Emiten Komponen Crazy Rich TP Rachmat (DRMA) Update Teknologi Baterai Kendaraan Listrik
TheEconopost.com, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), emiten komponen otomotif yang terafiliasi dengan konglomerasi Triputra Group milik Theodore Permadi (TP) Rachmat, mulai mempertajam bisnis ke sektor energi untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik. Perseroan memperkenalkan Battery Energy Storage System (BESS) pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
Produk yang diperkenalkan DRMA berupa All-in-One Battery Energy Storage System, yakni perangkat penyimpanan energi yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan kelistrikan. Selain sebagai cadangan listrik, BESS dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengisian daya kendaraan listrik dan menyimpan energi yang berasal dari panel surya. DRMA sendiri sudah dari 2022 bergerak di segmen baterai kendaraan listrik ini.
Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan, pengembangan BESS merupakan bagian dari upaya perseroan membangun ekosistem bisnis kelistrikan di tengah perkembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan.
“Didesain sebagai solusi penyimpanan energi yang dapat diandalkan, efisien, dan berkelanjutan, BESS diproduksi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di perumahan, perbelanjaan, maupun industri. Terlebih untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan kendaraan listrik,” kata Irianto dalam keterangan pers dikutip Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurut Irianto, BESS memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mudah dipasang, memiliki daya tahan panjang, dan dapat diintegrasikan dengan sumber energi tenaga surya. Pemanfaatan energi terbarukan tersebut diharapkan dapat menekan biaya energi yang harus ditanggung pengguna.
Bagi DRMA, masuk ke bisnis BESS menjadi langkah lanjutan dari bisnis utama perseroan sebagai produsen komponen otomotif. Perseroan sebelumnya telah mengembangkan dan memproduksi sejumlah komponen yang berkaitan dengan kendaraan listrik.
Ekspansi tersebut menunjukkan upaya perusahaan komponen otomotif untuk memperluas rantai bisnis seiring perubahan teknologi kendaraan dari mesin pembakaran internal menuju kendaraan berbasis listrik. Dalam ekosistem tersebut, kebutuhan tidak hanya mencakup kendaraan dan komponennya, tetapi juga infrastruktur pendukung, termasuk penyimpanan dan pengelolaan energi.
DRMA menilai BESS memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan sekadar sumber listrik cadangan. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan.
“Tidak berlebihan kiranya kalau kami melihat bahwa BESS akan memiliki peran untuk ekosistem kendaraan listrik di masa depan,” ujar Irianto.
Perseroan juga berharap pengembangan BESS dapat berkontribusi terhadap penguatan industri manufaktur dalam negeri. Pengembangan produk tersebut diarahkan untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekaligus membangun rantai pasok nasional.
Memperluas Bisnis Komponen
Dharma Polimetal merupakan perusahaan induk Dharma Group yang berdiri sejak 1989. Perseroan bergerak dalam manufaktur komponen otomotif untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Dharma Group merupakan bagian dari Triputra Group, kelompok usaha yang didirikan oleh salah satu orang terkaya Indonesia TP Rachmat. DRMA menjadi salah satu perusahaan yang menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis grup di sektor manufaktur otomotif.
Produk yang diproduksi Dharma Group antara lain komponen kendaraan, wiring harness dan komponen kelistrikan, produk plastik, alat potong presisi, serta pipa knalpot. Produk-produk tersebut dipasok kepada sejumlah produsen otomotif besar, seperti Honda, Hyundai, Toyota, dan Suzuki.
Seiring perubahan industri otomotif, Dharma Group juga mulai mengarahkan pengembangan bisnis pada komponen kendaraan listrik. Digitalisasi rantai proses bisnis dan pengembangan komponen kendaraan listrik menjadi bagian dari strategi perseroan menghadapi perubahan teknologi industri otomotif.
Berdasarkan komposisi pemegang saham per 31 Desember 2025, PT Dharma Inti Anugerah menjadi pemegang saham terbesar DRMA dengan kepemilikan 47,60 persen. Selanjutnya, PT Triputra Investindo Arya memiliki 14,16 persen saham.
Irianto Santoso tercatat memiliki 5,10 persen saham DRMA, sedangkan sisanya dimiliki sejumlah pemegang saham, termasuk publik.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami—bebas klikbait, bebas tekanan politik, dan fokus pada hal-hal penting di pasar dan ekonomi—dukung kami dengan membeli berita yang Anda suka sesuai keinginan. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. Mari jaga berita berkualitas tetap hidup dan bisa diakses semua orang. Bayar Sekarang – Sesuai Keinginan Anda!. ![]() Cukup scan QR code yang tersedia, dan terus nikmati informasi terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda. Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi tajam, terpercaya, dan eksklusif sesuai kebutuhan. |

