Profil Thomas Oentoro, dari Citi dan INA ke Kursi Dirut Garuda Indonesia (GIAA)
TheEconopost.com, Thomas Sugiarto Oentoro dipercaya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Kamis (8/10/2026). Penunjukan tersebut membawa kembali Thomas ke posisi pengurusan Garuda setelah sebelumnya menjabat Wakil Direktur Utama sejak Oktober 2025.
Thomas menggantikan Glenny H. Kairupan yang selanjutnya menduduki posisi Komisaris Utama, menggantikan Fadjar Prasetyo. Pergantian tersebut dilakukan ketika Garuda tengah melanjutkan agenda pemulihan kinerja melalui peningkatan pendapatan, pemulihan armada, dan penyusutan kerugian.
Karier Thomas di Garuda tidak dimulai dari jajaran direksi. Sebelum menjadi Wakil Direktur Utama, ia merupakan Komisaris Independen Garuda Indonesia pada Juni 2023 hingga Februari 2024. Pengalaman tersebut membuat Thomas telah berada di dua sisi tata kelola perusahaan, yakni pengawasan dan pengurusan.
Sebelum kembali ke Garuda sebagai bagian dari jajaran direksi, Thomas menjabat Chief Risk Officer (CRO) Indonesia Investment Authority (INA) sejak Februari 2024 hingga Oktober 2025.
Pengalaman Thomas di bidang investasi dan manajemen risiko telah terbentuk jauh sebelum bergabung dengan INA. Ia berkarier di OCBC selama lebih dari delapan tahun, sejak Agustus 2015 hingga Februari 2024, dengan posisi terakhir sebagai Vice President pada Mezzanine Capital Unit.
Sebelumnya, Thomas merupakan Managing Director KV Asia Capital pada 2011–2015. Perusahaan tersebut merupakan private equity fund yang berfokus pada investasi di perusahaan menengah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Kariernya di sektor keuangan juga mencakup International Finance Corporation (IFC). Thomas menjadi Senior Investment Officer IFC sejak April 2004 hingga Agustus 2011. Ia menangani bisnis pengembangan di sektor manufaktur, agribisnis, dan jasa, serta pernah menangani portofolio infrastruktur di Vietnam, Kamboja, dan Laos.
Thomas mengawali karier profesionalnya di Citi. Selama lebih dari delapan tahun sejak September 1995 hingga Maret 2004, ia menduduki posisi Vice President-Senior Banker. Ia terlibat dalam structured financing, termasuk export credit agency financing dan structured trade finance, serta menangani kelompok Telecom, Media and Transport.
Latar belakang tersebut membawa Thomas pada pengalaman yang panjang di bidang pembiayaan, investasi, hingga manajemen risiko. Kapabilitas tersebut menjadi bagian penting dalam pengelolaan bisnis maskapai yang membutuhkan keputusan investasi dan pembiayaan sejalan dengan kebutuhan operasional.
Thomas menempuh pendidikan bidang keuangan di NYU Stern School of Business. Ia kemudian meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Chicago Booth School of Business.
Di bawah kepemimpinan barunya, Garuda menghadapi agenda untuk menjaga kesinambungan pemulihan bisnis. Pada semester I 2026, Garuda Indonesia Group mencatat pendapatan US$1,80 miliar, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi US$113 juta. Sementara itu, laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT tumbuh 12,7 persen menjadi US$74 juta.
Perbaikan tersebut terjadi ketika beban avtur meningkat 43,6 persen. Dari sisi operasional, Garuda Indonesia Group mengoperasikan 104 pesawat hingga akhir Juni 2026.
Selain melanjutkan pemulihan kinerja, Thomas akan memimpin perseroan dengan susunan direksi yang turut berubah. Posisi Direktur Komersial kini diisi Alan McIntyre, yang memiliki pengalaman sebagai Executive Manager Strategy di Qantas Group serta Chief Customer and Commercial Officer di Jetstar.
Direktur Operasi ditempati Eric Ferdinand Sofyal, yang sebelumnya merupakan Direktur Operasi Citilink dan pernah menduduki sejumlah posisi operasional di Garuda Indonesia. Dina Sandri Fani mengisi posisi Direktur Human Capital & Corporate Service.
Sementara itu, Balagopal Kunduvara tetap menjabat Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Mukhtaris sebagai Direktur Teknik, dan Neil Raymond Mills sebagai Direktur Transformasi.
Pada jajaran komisaris, Glenny H. Kairupan menjadi Komisaris Utama. Dewan Komisaris juga diperkuat Jaan Albrecht dan Trey Urbahn sebagai Komisaris Independen.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami, dukung kami dengan membeli berita ini sesuai keinginan Anda. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. ![]() Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi eksklusif sesuai kebutuhan. |

