Sosok

Simarba Atong Tjia, Pendiri Bigland-Napolly Cahaya Buana Group Olympic Furniture Berpulang

TheEconopost.com, Pengusaha sekaligus pendiri Olympic Furniture dan Cahaya Buana Group (CBG) Simarba Atong Tjia berpulang. Sosok yang dikenal sebagai salah satu pengusaha nasional di industri furnitur tersebut meninggalkan jejak panjang di dunia usaha, sekaligus kegiatan sosial dan pendidikan.

Simarba Atong Tjia, atau yang akrab disapa Pak Atong, dikenal sebagai pendiri Olympic Furniture dan Cahaya Buana Group. Ia merupakan kakak-beradik dengan Au Bintoro-Edi Mulyanto (13 bersaudara) dalam membesarkan grup. Melalui kelompok usaha tersebut, ia mengembangkan bisnis furnitur dan produk rumah tangga yang dipasarkan di berbagai wilayah Indonesia.

Bisnis CBG antara lain mencakup produk furnitur plastik merek Napolly, spring bed Bigland, kasur busa Bola Dunia dan Big Foam, serta produk panel knockdown A Panel. Jaringan distribusinya menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu produk yang dikembangkan di bawah kepemimpinannya adalah sofa plastik knockdown Napolly bermotif rotan. Pada 2019, Atong menyebut penjualan produk tersebut telah mencapai 7,5 juta unit, melampaui target awal 6 juta unit.

Produk tersebut telah didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia dan diekspor ke Timur Tengah. Atong saat itu melihat peluang pasar produk furnitur plastik masih besar, terutama di luar Jawa.

Di balik kiprahnya sebagai pengusaha, Atong dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan dan pembangunan daerah asalnya. Ia merupakan putra kelahiran Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Meski bisnisnya berkembang secara nasional, Atong tidak melupakan kampung halamannya. Atas kontribusi dan dedikasinya terhadap pembangunan Indragiri Hilir, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir menganugerahinya Sri Gemilang Award 2018.

Perhatian Atong terhadap pendidikan di daerah asalnya juga diwujudkan melalui program “Napolly untuk Sang Juara”. Dalam program tersebut, ia memberikan uang tunai dan meja belajar kepada pelajar berprestasi tingkat SMP, SMA, dan SMK di Pulau Kijang.

Menariknya, dalam kegiatan tersebut Atong secara khusus mengundang teman-teman sekelasnya saat masih bersekolah dasar di Reteh. Hal itu menjadi salah satu gambaran kedekatannya dengan kampung halaman meski telah lama membangun usaha hingga tingkat nasional.

Atong juga pernah memberikan kuliah umum mengenai kewirausahaan kepada mahasiswa Universitas Islam Indragiri di Tembilahan. Ia dikenal tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga membagikan pengalaman kewirausahaan kepada generasi muda.

Selain mengembangkan industri furnitur, Atong pernah menyampaikan ketertarikannya untuk mengembangkan industri berbasis sabut kelapa di Indragiri Hilir. Menurut dia, sabut kelapa memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan industri, termasuk untuk produk spring bed.

“Ini sangat potensial. Sayang sekali sabut-sabut kelapa di Inhil yang sangat banyak itu, sampai hari ini hampir belum diberdayakan secara maksimal,” kata Atong dalam salah satu kesempatan.

Di dunia usaha, kiprah Atong juga mendapat sejumlah penghargaan, antara lain International Development Citra Award 2001-2002 dan Indonesia Wow Brand 2018.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang aktif mendorong inovasi produk. Salah satunya melalui pengembangan furnitur plastik knockdown yang dirancang praktis dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Produk sofa plastik knockdown Napolly bahkan mendapat penghargaan sebagai sofa plastik knockdown bermotif rotan pertama di Indonesia. Produk itu menggunakan material polypropylene dan dirancang agar mudah dibongkar-pasang, tahan air, serta mudah dirawat.

Keluarga yang Ditinggalkan

Simarba Atong Tjia meninggalkan istri, Herawati Koseng Weng, serta keluarga besar.

Anak-anak Simarba Atong Tjia dan Herawati Koseng Weng yang tercantum dalam pengumuman duka adalah Mirawati Tjia, Joko Susilo Tjia, Polyman Tjia, dan Casmi Yanto Tjia.

Sementara itu, nama-nama menantu yang tercantum dalam pengumuman tersebut adalah Hanutama Cahya Rahardja, Helen Satrya, dan Lorensia Sanvira Santoso.

Simarba juga meninggalkan cucu, yakni Abigail Chrissanti Heraldine Tjia, Elsheva Orlin Tjia, Grace Tjia, Rafellea Candice Tjia, Charlie Tjia, dan Evron Leif Tjia.

Jenazah Simarba Atong Tjia disemayamkan di Grand Heaven, Ruang 110, 111, dan 112, Jalan Pluit Raya, Penjaringan, Jakarta Utara.

Pak Atong meninggal pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Prosesi kremasi dijadwalkan berlangsung di Grand Heaven pada Selasa, 11 Agustus 2026, pukul 11.00 WIB.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com