saat itu HKMU melepas 1,02 miliar saham baru atau setara 31,71 persen dari modal disetor. Harga pelaksanaan IPO adalah Rp 230 dengan nominal Rp 100.
Tiga tahun setelah IPO, laporan keuangan interim perusahaan yang tidak diaudit per 30 September 2021 menunjukkan HKMU masih terbelit rugi. Pada kuartal III/2021 HK Metals Utama mencatatkan rugi Rp 12,3 miliar. Jumlah ini relatif membaik dibanding periode yang sama 2020 dengan rugi Rp 66,6 miliar. Sedangkan aset menyusut dari Rp 929 miliar pada Desember 2020 menjadi Rp 911 miliar pada 30 September 2021.
Seiring dengan masih lemahnya kinerja usaha HK Metals Utama, di lantai bursa, harga saham HKMU pun terus anjlok. Pada penutupan perdagangan Selasa 8 Februari 2022, saham HKMU ditutup pada Rp 50. Nilai ini telah turun 85,71 persen dibanding harga pada saat penutupan perdagangan pertama pada 12 Oktober 2018 di harga Rp 350.
(Ira Guslina)
