Danantara: Transisi Energi dan Hilirisasi Jadi Strategi Keluar dari Middle Income Trap
TheEconoPost.com, Danantara Development Management Fund (DDMF) menilai transisi energi dan hilirisasi menjadi strategi penting bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Kedua sektor tersebut dinilai berpotensi memperkuat ketahanan energi, mendorong industrialisasi, serta meningkatkan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.
Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund M. Rachmat Kaimuddin mengatakan, transisi energi tidak semata-mata bertujuan mengurangi emisi, tetapi juga membuka peluang untuk memperkuat perekonomian nasional melalui pengembangan industri dan penciptaan lapangan kerja.
“Transisi energi bagi Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan peluang untuk mencapai kemakmuran dan memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui transisi energi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, meningkatkan nilai ekspor melalui hilirisasi, menarik investasi, serta menciptakan industri dan lapangan kerja baru yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” ujar Rachmat dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).
Menurut Rachmat, Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar domestik yang besar untuk mengembangkan industri berbasis energi bersih. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, dan pengembangan rantai pasok agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
Peluang itu terlihat dari realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp584,1 triliun. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, nilai tersebut meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total investasi nasional sebesar Rp1.931,2 triliun.
Selain pengolahan sumber daya alam, transisi energi membuka peluang investasi pada industri kendaraan listrik, baterai, pengolahan mineral, dan manufaktur pendukung. BloombergNEF dalam Indonesia Transition Factbook 2025 memperkirakan transformasi Indonesia menuju ekonomi dengan emisi nol bersih berpotensi membuka nilai ekonomi sebesar 3,8 triliun dollar AS hingga 2050.
Di sisi ketahanan energi, elektrifikasi transportasi juga berpeluang mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil. Namun, pengembangan kendaraan listrik perlu diikuti peningkatan kapasitas pembangkit dan jaringan listrik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun industri.
Pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sebanyak 52,9 GW atau sekitar 76 persen dari tambahan kapasitas tersebut berasal dari energi baru dan terbarukan serta sistem penyimpanan energi.
Pelaksanaan rencana tersebut diperkirakan membutuhkan investasi hingga Rp2.133,7 triliun. Besarnya kebutuhan pendanaan itu membuat kesiapan proyek dan skema pembiayaan jangka panjang menjadi faktor penting untuk menarik investor ke sektor energi dan hilirisasi.
Dalam konteks tersebut, DDMF menjalankan mandat untuk mendukung pembangunan nasional melalui investasi pada proyek strategis, terutama yang berkaitan dengan ketahanan dan kedaulatan nasional, infrastruktur esensial, serta hilirisasi dan industrialisasi.
DDMF juga berperan dalam menyiapkan proyek agar layak investasi dan menarik partisipasi modal swasta. Dengan demikian, dukungan investasi tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan, tetapi juga untuk meningkatkan kepastian bagi mitra investasi.
“Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, melainkan bagaimana menyiapkan proyek yang layak investasi. DDMF akan berperan dalam pengembangan dan penyiapan proyek strategis, sekaligus berpartisipasi melalui penempatan modal. Dengan demikian, kami berharap dapat memberikan keyakinan kepada mitra investasi untuk bersama-sama mendukung pembangunan nasional,” kata Rachmat.
Integrasi transisi energi, hilirisasi, dan investasi jangka panjang diharapkan dapat memperkuat struktur perekonomian nasional, meningkatkan produktivitas, serta mendukung target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.
