Apa itu SWIFT System, Alternatif Sanksi Bagi Rusia
Tempias.com, JAKARTA – Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tengah menyiapkan sanksi baru bagi Rusia akibat semakin meluasnya perang dengan Ukraina. Salah satu sanksi yang sedang dipertimbangkan dengan serius adalah pemutusan sistem keuangan Rusia dengan dunia internasional.
Langkah ini dilakukan dengan mengeluarkan Rusia dari sistem Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). Sebuah sistem transfer keuangan independen yang berpusat di Uni Eropa tepatnya di negara Belgia.Â
Lalu apa itu SWIFT?Â
SWIFT merupakan sistem yang berfungsi mendukung transaksi keuangan lintas negara terbesar dan diawasi oleh Bank Nasional Belgia serta perwakilan bank sentral dari AS, Inggris, UE, Jepang, Rusia, China, dan lainnya.Â
Ibaratnya, SWIFT adalah jalur dan protokol yang menghubungkan transaksi keuangan lintas negara.
BACA JUGA: Perang Ukraina Vs Rusia, Nilzon Kapital: Jangan Ambil Tindakan Investasi Irrasional
Dalam situsnya, per hari ini, Sabtu, 26 Februari 2022 disebutkan sistem SWIFT mampu menghubungkan layanan transfer uang lebih dari 11.000 lembaga keuangan di dunia dan melibatkan 200 negara dan wilayah.
Dengan dukungan SWIFT maka transaksi keuangan ekspor impor dunia menjadi lebih lancar. Sistem yang juga membawa skala ekonomi ke seluruh penjuru dunia lebih cepat dan tersentralisasi.
“Visi kami adalah untuk dunia di mana pembayaran tidak hanya terpercaya tetapi juga instan. […] Tidak ada organisasi lain seperti kita di manapun di dunia ini. Tanpa kita dunia akan menjadi tempat yang sangat berbeda. Kami dapat dipercaya setiap saat,” tulis manajemen SWIFT dalam websitenya yang dikutip Sabtu, 26 Februari 2022.Â
Sejarah Pendirian SWIFT
SWIF sendiri didirikan pada 1973. Saat itu sebanyak 239 bank dari 15 negara berkumpul untuk mencari solusi memudahkan transaksi lintas negara. Saat itu, layanan keuangan lintas negara menggunakan Teleprinter Exchange (Telex). Sistem yang dinilai mahal untuk dikembangkan dan memiliki keterbatasan dalam mengembangkan standar yang disepakati bersama.Â
Selanjutnya, bank-bank ini membentuk unit bisnis bersama yakni SWIFT. Layanan yang kemudian beroperasi komersial pada 1977.
BACA JUGA: Terbaru! Kode Transfer Bank BNI, Kode Swift & Call Center
Keunggulan SWIFT semakin kokoh seiring tergabungnya bank sentral untuk pertama kali pada 1983. SWIFT kemudian menjadi bagian dari dukungan keuangan perusahaan di pasar modal semenjak 1987. Kini dalam era Internet SWIFT makin berkembang dan menjadi andalan dalam skema protokol pembayaran lintas batas.
Dalam perjalanan panjang hampir 40 tahun terakhir, penutupan akses sistem SWIFT hanya pernah terjadi dalam perang Iran pada 2012. Keputusan itu dilakukan dengan persetujuan penuh negara di Uni Eropa.Â
Akibatnya, sejumlah laporan menunjukkan ekonomi Iran runtuh hingga 30 persen akibat akses ekonominya terputus. Terutama akibat berhentinya penerimaan ekspor.
Dampak Pemutusan SWIFT ke Rusia
Untuk kasus Rusia, dilansir oleh sejumlah media seperti Bloomberg hingga The Times, para bankir di Wall Street menolak ide ini karena akan memicu inflasi lebih tinggi akibat terputusnya ekonomi dari kawasan penghasil energi hingga gandum itu.
Pemutusan dari SWIFT juga memungkinkan Rusia membangun protokol mandirinya dengan negara mitra seperti China hingga Korea Utara sehingga menyulitkan pengawasan transaksi keuangan secara internasional.Â
BACA JUGA: Kode Transfer Bank Syariah Indonesia, Kode Swift, & Call Center
Keluarnya Rusia dari SWIFT juga akan menggerus supremasi dolar sebagai standar bayar dunia dan berkembangnya alternatif baru. Langkah yang akan membawa dampak bagi perekonomian seluruh dunia.Â
Lembaga data statista mencatat industri perbankan Rusia merupakan bisnis keuangan terbesar ke-10 di Eropa. Bisnis keuangan di negara itu 75 persen dipegang oleh tiga bank terbesar. Meski demikian jika diturunkan, dari bisnis terpusat itu sebanyak 50 persen berada di Sberbank.Â
Bank ini berdasarkan list Forbes 2000, memiliki kapitalisasi US$ 85,7 miliar atau sekitar Rp 1.228 triliun dengan kurs Rp14.334.Â
Sementara CEICData mencatat nilai ekspor Rusia pada berdasarkan data terakhir Februari 2021 sebesar US$ 29,58 miliar atau setara Rp 424 triliun. Meningkat dibandingkan periode Januari 2021 sebesar US$ 26,9 miliar.Â
Bandingkan dengan nilai ekspor Indonesia 2021 yang dicatat BPS sebesar US$ 231,54 miliar atau setara dengan US$ 19,29 miliar per bulan. (Ahmad Ridwan)
