HeadlineIHSG

IHSG Hari Ini 15 Oktober Diramal Masih di Bawah 6.000, Inflasi AS di Atas Ekspektasi Tekan Pasar

TheEconoPost.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (15/10/2026) setelah gagal bertahan di atas level psikologis 6.000. Inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar menambah risiko tekanan terhadap pasar saham Indonesia di tengah berlanjutnya arus keluar dana investor asing.

Pada perdagangan Rabu (14/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,39% ke level 5.948,83. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk mengembalikan indeks ke atas 6.000 setelah mengalami penolakan di area tersebut.

Tekanan juga tercermin dari aksi investor asing yang mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp104,01 miliar di pasar saham. Secara kumulatif sejak awal tahun, penjualan bersih asing mencapai Rp111,18 triliun, sementara kinerja IHSG tercatat turun 31,27%.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai aksi beli saat harga melemah atau bargain hunting mulai muncul setelah tekanan jual signifikan. Kendati demikian, pemulihan indeks masih membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga berikutnya.

Perhatian pelaku pasar pada Kamis tertuju pada rilis inflasi AS September 2026 yang lebih tinggi daripada perkiraan konsensus. Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) utama AS naik 0,6% secara bulanan dan 3,7% secara tahunan. Angka tahunan tersebut melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%.

Kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan harga bensin sebesar 9,1% secara bulanan, disertai kenaikan harga energi secara keseluruhan.

Inflasi yang lebih tinggi berpotensi mempertahankan suku bunga AS pada level tinggi lebih lama. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve pun berubah, dengan probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan 28 Oktober 2026 meningkat menjadi sekitar 32,7% berdasarkan CME FedWatch Tool.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor dua tahun menguat 0,27% ke level 4,806%. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, serta memicu arus keluar modal dari pasar domestik.

Tekanan eksternal juga datang dari kenaikan harga minyak mentah. Harga Brent naik 0,45% menjadi US$106,17 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,07% ke US$95,17 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah eskalasi serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menyasar fasilitas energi serta bandara di Riyadh dan Dhahran.

Level Kunci IHSG

Secara teknikal, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG pada Kamis cenderung variatif dan berkonsolidasi untuk mengumpulkan momentum penguatan. Indeks dinilai telah mencapai area wave (X), sehingga potensi penurunan diperkirakan terbatas selama support penting dapat dipertahankan.

Level support IHSG berada di 5.851 dan 5.647, sedangkan resistance berada di 6.016 dan 6.180.

Indikator Stochastic K_D dan relative strength index (RSI) menunjukkan sinyal positif. Namun, penurunan volume perdagangan masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai kekuatan pemulihan indeks.

IHSG masih menghadapi risiko bearish selama belum mampu menembus kembali level psikologis 6.000. Area 5.900–5.850 menjadi zona support jangka pendek yang perlu dipertahankan. Jika tekanan jual mendorong indeks menembus area tersebut, risiko pelemahan lanjutan perlu diwaspadai.

Sebaliknya, penembusan resistance 6.016 berpotensi memperbaiki momentum jangka pendek dan membuka peluang pengujian level 6.180.

Di pasar domestik, investor mulai melakukan rotasi ke saham defensif dan emiten yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Sejumlah saham teknologi dan emiten berbasis konglomerasi juga mulai menunjukkan indikasi rebound setelah mengalami tekanan jual.

Saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti BBCA, BBNI, BBRI, dan BBTN, serta saham energi dan pertambangan turut menjadi perhatian pelaku pasar. Aksi beli pada saham dengan fundamental kuat berpotensi menopang indeks, meskipun arah pasar masih dipengaruhi sentimen global.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) sebagai pilihan saham untuk perdagangan Kamis (15/10/2026).

Mirae Asset juga memberikan sejumlah rekomendasi teknikal individual.

Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dinilai berada dalam kondisi oversold. Strategi yang disarankan adalah buy on weakness pada kisaran Rp1.015–Rp1.055, dengan target harga bertahap Rp1.065, Rp1.135, dan Rp1.305. Level support berada di Rp1.015 dan Rp995.

Untuk PT Elnusa Tbk. (ELSA), Mirae Asset menyarankan penambahan posisi atau add pada kisaran Rp650–Rp675. Target harga ditetapkan pada Rp695, Rp730, dan Rp880, dengan support Rp650 dan Rp610.

Sementara itu, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) dinilai berada dalam kondisi extremely oversold. Strategi buy on weakness disarankan pada kisaran Rp1.250–Rp1.425, dengan target harga Rp1.435, Rp1.705, dan Rp2.230. Level support berada di Rp1.250 dan Rp1.090.

Dari riset IPOT Platinum Club Daily Stock Pick untuk 15 Oktober 2026, dua saham yang direkomendasikan untuk dibeli adalah PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) dan PT Indosat Tbk. (ISAT).

CBDK, yang ditutup pada harga Rp3.780, memiliki target harga pertama Rp3.920 dan target kedua Rp4.030, dengan batas cut loss di bawah Rp3.630. Rekomendasi tersebut didukung akumulasi smart money sebesar Rp3,8 miliar dan pembentukan pola candlestick long white marubozu yang disertai lonjakan volume perdagangan.

ISAT, yang ditutup pada harga Rp2.120, memiliki target harga pertama Rp2.200 dan target kedua Rp2.260, dengan batas cut loss di bawah Rp2.050. IPOT mencatat akumulasi bersih smart money sebesar Rp11,6 miliar. Arus akumulasi menguat pada sesi kedua dan mendorong harga saham ditutup di atas moving average lima hari (MA5).

Sementara MNCS Sekuritas melalui Daily Scope Wave edisi 15 Oktober 2026 memperkirakan IHSG masih berpotensi terkoreksi setelah area penguatan yang diproyeksikan sebelumnya tercapai. Meski indeks bergerak menguat, volume pembelian cenderung mengecil sehingga momentum kenaikan perlu diwaspadai.

MNCS mencatat IHSG menguat 0,29% ke level 5.943. Secara teknikal, posisi indeks diperkirakan berada pada bagian wave v dari wave a pada wave (x) dalam label hitam.

Dengan struktur tersebut, IHSG berpotensi terkoreksi ke rentang 5.744–5.794. Dalam skenario terbaik, koreksi hanya menguji area 5.897–5.940 sebelum indeks kembali menguat untuk menguji rentang 5.989–6.014.

MNCS menetapkan support IHSG pada level 5.887 dan 5.744, sedangkan resistance berada di 6.216 dan 6.296.

Selain proyeksi indeks, MNCS memberikan rekomendasi teknikal untuk empat saham, yakni PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), dan PT Indosat Tbk. (ISAT).

Saham ADMR direkomendasikan dengan strategi buy on weakness pada rentang Rp1.365–Rp1.405. Rekomendasi ini muncul setelah saham terkoreksi 3,09% ke Rp1.410 dan menunjukkan tekanan jual. Target harga ditetapkan pada Rp1.525 dan Rp1.575, dengan batas stop loss di bawah Rp1.330.

Untuk BRMS, MNCS menyarankan buy on weakness pada kisaran Rp520–Rp540. Saham tersebut menguat ke Rp555, meskipun volume perdagangan cenderung mengecil. Target harga berada di Rp615 dan Rp655, sedangkan batas stop loss di bawah Rp505.

ENRG juga masuk dalam daftar buy on weakness pada rentang Rp920–Rp935. Saham ini terkoreksi 1,06% ke Rp935 disertai tekanan jual. MNCS menetapkan target harga Rp1.010 dan Rp1.045, dengan batas stop loss di bawah Rp905.

Sementara itu, ISAT direkomendasikan dengan strategi trading buy pada rentang Rp2.060–Rp2.090. Saham tersebut menguat 3,41% ke Rp2.120 dan masih didominasi volume pembelian. Target harga ditetapkan pada Rp2.140 dan Rp2.180, dengan batas stop loss di bawah Rp2.030.

Perbedaan proyeksi teknikal antarsekuritas menunjukkan investor perlu mencermati level support dan resistance serta mengonfirmasi momentum transaksi sebelum mengambil posisi. Di tengah volatilitas pasar dan tekanan sentimen global, disiplin terhadap batas risiko tetap menjadi pertimbangan utama

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com