HeadlineIHSG

Berapa Aset Danantara yang Dikelola DIM Pandu Sjahrir? Intip Nilainya Per April 2026

TheEconopost.com, PT Danantara Investment Management (DIM) melaporkan hingga 30 April 2026, total aset perusahaan mencapai Rp140,03 triliun, naik 6,09 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp131,99 triliun.

Dikutip dari keterbukaan di Bursa Singapura, pada Senin, 2 November 2026, dari jumlah tersebut, kas dan setara kas masih mendominasi dengan porsi 87,86 persen. Adapun investasi mencakup 11,88 persen dan aset lainnya 0,26 persen.

Rinciannya, hingga April 2026, nilai investasi perusahaan mencapai Rp16,63 triliun, meningkat dari Rp30 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, kas dan setara kas Rp123,03 triliun.

Dalam pengumuman yang terbit pada Juli lalu itu, pada akhir 2025 investasi DIM yang tercatat baru Rp30 miliar, sedangkan kas dan setara kas mencapai Rp131,62 triliun. Per April 2026, nilai investasi meningkat menjadi Rp16,63 triliun, sementara kas berkurang menjadi Rp123,03 triliun.

Di sisi lain, total liabilitas DIM meningkat dari Rp61,87 triliun menjadi Rp69,20 triliun. Ekuitas perusahaan relatif stabil, yakni naik dari Rp70,12 triliun menjadi Rp70,82 triliun.

Dari aktivitas usahanya, DIM membukukan laba bersih Rp705,73 miliar selama Januari-April 2026. Pendapatan bunga menjadi salah satu penopang utama dengan nilai Rp2,12 triliun. Namun, perusahaan juga mencatat rugi belum terealisasi atas investasi surat berharga Rp604,58 miliar.

Kinerja tersebut turut dipengaruhi beban operasional Rp330,56 miliar, biaya keuangan Rp1,01 triliun, amortisasi keuntungan tangguhan Rp644,23 miliar, serta keuntungan selisih kurs Rp306,03 miliar. Amortisasi keuntungan tangguhan berasal dari selisih nilai nominal Patriot Bonds dengan nilai wajarnya ketika pertama kali diakui.

Dalam strategi investasinya, prospektus menulis mengidentifikasi sejumlah proyek di sektor properti, energi, dan industri. Tiga proyek yang secara spesifik diuraikan dalam offering memorandum tertanggal 3 Juni 2026 itu adalah pengembangan akomodasi haji dan umrah di Makkah, pengolahan sampah menjadi energi listrik, serta pembangunan pabrik klor-alkali dan etilena diklorida di Cilegon.

Pada sektor properti, DIM terlibat dalam pengembangan Saudi Hospitality Developments di Makkah. Proyek ini diarahkan untuk membangun ekosistem akomodasi dan layanan bagi jemaah haji dan umrah melalui pengembangan properti dan akuisisi hotel.

Dalam proyek tersebut, DIM bertindak sebagai sponsor sekaligus pemimpin pengembangan. Namun, rencana pembentukan dana investasi properti masih menunggu persetujuan otoritas setempat. Prospektus tidak mengungkapkan nilai investasi proyek tersebut.

Di sektor energi, DIM mengembangkan program pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE) melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera). Tahap pertama mencakup tiga wilayah, yakni Bogor Raya, Denpasar Raya, dan Kota Bekasi.

Program tersebut direncanakan berlanjut ke delapan hingga 10 lokasi tambahan. Secara keseluruhan, kapasitas program diperkirakan mencapai 750 megawatt (MW). Angka tersebut merupakan proyeksi kapasitas seluruh program, bukan kapasitas pembangkit yang sudah beroperasi.

Sementara itu, di sektor industri, DIM bersama Indonesia Investment Authority (INA) menyiapkan komitmen investasi sekitar US$200 juta untuk proyek pabrik CA-EDC milik Chandra Asri di Cilegon. Nilai tersebut merupakan komitmen gabungan kedua investor.

Proyek dengan estimasi nilai US$800 juta itu mencakup pengembangan industri klor-alkali dan etilena diklorida untuk memperkuat pasokan bahan baku industri domestik. Penyaluran investasi masih bergantung pada pemenuhan persyaratan dalam perjanjian, sedangkan operasi komersial ditargetkan pada 2027.

Di luar proyek-proyek tersebut, DIM memiliki mandat investasi yang lebih luas. Strateginya mencakup investasi pasar publik melalui saham, instrumen pendapatan tetap, kas, dan instrumen jangka pendek.

DIM juga dapat melakukan investasi langsung privat melalui penyertaan ekuitas dan pembiayaan kredit, baik di dalam maupun luar negeri. Jalur lainnya adalah investasi melalui dana kelolaan yang mencakup properti, infrastruktur, private equity, private credit, dan aset alternatif.

Prospektus menyebutkan DIM telah menempatkan investasi pada dana properti dan private equity di luar Indonesia. Namun, dokumen tersebut tidak merinci nama dana maupun nilai penempatannya.

Seluruh strategi investasi diarahkan pada delapan sektor prioritas, yaitu mineral; energi terbarukan dan energi; infrastruktur digital; kesehatan; jasa keuangan; infrastruktur dan utilitas; kawasan industri dan properti; serta pangan dan pertanian.

Besarnya kas yang masih dimiliki DIM memberikan ruang pendanaan untuk mengembangkan portofolio tersebut. Sebagai bagian dari strategi pendanaan, perusahaan juga menyiapkan program Global Medium Term Note (GMTN) dengan plafon US$5 miliar untuk kebutuhan korporasi, termasuk investasi dan pembiayaan kembali utang. Plafon tersebut merupakan batas penerbitan surat utang, bukan dana yang telah dihimpun.

Meski demikian, pengembangan investasi DIM masih menghadapi risiko perubahan nilai aset keuangan. Pada Januari-April 2026, perusahaan mencatat rugi belum terealisasi atas investasi surat berharga Rp604,58 miliar. Selain itu, DIM baru memulai operasi komersial pada akhir Oktober 2025 sehingga rekam kinerjanya belum mencerminkan satu tahun penuh kegiatan usaha.

Laporan keuangan per April 2026 merupakan laporan interim yang tidak diaudit, tetapi telah direviu.

Danantara Investment Management (DIM) merupakan salah satu pilar operasional utama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), badan pengelola investasi negara yang diluncurkan pada Februari 2025. DIM memiliki mandat untuk menghasilkan imbal hasil investasi berkelanjutan, membangun kekayaan antargenerasi, serta menciptakan dampak ekonomi positif dan memperkuat ketahanan nasional.

Dalam menjalankan mandat tersebut, DIM mengarahkan strategi investasinya pada empat tema utama. Pertama, pengembangan produksi domestik melalui pembangunan kawasan industri yang kompetitif untuk memperkuat rantai nilai dan menangkap peluang diversifikasi pasokan. Kedua, pengembangan energi terbarukan berskala besar sebagai salah satu penopang transisi energi industri. Ketiga, peningkatan daya saing global melalui penciptaan lapangan kerja berkeahlian tinggi di sektor-sektor pertumbuhan serta investasi strategis pada aset luar negeri. Keempat, pendalaman pasar keuangan melalui pembukaan akses terhadap sumber pembiayaan alternatif.

Pelaksanaan mandat investasi tersebut dijalankan oleh jajaran Managing Director DIM yang terdiri dari Djamal Attamimi, Stefanus Ade Hadiwidjaja, Sunata Tjiterosampurno, Bono Daru Adji, dan Ali Setiawan. Sedangkan bertindak sebagai Chief Executive Officer DIM adalah Pandu Patria Sjahrir.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com