HeadlineIHSG

OCBC Hanya Ambil 20% Saham Great Eastern Life, Lanjutan Konsolidasi OCBC Sekuritas

TheEconopost.com, PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) resmi menyelesaikan pengambilalihan 20% saham PT Great Eastern Life Indonesia (GELI). Transaksi tersebut menjadi bagian dari pembentukan struktur konglomerasi keuangan Grup OCBC di Indonesia sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

OCBC dan Great Eastern Life Indonesia pada hari ini, Kamis, 3 September 2026 mengumumkan pengambilalihan tersebut telah selesai dan efektif pada 1 September lalu. Dalam struktur konglomerasi yang dibentuk, OCBC akan berperan sebagai Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan Operasional (PIKK), sedangkan GELI menjadi anggota konglomerasi keuangan Grup OCBC di Indonesia.

Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi ketentuan Peraturan OJK Nomor 30 Tahun 2024 tentang Konglomerasi Keuangan dan Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan atau POJK PIKK.

Pengambilalihan saham GELI oleh OCBC sebelumnya telah memperoleh sejumlah persetujuan regulator. OJK memberikan persetujuan melalui Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-368/PD.02/2026 tertanggal 21 Juli 2026 mengenai hasil penilaian kemampuan dan kepatutan PT Bank OCBC NISP Tbk. sebagai calon pengendali yang merupakan pemegang saham Great Eastern Life Indonesia.

Selain itu, OJK juga menerbitkan Surat Nomor S-41/D.05/2026 pada 27 Juli 2026 tentang persetujuan atas rencana perubahan kepemilikan Great Eastern Life Indonesia.

OCBC juga telah melakukan pemberitahuan perubahan data perseroan kepada Menteri Hukum. Penerimaan pemberitahuan perubahan data perseroan tersebut diperoleh pada 1 September 2026, yang sekaligus menandai efektifnya penyelesaian pengambilalihan.

Dengan rampungnya transaksi tersebut, struktur kepemilikan dan pengendalian dalam Grup OCBC di Indonesia disesuaikan dengan kerangka baru konglomerasi keuangan yang diatur OJK. Pengaturan ini menempatkan OCBC sebagai entitas induk operasional yang mengoordinasikan anggota konglomerasi keuangan di dalam grup.

Sebelumnya, Bank OCBC NISP juga merampungkan pengambilalihan PT OCBC Sekuritas Indonesia (PTOS) dengan nilai transaksi Rp455,201 miliar. Setelah transaksi tersebut, OCBC secara langsung menguasai 99,9999% saham perusahaan sekuritas itu.

Pengambilalihan tersebut merupakan bagian dari pembentukan struktur Konglomerasi Keuangan OCBC Group di Indonesia. Dalam struktur baru itu, PT Bank OCBC NISP Tbk. akan berperan sebagai Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK), sementara PT OCBC Sekuritas Indonesia menjadi salah satu anggota konglomerasi keuangan.

Penyelesaian transaksi ini merupakan kelanjutan dari Conditional Sale and Purchase Agreement yang ditandatangani PT Bank OCBC NISP Tbk. dan OCBC Ltd. pada 3 Juni 2026.

Proses pengambilalihan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Akta Jual Beli dan Pengambilalihan Saham PTOS Nomor 23 pada 12 Agustus 2026 oleh PT Bank OCBC NISP Tbk. dan OCBC Ltd.

Pada tanggal yang sama, perseroan juga menandatangani transaksi terkait dengan pemegang saham lainnya. PT Bank OCBC NISP Tbk. bersama PT OCBC NISP Ventura menandatangani Akta Jual Beli Saham Nomor 24, sedangkan transaksi dengan PT Farenelia Mandiri Utama dituangkan dalam Akta Jual Beli Saham Nomor 25.

Perubahan data PT OCBC Sekuritas Indonesia selanjutnya diterima dan dicatat dalam Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum RI pada 13 Agustus 2026 berdasarkan Nomor AHU-AH.01.09-0389995.

Dengan rampungnya seluruh proses tersebut, PT OCBC Sekuritas Indonesia resmi menjadi anak perusahaan yang dikendalikan oleh PT Bank OCBC NISP Tbk.

Akuisisi PTOS menjadi bagian dari penataan struktur bisnis Grup OCBC di Indonesia melalui pembentukan konglomerasi keuangan. OCBC menempatkan entitas perbankan sebagai perusahaan induk operasional yang menaungi sejumlah entitas jasa keuangan dalam grup.

Perseroan menyatakan penyelesaian pengambilalihan tersebut tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kelangsungan usaha PT Bank OCBC NISP Tbk.

Nilai transaksi Rp455,201 miliar mencerminkan besarnya langkah konsolidasi kepemilikan OCBC terhadap bisnis sekuritas di Indonesia. Dengan kepemilikan langsung mencapai 99,9999%, OCBC kini memiliki kendali hampir penuh atas PT OCBC Sekuritas Indonesia.

Sementara itu dari sisi kinerja, Bank OCBC NISP (NISP) terus memperkuat kualitas aset dan fungsi intermediasinya pada semester I/2026. Hingga Juni 2026, aset perseroan mencapai Rp323,29 triliun. Naik dari posisi Rp 308,14 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi kualitas aset, OCBC menyebut dalam kondisi terjaga dengan Kredit Bermasalah Bruto (NPL gross) yang berada di level 1,9%, sementara Loan at Risk (LaR) membaik menjadi 4,8% dari 5,5% pada tahun sebelumnya.

Pencadangan terhadap kredit bermasalah juga memadai, dengan rasio pencadangan NPL mencapai 230%. Kinerja tersebut berlangsung seiring pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai Rp185,30 triliun hingga Juni 2026, atau tumbuh 11% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp166,34 triliun pada Juni 2025.

Pertumbuhan kredit ditopang oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11% YoY, dari Rp216,28 triliun menjadi Rp239,93 triliun. Meningkatnya penghimpunan dana tersebut terutama didukung oleh pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA).

Meningkatnya DPK pada periode ini ditopang oleh dana giro dan tabungan (CASA) menjadi Rp145,2 triliun atau meningkat 26% YoY dengan rasio CASA yang meningkat menjadi 60,5%.

Dari sisi permodalan dan likuiditas, tingkat kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) OCBC hingga Juni 2026 tercatat sebesar 23,1%. Sementara itu, rasio kecukupan likuiditas (liquidity coverage ratio/LCR) mencapai 233,2%, memberikan ruang bagi perseroan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Sedangkan laba bersih konsolidasi mencapai Rp2,73 triliun pada semester I/2026. Capaian itu meningkat 6% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,56 triliun.

Raihan laba pada periode ini didukung oleh peningkatan total pendapatan sebesar 6% YoY menjadi Rp6,89 triliun, sedangkan beban operasional lainnya meningkat 1% YoY menjadi Rp3,1 triliun.

Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja menyampaikan kinerja yang positif pada semester pertama tahun ini semakin memperkuat fondasi OCBC untuk terus bertumbuh secara sehat dan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

“Kami terus meningkatkan kapabilitas dalam melayani kebutuhan nasabah, termasuk wealth management yang terus berkembang di Indonesia,” kata Parwati dalam keterangannya.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com