Jejak Kepemilikan Saham SSIA yang Dikoleksi Djarum Hingga Prajogo Pangestu, Ada Nama Pendiri Astra
TheEconopost.com, Harga saham PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) melonjak tajam pada pekan lalu. Sebelumnya harga saham SSIA menyentuh titik terendah tahun ini pada penutupan perdagangan 8 April 2025 di level Rp710 per lembar.
Sementara, level harga saham SSIA pada penutupan perdagangan pekan lalu (18 Juli 2025) adalah Rp2.850. Artinya dari titik terendah, saham SSIA telah mengalai kenaikan 301% dalam perdagangan tiga bulan terakhir.
Dikutip pada Minggu, 20 Juli 2025 dari keterbukaan kepemilikan di atas 5% dari KSEI, pemegang saham SSIA dalam transaksi 16 Juli yang dirilis pada 18 Juli (T+2) terdiri dari entitas pengendali Grup Djarum yakni Dwimuria Investama Andalan. Entitas konglomerasi ini menggunakan akun di BCA Sekuritas (kode broker SQ) dan Verdhana Sekuritas Indonesia (kode broker BB) untuk mengoleksi SSIA dengan kepemilikan terbagi 261,44 juta dan 13,05 juta lembar.
Pemegang saham SSIA lainnya adalah Persada Capital Investama (7,85%), Arman Investment Utama (8,52%), Intrepid Investments Limited (8,2%), dan PT Henan Putihrai Asset Management (5,97%).
Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) milik konglomerat Prajogo Pangestu memiliki 6,05% saham SSIA per 16 Juli 2025.
Artinya dengan struktur terbaru ini, maka pemegang saham SSIA pada 20 Juli 2025 didominasi kepemilikan di bawah 10%, yakni Arman Investment, Intrepid, Persada Capital, Candra Asri milik Prajogo Pangestu, dan Grup Djarum melalui Dwimuria.
Lalu Siapa Pemilik PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA)?
Prospektus obligas SSIA pada 2016 mengungkap perusahaan kawasan industri ini didirikan pada 1971 dengan nama PT Multi Investment Ltd. Perubahan nama menjadi Surya Semesta Internusa dilakukan pada November 1995.
Setelah berganti nama, perseroan kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 5 Maret 1997 dengan melepas 135 juta lembar saham di harga Rp975 per lembar. Saat itu, nominal saham SSIA adalah Rp500 per lembar. Setelahnya, SSIA beberapa kali melakukan right issue dan menerbitkan surat utang guna menambah modal.
Selain mengembangkan kawasan industri, SSIA juga memiliki sejumlah anak usaha mulai dari perhotelan hingga konstruksi. Hotel yang dimiliki seperti The Plaza Hotel Glodok, Batiqa Hotel Karawang, Batiqa Hotel Jababeka, Batiqa Hotel Cirebon, Batiqa Hotel Palembang, serta Batiqa Hotel Pekanbaru. Bisnis lainnya adalah Edenhaus Simatupang, Graha Surya Internusa (akan dibangun kembali sebagai SSI Tower), Hotel Gran Melia Jakarta, Melia Bali Hotel, Umana Bali, dan LXR Hotels & Resorts. Di bidang konstruksi, perusahaan adalah pemegang saham pengendali PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA).
Sementara itu, para konglomerat di balik SSIA selain Grup Djarum yakni Johannes Suriadjaja melalui PT Arman Investments Utama.
Dalam risalah rapat per 24 Agustus 2015, pemegang saham PT Arman Investments Utama adalah PT Intivest Indah (42,92%), Johannes Suriadjaja (33,88%), Elizabeth Suriadjaja (5,94%), Christien Suriadjaja (5,36%), dan Rina Suriadjaja (5,94%), serta Riawati Suriadjaja (5,94%).
Untuk informasi, keluarga Suriadjaja adalah pendiri SSIA. Sosok yang melahirkan SSIA adalah Benjamin Arman Suriadjaja bersama kakaknya William Soeryadjaya. Nama yang disebutkan terakhir merupakan pendiri PT Astra International Tbk. (ASII).
Pemegang saham SSIA selanjutnya yakni Persada Capital Investama juga masih terkait dengan sejarah awal Astra yakni keluarga Benny Subianto. Nama Benny sangat terkait dengan pengembangan Astra Agro (AALI) hingga United Tractor (UNTR).
Persada Capital Investama ini menginduk kepada PT Tri Nur Cakrawala dan PT Pandu Alam Persada.
Pada dua perusahaan terakhir ini, Meity yang merupakan istri dari mendiang Benny Subianto memiliki 51,25%, sedangkan tiga anaknya adalah Arini Saraswati Subianto, Armelia W. Subianto dan Ardiani K. Subianto berbagi rata sisa kepemilikan.
Sementara itu, tidak banyak informasi yang diperoleh mengenai Intrepid selain bahwa perusahaan ini merupakan entitas cangkang dari yurisdiksi surga pajak Kepulauan Virgin Inggris.
Kinerja Keuangan SSIA
Untuk kinerja Juni 2025, perusahaan belum merilis laporan keuangan karena masih ada waktu hingga akhir Juli 2025 sesuai regulasi. Meski demikian, pada kuartal I/2025, Surya Semesta Internusa membukukan rugi bersih sebesar Rp21,7 miliar, membengkak dibanding rugi Rp14,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Melemahnya segmen perhotelan akibat renovasi Hotel Melia Bali menjadi salah satu penyebab utama penurunan kinerja.
Pendapatan konsolidasian SSIA turun tipis 2,1% year on year (yoy) menjadi Rp1,07 triliun. Kinerja segmen konstruksi menjadi penopang utama dengan lonjakan pendapatan 24,5% menjadi Rp887,6 miliar. Sementara itu, segmen properti naik tipis 2,6% menjadi Rp163,8 miliar. Adapun pendapatan hotel anjlok 57,3% menjadi Rp99,6 miliar.
Direksi SSIA dalam keterbukaan informasi menyampaikan bahwa penurunan EBITDA dari Rp147,1 miliar menjadi Rp36,3 miliar terutama disebabkan oleh lesunya bisnis perhotelan yang tengah menjalani masa renovasi. EBITDA dari segmen hotel bahkan tercatat negatif Rp32 miliar.
“Renovasi Hotel Melia Bali sejak Oktober 2024 adalah langkah strategis jangka menengah. Ini diharapkan memperkuat daya saing portofolio perhotelan SSIA ke depan,” tulis manajemen dalam siaran pers, Senin (5 Mei 2025).
Di sisi lain, anak usaha konstruksi PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA) mencatatkan pendapatan konsolidasian Rp889,5 miliar, naik 24,4% yoy, dengan laba bersih Rp42 miliar, melonjak 46,1%. Meski kontrak baru turun 49,1% menjadi Rp687,8 miliar, NRCA masih mencatat sejumlah proyek strategis, termasuk pabrik AHM Deltamas dan infrastruktur Subang Smartpolitan.
Untuk sektor properti, PT Suryacipta Swadaya membukukan penjualan lahan Rp88 miliar di Karawang seluas 4 hektare, meningkat dari 3 hektare di periode sebelumnya. Total backlog penjualan per akhir Maret 2025 mencapai Rp325,4 miliar atau setara 24,2 hektare.
SSIA mencatat posisi kas dan setara kas sebesar Rp2,2 triliun dan menjaga rasio utang terhadap ekuitas di level sehat 12,6%. Total aset naik 3,7% menjadi Rp10,75 triliun.
Sementara itu, unit digital Travelio.com mencatat pertumbuhan Gross Merchandise Value (GMV) sebesar 14% yoy dan menargetkan pertumbuhan 35% hingga akhir 2025. Platform ini kini mengelola lebih dari 15.000 unit apartemen dan diproyeksikan menembus 17.000 unit pada akhir tahun.
Catatan Redaksi:
Artikel ini mengalami perbaikan kepemilikan TPIA yang masih tercatat memiliki 6,05% saham SSIA per 16 Juli 2025.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami—bebas klikbait, bebas tekanan politik, dan fokus pada hal-hal penting di pasar dan ekonomi—dukung kami dengan membeli berita yang Anda suka sesuai keinginan. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. Mari jaga berita berkualitas tetap hidup dan bisa diakses semua orang. Bayar Sekarang – Sesuai Keinginan Anda!. ![]() Cukup scan QR code yang tersedia, dan terus nikmati informasi terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda. Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi tajam, terpercaya, dan eksklusif sesuai kebutuhan. |

