Tokoh Properti The Ning King Tutup Usia di Singapura
TheEconopost.com, Dunia bisnis Indonesia berduka. Konglomerat properti sekaligus pendiri Argo Manunggal Group, The Ning King, tutup usia di Singapura pada usia 94 tahun. Pengusaha kelahiran Bandung pada 20 April 1931 itu dikenal sebagai pendiri kawasan Alam Sutera di Tangerang.
The Ning King meninggalkan istrinya, Lie Ang Sioe Nio, serta warisan bisnis yang membentang dari tekstil, konstruksi, hingga pengembangan kawasan terpadu. Sosok ini pernah berada dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia pada 2017 dengan nilai kekayaan sekitar US$450 juta.
Perjalanan usaha Argo Manunggal Group dimulai pada 1949 melalui perdagangan tekstil. Bisnis kemudian meluas ke sektor pertambangan, energi, perpipaan, properti, kawasan industri, hingga agrikultur. Pada 1977, The Ning King mendirikan PT Argo Pantes Tbk. (ARGO) pabrik tekstil pertamanya. Kini, bisnis tekstil grup tersebut beroperasi di Tangerang, Salatiga, Bandung, dan Semarang.
Di sektor industri, sejumlah perusahaan berada dalam naungan Industrial by Argo Manunggal (IAM), termasuk Cakrasteel, Pralon, dan Fumira yang memproduksi baja serta produk perpipaan untuk pasar nasional.

Pengembangan Alam Sutera (ASRI)
Di bidang properti, The Ning King mendirikan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) pada 1993. Berdasarkan laporan tahunan 2022, ia tercatat sebagai pemegang saham utama dan pengendali perseroan melalui PT Tangerang Fajar Industrial Estate, PT Manunggal Prime Development, dan PT Argo Manunggal Land Development.
Pengembangan Alam Sutera berawal pada 1994 dengan kawasan seluas 800 hektar di Serpong, Tangerang. Peluncuran perdana kawasan hunian tersebut mencatat penjualan lebih dari 1.100 unit dalam dua minggu. Hingga kini, kawasan Alam Sutera telah memiliki lebih dari 37 kluster hunian serta sejumlah apartemen, pusat komersial, dan fasilitas pendidikan.
Keluarga The Ning King mempercayakan pengembangan Alam Sutera kepada menantunya, Haryanto Tirtohadiguno. Haryanto, lulusan University of Missouri, memulai karier sebagai staf pemasaran di Argo Pantes sebelum memimpin pendirian ASRI pada 1993. Ia kemudian menjabat sebagai Direktur Utama ASRI, Komisaris, hingga kembali memimpin dan akhirnya menjadi Komisaris Utama sejak 2015.
Selain Alam Sutera, ASRI juga mengembangkan kawasan mandiri Suvarna Sutera di Tangerang dengan luas 2.600 hektar. Perusahaan turut berperan dalam pembangunan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali dan mengelola aset komersial seperti Mall @ Alam Sutera, Flavor Bliss, serta sejumlah gedung perkantoran.
Lainnya keluarga konglomerat ini sebelumnya mengendalikan Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP), perusahaan pergudangan terintegrasi dengan bisnis Intirub Halim Business Park (IBP), Unilever West Distribution Center dan Li & Fung Logistics D, dan Cibatu Warehouse yang baru saja dijual ke Astra International (ASII).
Putra Ning dalam konglomerasi manunggal adalah pemilik saham terbesar pada PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) yakni pengelola kawasan industri MM2100.Â
Warisan bisnis The Ning King menjadi salah satu tonggak penting industri properti nasional, dengan kontribusi terhadap pengembangan kawasan terpadu dan infrastruktur komersial di Indonesia. Dunia usaha kini mengenang figur tersebut sebagai pelopor yang membangun kerajaan usaha lintas sektor dengan visi jangka panjang.
