HeadlineIHSG

Sorotan Auditor EY ke Lapkeu Telkom (TLKM) dan Capaian Kinerja 2024

TheEconopost.com, Kantor Akuntan Publik Wantono, Sungkoro & Surja (member Ernst and Young/EY) menyebut menjadikan evaluasi atas estimasi umur manfaat infrastruktur telekomunikasi sebagai sorotan utama dalam Laporan Keuangan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) alias Telkom.

Agung Purwanto, Akuntan Publik yang bertanggung jawab atas pemeriksaan kewajaran Lapkeu TLKM menyebut umur manfaat infrastruktur telekomunikasi yang per 31 Desember 2024 tercatat senilai Rp161 triliun atau 54% dari total aset konsolidasian. Penentuan umur manfaat ini dinilai kompleks karena melibatkan banyak faktor seperti rencana bisnis, perkembangan teknologi, serta dinamika pasar.

“Untuk menguji apakah estimasi umur manfaat infrastuktur telekomunikasi yang digunakan oleh manajemen adalah wajar, prosedur audit kami termasuk diantaranya memeroleh pemahaman tentang strategi manajemen terkait penggantian aset dan menilai kewajaran asumsi-asumsi dengan mempertimbangkan sumber eksternal,” tulis Agung dalam surat pengantar hasil audit Telkom dikutip Jumat, 18 April 2025.

Auditor menyatakan telah menguji pengendalian internal dan prosedur manajemen dalam menentukan estimasi umur manfaat tersebut, termasuk menilai kewajaran asumsi dan data pembanding dari industri.

Agung menyebut atas penyajian data yang dilakukan Telkom maka secara keseluruhan laporan keuangan tahun lalu itu dinyatakan wajar. “Menurut opini kami, laporan keuangan konsolidasian terlampir menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian Grup tanggal 31 Desember 2024, serta kinerja keuangan dan arus kas konsolidasiannya untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia,” katanya.

Laporan Keuangan Telkom 2024: Aset Tembus Rp300 Triliun, Laba Bersih Turun

Sementara itu dalam laporan keuangannya, Telkom mencatat total aset konsolidasian sebesar Rp299,68 triliun per 31 Desember 2024, naik dari Rp287,04 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan aset lancar maupun tidak lancar, termasuk kas dan setara kas yang mencapai Rp33,91 triliun.

Dari sisi kewajiban, total liabilitas Telkom naik menjadi Rp137,19 triliun dari sebelumnya Rp130,48 triliun. Sementara itu, ekuitas perusahaan meningkat menjadi Rp162,49 triliun dari Rp156,56 triliun pada 2023.

Pada kinerja, Telkom membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp30,74 triliun pada 2024, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp32,21 triliun. Dari laba ini, yang dapat diatribusikan kepada investor pemegang saham adalah Rp23,64 triliun berbanding Rp24,56 triliun di tahun 2023. Sedangkan sisanya merupakan hak pemegang saham non pengendali.

Pendapatan konsolidasian tercatat sebesar Rp149,97 triliun, sedikit meningkat dari Rp149,22 triliun pada 2023.

Penurunan laba bersih terutama dipengaruhi oleh kenaikan beban operasional dan biaya pendanaan. Beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi naik menjadi Rp41,2 triliun, sementara beban karyawan meningkat menjadi Rp16,8 triliun. Beban penyusutan dan amortisasi juga tetap tinggi di angka Rp32,64 triliun.

Di sisi lain, pendapatan dari pendanaan bersih sebesar Rp1,37 triliun dan laba kurs bersih Rp136 miliar memberi kontribusi positif terhadap laba usaha yang tercatat sebesar Rp42,99 triliun.

Kinerja positif juga terlihat dari penghasilan komprehensif lain yang berbalik positif menjadi Rp895 miliar, setelah tahun sebelumnya mengalami rugi komprehensif Rp1,45 triliun. Dengan demikian, total laba komprehensif tahun berjalan mencapai Rp31,64 triliun.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com