HeadlineIHSG

Rekomendasi Saham Hari Ini 8 Oktober 2026: TLKM dan INDY Jadi Pilihan di Tengah Koreksi IHSG

TheEconopost.com, Sejumlah sekuritas merekomendasikan saham pilihan pada perdagangan Kamis (8/10/2026) di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan masih derasnya aksi jual investor asing.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham PT Indika Energy Tbk. (INDY), PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Sementara itu, Indo Premier Sekuritas melalui IPOT Platinum Club memilih INDY dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).

Mandiri Sekuritas (MNCS) juga memberikan rekomendasi teknikal untuk PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan TLKM.

Pada perdagangan Rabu (7/10), IHSG ditutup melemah 0,75% ke level 6.146,72. Pelemahan terjadi setelah indeks sempat menguat pada awal perdagangan. Tekanan terutama berasal dari saham energi dan sejumlah saham berkapitalisasi besar.

MNCS memperkirakan IHSG pada perdagangan Kamis bergerak dalam rentang 6.134–6.156. Secara teknikal, support IHSG berada di kisaran 6.100–6.120, sedangkan resistance 6.200–6.240.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menetapkan level support IHSG di 6.016 dan 5.973, dengan resistance pada 6.180 dan 6.294.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan momentum rebound IHSG dari fase awal wave (X) sedang diuji di tengah koreksi. Indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif yang didukung kenaikan volume perdagangan.

Namun, arus dana asing masih menjadi perhatian. Berdasarkan data Mirae Asset Sekuritas, net foreign sell pada perdagangan Rabu mencapai Rp828,65 miliar, sedangkan secara year to date (YTD) net foreign sell mencapai Rp109,45 triliun. IHSG secara YTD tercatat turun 28,91%.

BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan IHSG yang disertai volume perdagangan besar mengindikasikan meningkatnya tekanan jual. Kondisi tersebut membuka peluang indeks memasuki fase konsolidasi.

“Selama support tersebut mampu dipertahankan, konsolidasi masih berpotensi menjadi fase base building; namun, pelemahan di bawah 6.100 akan meningkatkan risiko koreksi lanjutan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset Sapa Mentari, Kamis (8/10).

Tekanan eksternal turut berasal dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang bernada hawkish. Mayoritas pembuat kebijakan The Fed menilai kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan hingga akhir 2026 untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%.

Namun, pasar memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28–29 Oktober. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah serta komentar sejumlah pejabat The Fed turut menekan ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober.

Di pasar global, Dow Jones Industrial Average melemah 0,66% ke 51.179,87 pada Rabu. S&P 500 turun 0,22% menjadi 7.801,77 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,22% ke 27.538,69.

Yield US Treasury 10 tahun juga masih tinggi. Mirae Asset mencatat yield Treasury 10 tahun naik 0,34% menjadi 5,286%, sedangkan harga minyak Brent meningkat 0,33% menjadi US$101,29 per barel.

Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter bank sentral.

Dari dalam negeri, sentimen positif berasal dari kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 5,2% untuk 2026 dari sebelumnya 4,7%. FTSE Russell juga mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List.

Mirae Asset menilai keputusan FTSE tersebut mengurangi risiko downgrade atau keluarnya Indonesia dari kelompok pasar berkembang, meskipun belum cukup kuat untuk membalikkan arus dana asing.

Rekomendasi Saham

IPOT Platinum Club merekomendasikan TLKM pada harga Rp2.310 dengan target harga pertama Rp2.420 dan target kedua Rp2.540. Batas cut loss ditetapkan di bawah Rp2.250.

IPOT menyebut TLKM menunjukkan sinyal bottom reversal dengan akumulasi smart money sekitar Rp33 miliar. Saham tersebut juga untuk pertama kalinya ditutup di atas MA5 dalam tiga minggu terakhir.

Untuk INDY, IPOT menetapkan harga acuan Rp2.730 dengan target pertama Rp2.860 dan target kedua Rp3.000. Cut loss ditetapkan di bawah Rp2.600.

INDY disebut mencatat akumulasi smart money selama empat hari berturut-turut dan harga masih bertahan di atas support MA20.

BRI Danareksa Sekuritas memasukkan INDY, KAEF, dan INDF dalam daftar stock pick perdagangan Kamis.

Sementara itu, MNCS memberikan rekomendasi teknikal BIPI, DEWA, HRTA, dan TLKM.

Mirae Asset menyarankan investor mengakumulasi saham dengan fundamental solid, neraca sehat, prospek pertumbuhan yang jelas, serta likuiditas perdagangan yang baik. Strategi tersebut perlu disertai manajemen risiko yang disiplin di tengah tingginya volatilitas pasar.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com