HeadlineIHSG

Gandeng China, Vale (IDX: INCO) Lepas Kendali di Kolaka Nickel Indonesia

Tempias.com, JAKARTA – Kepastian proyek  High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara oleh PT Vale Indonesia Tbk. (IDX: INCO) kembali menemui titik terang. 

Setelah partner dalam proyek ini yakni Sumitomo Metal Mining Co. Ltd (SMM) menyatakan mengundurkan diri, anak usaha INCO yakni Kolaka Nickel Indonesia mengumumkan akan masuknya pemegang saham baru. 

“Sesuai dengan rancangan pengambilalihan yang telah dibuat oleh direksi perseroan, setelah terpenuhinya seluruh persyaratan pendahuluan [Kolaka Nickel Indonesia] bermaksud untuk meningkatkan modal dasar, ditempatkan dan disetor dalam perseroan,” tertulis dalam pengumuman bertanggal 14 Oktober 2022. 

Dengan skema ini, maka Kolaka Nickel Indonesia akan menerbitkan saham baru (right issue) dan kemudian disertap sepenuhnya oleh investor baru.

“Perseroan menerbitkan sejumlah saham baru yang akan diambil bagian secara penuh oleh Hua Qi (Hong Kong) Limited,” jelas manajemen lebih lanjut. 

Dengan penyerapan saham baru oleh Hua Qi ini maka selanjutnya, kendali Kolaka Nickle Indonesia akan beralih ke entitas dari China itu.   

Sebagai konteks, laporan tahunan Vale Indonesia (IDX: INCO) 2021 mencatat, kepemilikan saham perseroan dalam Kolaka Nickel Indonesia mencapai 99,9 persen. Sedangkan total aset entitas pada akhir tahun lalu mencapai US$ 10,1 juta atau sekitar Rp 154 miliar.

Belum diperoleh cukup informasi mengenai kepemilikan Hua Qi (Hong Kong). 

Meskipun demikian, pada April 2022 lalu, Vale mengumumkan HPAL Pomalaa akan digarap bersama Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited. Saat itu perusahaan telah menandatangani Framework Cooperation Agreement yang diwakili oleh Febriany Eddy dan Bernardus Irmanto, masing-masing sebagai CEO dan CFO PT Vale dan Xuehua Chen, Pimpinan Huayou. 

Dalam kerangka kerja itu, Huayou akan membangun dan melaksanakan Proyek HPAL Pomalaa. Selanjutnya Vale akan memiliki hak untuk mengakuisisi hingga 30 persen saham Proyek HPAL Pomalaa.

Selanjutnya Proyek HPAL Pomalaa akan mengadopsi dan menerapkan proses, teknologi dan konfigurasi HPAL Huayou yang telah teruji untuk memproses bijih limonit dan bijih saprolit kadar rendah dari tambang di Pomalaa, untuk menghasilkan Produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan potensi kapasitas produksi hingga mencapai 120.000 metrik ton nikel per tahun.

Kedua pihak juga menyepakati penyelesaian proyek ini dapat dilakukan dalam 3 tahun ke depan. (Putra O Permana)

 

  

 

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com