HeadlineIHSG

Perang Ukraina Vs Rusia, Nilzon Kapital: Jangan Ambil Tindakan Investasi Irrasional

Tempias.com, JAKARTA – Meluasnya eskalasi perang Ukraina Vs Rusia membawa dampak luas ke pasar modal seluruh dunia. Setelah pengumuman operasi militer oleh Presiden Rusia Vladimir Putin kemarin (24/2/2022) harga sejumlah komoditas melambung tinggi. 

Minyak brent sempat melompat melewati US$ 100 per barel. Sedangkan emas mendaki hingga US$ 1.960 per troy ounce sesaat setelah pengumuman invasi terjadi. 

Harga sejumlah komoditas juga mencapai rekor baru seperti batu bara yang menembus rekor tertinggi sepanjang masa US$ 270 per ton. Demikian komoditas lainnya. 

 

BACA JUGA: Adu Tebal Modal Investor Saham Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Hingga Papua, Siapa Juara?

 

Meski demikian, berdasarkan laporan Bloomberg, pagi ini (25/2/2022) pukul 7.47 WIB, harga energy dunia kembali ke titik kestabilan baru sebelum invasi. 

Harga minyak WTI meski menguat bertengger di level US$94,55 persen. Menguat 1,87 persen dari harga pembukaan. Level harga ini merupakan harga pengiriman untuk April 2022. 

Selanjutnya, harga minyak Brent telah kembali di bawah US$ 100 dolar per bareel meski masih menunjukkan penguatan. Minyak jenis ini bertengger di level US$ 99,08 per barel pada pagi ini. 

Demikian juga dengan harga emas, meski menguat posisi harga emas di pasar spot berada pukul us$ 1.913. menguat 0,51 persen. 

 

Rekomendasi Nilzon Kapital

John Octanivianus, Princical Nilzon Kapital mengingatkan dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini maka investor tidak disarankan untuk mengambil tindakan investasi yang irrasional. 

“Tindakan irrasional tidak direkomendasikan mengingat perkembangan situasi sangat cepat berganti,” kata John kepada Tempias.com Kamis (24/2/2022). 

 

BACA JUGA: Unilever Indonesia (IDX: UNVR) Buka Suara Soal Saran Delisting Sukarela, Simak Penjelasannya

 

Dia menyebutkan krisis dapat meluas ke berbagai sektor jika eskalasi konflik meluas. Saat krisis meluas, maka sektor yang tangguh dan mampu unggul adalah emas dan komoditas. 

Investor juga diminta mencermati perkembangan situasi perang dalam 72 jam ke depan. 

Riset Nilzon menyebutkan saat eskalasi perang meningkat, maka investor akan lebih memilih mengalihkan asetnya kepada surat utang bertenor panjang untuk mengelola risiko. 

Sedangkan dampak jangka panjang jika kondisi terus meningkat maka dampak pertama adalah meningkatnya harga komoditas jangka panjang. Akibatnya inflasi akan melonjak. 

Perang juga akan mengganggu rantai pasok secara global. Dampak embargo hingga blokade militer menjadi penyebab utama terganggunya rantai pasok ini. 

Ikatannya, pendapatan bisnis akan turun seiring membengkaknya biaya dan terganggunya pasokan global. 

Putra

Editor In Chief https://www.theeconopost.com/ Hubungi saya di redaksi@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com