HeadlineIHSG

Daftar Saham Paling Deras Dijual Asing Usai Indonesia Diusul MSCI Turun Kasta

TheEconopost.com — Usulan lembaga penyedia indeks global MSCI untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market langsung menjadi Standalone Market menempatkan transparansi perdagangan, keterbukaan kepemilikan saham, dan konsistensi penegakan aturan sebagai persoalan utama. Perbaikan pada aspek tersebut menjadi penting untuk menjaga kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.

Dampak pengumuman MSCI segera tercermin pada pergerakan pasar. Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92. Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit atau trading halt. IHSG akhirnya ditutup melemah 11,57 persen ke level 5.185,11.

Pada hari yang sama, tekanan jual investor asing mencapai sekitar Rp3,40 triliun. Dalam enam hari perdagangan pada 16–23 Oktober 2026, investor asing membukukan jual bersih sekitar Rp11,40 triliun berdasarkan data transaksi yang tersedia.

Saham perbankan menjadi sasaran utama pelepasan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat jual bersih asing terbesar, yakni Rp5,23 triliun. Berikutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami jual bersih Rp3,26 triliun dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp1,37 triliun.

Akumulasi jual bersih ketiga saham tersebut mencapai Rp9,86 triliun, setara dengan sekitar 86,5 persen dari total jual bersih asing selama periode pengamatan. Besarnya angka itu menunjukkan tekanan yang terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Meski demikian, gejolak pasar tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan usulan reklasifikasi MSCI. Pengumuman pada 15 Oktober 2026, atau dini hari 16 Oktober waktu Indonesia, merupakan pembukaan konsultasi, bukan keputusan final untuk mengubah status Indonesia.

Transparansi Pasar Menjadi Pokok Persoalan

MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan memindahkan Indonesia dari kategori Emerging Market langsung ke Standalone Market, dengan melewati kategori Frontier Market. Konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, sementara keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti kekhawatiran investor mengenai transparansi pasar, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas penegakan aturan. Perbaikan yang telah dilakukan dinilai belum memadai untuk menjawab persoalan tersebut.

Bagi investor global, persoalan ini menyangkut lebih dari sekadar ukuran dan likuiditas pasar. Keputusan investasi juga dipengaruhi oleh aksesibilitas, keterbukaan informasi, kejelasan struktur kepemilikan saham, serta keyakinan bahwa mekanisme perdagangan berlangsung secara adil.

Klasifikasi Standalone Market digunakan MSCI untuk pasar yang tidak dikelompokkan dalam tiga kategori utamanya, yakni Developed Market, Emerging Market, dan Frontier Market. Argentina, Bulgaria, Nigeria, dan Rusia merupakan beberapa negara yang berada dalam klasifikasi tersebut.

Bagi Indonesia, perubahan kategori berpotensi memengaruhi cara investor global mengalokasikan dana. Indeks MSCI menjadi acuan bagi berbagai pengelola investasi internasional sehingga perubahan klasifikasi dapat memengaruhi keputusan portofolio. Namun, besarnya dampak aktual akan bergantung pada keputusan akhir MSCI dan respons masing-masing investor.

Selama konsultasi berlangsung, MSCI mempertahankan pembatasan yang telah diberlakukan terhadap pasar Indonesia. Kebijakan tersebut mencakup tidak adanya kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak adanya penambahan saham ke MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI), serta tidak adanya perpindahan ke klasifikasi yang lebih tinggi. Saham yang masuk dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC) juga tetap dikeluarkan.

Pembatasan itu menambah urgensi bagi otoritas pasar modal untuk menunjukkan kemajuan yang terukur. Tanpa perbaikan yang dapat diverifikasi, ketidakpastian mengenai posisi saham Indonesia dalam indeks global berpotensi berlanjut.

Pelepasan Saham Asing Tidak Merata

Data transaksi pada 16–23 Oktober memperlihatkan bahwa tekanan jual asing tidak hanya menyasar saham perbankan. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatat jual bersih Rp662,99 miliar, sedangkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp297,59 miliar dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp249,66 miliar.

Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga termasuk dalam kelompok saham yang paling banyak dijual asing berdasarkan data yang tersedia.

Di sisi lain, investor asing masih membukukan pembelian bersih pada sejumlah emiten. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat beli bersih terbesar, yakni Rp280,89 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebesar Rp130,97 miliar dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp108,40 miliar.

Pembelian bersih juga tercatat pada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp104,32 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp96,96 miliar, serta saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).

Perbedaan arah transaksi tersebut menunjukkan bahwa investor asing tidak melepas seluruh saham secara seragam. Namun, pembelian pada sejumlah emiten belum mengimbangi besarnya pelepasan saham-saham berkapitalisasi besar.

Angka tersebut perlu dibaca sesuai cakupan data yang tersedia, yakni daftar saham dengan nilai beli dan jual terbesar. Dengan demikian, pemeringkatan tersebut tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan transaksi asing pada setiap saham.

Penegakan Aturan dan Pembuktian Perbaikan

Di tengah sorotan terhadap integritas pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan denda kepada sejumlah pihak terkait tiga emiten atas dugaan manipulasi saham. Denda tersebut masing-masing sebesar Rp100 miliar terhadap pihak terkait PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), Rp1,5 triliun terhadap pihak terkait PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan Rp500 miliar terhadap pihak terkait PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Kredibilitas pasar juga bergantung pada konsistensi pengawasan, keterbukaan informasi, dan kepastian penerapan aturan. Investor perlu melihat bahwa dugaan pelanggaran ditangani secara efektif, sementara struktur kepemilikan saham dan informasi yang relevan tersedia secara memadai untuk mendukung pengambilan keputusan.

Tantangan bagi otoritas pasar modal Indonesia adalah membuktikan bahwa perbaikan berlangsung secara sistematis, bukan hanya sebagai respons terhadap gejolak. Transparansi perdagangan dan keterbukaan kepemilikan perlu tercermin dalam praktik yang dapat diperiksa dan dinilai oleh pelaku pasar.

Konsultasi MSCI memberikan waktu bagi Indonesia untuk menjawab kekhawatiran tersebut sebelum keputusan akhir ditetapkan paling lambat 30 Juni 2027. Masukan pelaku pasar masih dapat disampaikan hingga 30 April 2027.

10 saham paling banyak dijual asing 16-23 Oktober 2026

PeringkatSahamAkumulasi hari beli bersihAkumulasi hari jual bersihHasil akhir jual bersih (dalam Rp miliar)
1BBCA448,095.674,945.226,85
2BBRI0,003.263,273.263,27
3BMRI152,311.521,661.369,35
4TLKM254,95917,94662,99
5ANTM27,83325,42297,59
6BRIS0,00249,66249,66
7PTBA35,43253,11217,68
8AADI56,42260,92204,50
9TINS15,44218,76203,32
10ADRO0,00146,49146,49

10 saham paling banyak dibeli asing

PeringkatSahamAkumulasi hari beli bersihAkumulasi hari jual bersihHasil akhir beli bersih (dalam Rp miliar)
1GOTO378,6397,74280,89
2INDF155,8724,90130,97
3ENRG108,400,00108,40
4BRPT104,320,00104,32
5AMMN111,2714,3196,96
6MEDC90,030,0090,03
7DMAS79,370,0079,37
8DSSA145,4466,2379,21
9EMAS109,9438,7671,18
10INKP61,780,0061,78

Arus dana asing harian

TanggalJual bersih asing (Rp miliar)
16 Oktober 20263.400,00
19 Oktober 20262.250,00
20 Oktober 20262.130,00
21 Oktober 2026527,80
22 Oktober 20261.470,00
23 Oktober 20261.620,00
Total11.397,80

Sumber: Market Recap BRI Danareksa Sekuritas sesi 2, 16–23 Oktober 2026.

Standalone Market merupakan klasifikasi untuk pasar saham yang tidak memenuhi persyaratan kategori utama MSCI, yaitu Developed Market, Emerging Market, maupun Frontier Market. Penilaian klasifikasi tersebut antara lain mempertimbangkan ukuran pasar, likuiditas, dan aksesibilitas bagi investor internasional. Sejumlah negara yang saat ini berada dalam klasifikasi tersebut adalah Argentina, Bulgaria, Nigeria, dan Rusia.

Saham Indonesia di MSCI Global Standard Index

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
  2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
  3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
  4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
  5. PT Astra International Tbk (ASII)
  6. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
  7. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
  8. PT United Tractors Tbk (UNTR)
  9. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)

Saham Indonesia di MSCI Small Cap Index

  1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
  2. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
  3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
  4. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
  5. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
  6. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
  7. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
  8. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
  9. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
  10. PT Petrosea Tbk (PTRO)
  11. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
  12. PT Avia Avian Tbk (AVIA)
  13. PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN)
  14. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY)
  15. PT Ciputra Development Tbk (CTRA)
  16. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)
  17. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)
  18. PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
  19. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
  20. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
  21. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)
  22. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
  23. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  24. PT Jasa Marga Tbk (JSMR)
  25. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)
  26. PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA)
  27. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)
  28. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
  29. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL)
  30. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
  31. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)
  32. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)
  33. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)
  34. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com