Adu Balap HRUM, INCO, MDKA, ANTM Kembangkan Smelter Nikel, Mana Paling Menarik?
Tempias.com, JAKARTA- Emiten yang bergerak di bidang penambangan nikel sedang berlomba mengembangkan fasilitas pengolahan smelter nikel. Yang terakhir, dilakukan anak usaha Harum Energy (IDX: HRUM), PT Harum Nickel Industry.Â
Berdasarkan keterbukaan informasi, PT Harum Nickel Industry membeli 250 ribu lembar saham baru yang dikeluarkan oleh PT Westrong Metal Industry (WMI). Transaksi atas 20 persen saham WMI ini dengan nilai US$ 75 juta atau setara Rp 1,1 triliun.
WMI adalah emiten di Indonesia yang bergerak di bidang pemurnian atau smelter nikel. Smelter milik WMI rencananya akan dibangun tahun ini di dalam Kawasan Industri Weda Bay di Halmahera Tengah, dengan kapasitas produksi tahunan 44 ribu -56 ribu ton nikel dalam bentuk feronikel atau nickel pig iron.
Direktur Utama HRUM, Ray A Gunara mengatakan tujuan transaksi yang dilakukan untuk lebih mengembangkan dan memperluas kegiatan usaha di industri nikel. Langkah ini merupakan realisasi dari strategi dan diversifikasi usaha jangka panjang perusahaan.Â
“Tidak ada dampak material dari pengambilalihan bagian saham tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan atau kelangsungan usaha perseroan,” jelas Ray dalam keterbukaan informasi yang dikutip Rabu, 11 Mei 2022.Â
Pada Desember 2021, HRUM telah mengeluarkan US$ 27,4 juta atau setara Rp 393 miliar untuk membeli 9,8 persen saham di Infei Metal Industry. Perusahaan ini juga bergerak di bidang smelter nikel.
Tak hanya HRUM, sebelumnya, PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) juga mengumumkan telah menggandeng Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd., perusahaan tambang asal China, untuk mengembangkan smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Dengan kerjasama ini, Vale akan memiliki hingga 30 persen saham proyek smelter tersebut. Sedangkan kapasitas produksi bisa mencapai 120 ribu metrik ton nikel per tahun.Â
Niat Vale mengembangkan smelter di Pomalaa ini sebelumnya telah dijajaki bersama Sumitomo. Vale menggandeng Sumitomo untuk menggelar studi kelayakan proyek tersebut. Namun kerjasama antar keduanya berhenti di tengah jalan sampai akhirnya INCO mengumumkan kerjasama dengan Zhejiang.Â
Pengembangan smelter nickel ternyata juga dilakukan oleh emiten tambang lainnya yaitu PT Aneka Tambang Tbk (IDX: ANTM) dan PT Merdeka Copper Tbk (IDX: MDKA). Antam saat ini tengah dalam penyelesaian pembangunan Smelter Feronikel di Halmahera Timur dengan kapasitas 13.500 ton.
Sedangkan MDKA telah mengumumkan pembelian atas 55 persen saham PT Hamparan Logistik Nusantara dengan nilai transaksi Rp 5,3 triliun. Hamparan Logistik disebut memiliki smelter di Indonesia Morowali Industrial Park dengan proyeksi kapasitas produksi hingga 38 ribu ton nikel per tahun.
Harga Saham Emiten Nikel
Di pasar modal, harga saham emiten nickel cukup fluktuatif seiring dengan volatilitas harga nikel di pasar global.Â
Harga saham HRUM sepanjang 2022 mencapai titik tertinggi pada Rp 14.075. Meski begitu pada penutupan perdagangan Selasa, 10 April 2022 harga HRUM turun menjadi Rp 10.250 seiring dengan longsornya IHSG. Secara year to date harga HRUM mengalami penurunan 2,38 persen atau turun 250 poin.Â
Harga saham INCO pada penutupan perdagangan kemarin juga ikut turun. Meski begitu secara year to date masih mengalami kenaikan 42,56 persen dari Rp 4.760 menjadi Rp 6.800. Harga INCO juga mencapai titik tertinggi pada Rp 8.300.
Berbeda halnya dengan harga saham ANTM yang mengalami stagnasi sepanjang 2022. Secara year to date saham ANTM hanya naik 3,42 persen dari Rp 2.340 menjadi Rp 2.420 pada penutupan perdagangan Selasa, 10 Mei 2022. Sedangkan saham MDKA naik year to date 19,57 persen dari Rp 4.030 menjadi Rp 4.830. (Ira Guslina)
