Jejak IPO Sari Kreasi Boga (IDX: RAFI), dari Nilamsari ke Eko Pujianto
Tempias.com, JAKARTA – Pencatatan IPO PT Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI) resmi dilakukan Jumat, 5 Agustus 2022. RAFI menjadi emiten ke-34 di Bursa Efek Indonesia.
RAFI merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha penjualan bahan baku dan waralaba makanan dan minuman. Perusahaan yang berdiri pada 2017 ini memasarkan merek dagang Kebab Turki Baba Raffi, Smokey Kebab, Baba Raffi Express, Countainer Kebab, Ayam Pul, Ayam Utuh, Frozen Kebab, Kebab Kitchen, Baba Rafi Cafe, Sueger dan Jellyta.
Merek Dagang/Hak Paten tersebut sedang dalam proses pendaftaran untuk diterbitkannya sertifikat dari Dirjen HAKI Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, kecuali untuk merk dagang Baba Raffi, Ayam Pul, Ayam Utuh dan Kebab Kitchen.
BACA JUGA: IPO Utama Radar Cahaya (IDX: RCCC), Inilah Para Pemilik Perusahaan Sewa Truk dari Cileungsi
Saat ini, Sari Kreasi Boga memiliki 969 outlet mitra yang tersebar di seluruh kota besar yang ada di Indonesia seperti DKI Jakarta, Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, D.I.Y Yogyakarta, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua dan Papua Barat.
Dalam IPO kali ini, RAFI akan melepas 948,09 juta lembar saham baru atau setara 30,31 persen dengan harga pelaksanaan Rp 126 per lembar. Artinya, RAFI akan mengantongi dana IPO dari masyarakat sebesar Rp 119,4 miliar.
Bersamaan dengan IPO, juga diterbitkan waran seri I sebanyak 474,04 juta lembar dengan harga tebus Rp 158. Setiap pemilik 2 saham IPO berhak untuk memperoleh 1 waran. Jika terserap penuh maka akan ada tambahan modal sebesar Rp 74,89 miliar.
Bertindak sebagai broker IPO RAFI adalah Investindo Nusantara Sekuritas (Kode Broker IN) dan KB Valbury Sekuritas (kode broker CP).
BACA JUGA: Harga Pelaksanaan IPO Segar Kumala (IDX: BUAH) Rp 388, Ini Jadwalnya
Dana yang diperoleh melalui IPO ini akan digunakan untuk pelunasan pembayaran rencana transaksi akuisisi PT Lazizaa Rahmat Semesta senilai Rp 13 miliar dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja Perseroan, yang digunakan untuk pembelian bahan baku waralaba, bahan baku segar, sewa gudang, biaya gaji karyawan dan pemeliharaan.
Nilamsari Bukan Pengendali Baba Rafi
SKB Boga (RAFI) pertama kali didirikan pada 2017. Perusahaan ini lahir setelah perceraian Nilamsari dengan suaminya Hendy Setiono yang membesarkan kebab Baba Rafi. Sebelumnya, keduanya memiliki saham sama besar di PT Babarafi Indonesia.
Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan kemudian menetapkan Baba Rafi digunakan berdua dengan pembagian wilayah operasional. Dalam putusan tersebut, mantan suami Nilamsari, Hendy Setiono bersama perusahaannya di Surabaya berhak mengelola merek Kebab Turki Baba Rafi dan Container Kebab by Baba Rafi wilayah timur.
Sementara itu, Nilamsari dengan PT Sari Kreasi Boga Tbk. memiliki hak mengelolauntuk wilayah barat, meliputi Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan dan Jakarta sekitarnya (Jabodetabek).
Dalam perusahaan baru ini, Nilam kemudian memulai perjalanan dengan modal ditempatkan dan modal disetor sebesar Rp 200 juta. Akan tetapi, kepemilikannya tidak seratus persen namun berbagi dengan Edy Santoso (30 persen) dan selebihnya dimiliki Nilamsari (70 persen).
Kepemilikan Nilam mulai menyusut pada 2019. Saat itu kepemilikan RAFI terdiri dari Nilamsari (65 persen), Atthur Sahadewa Widjaja (30 persen), dan Velliq Arsapranata 5 persen. Kemudian muncul nama Jadug Trimulyo Ainul Amri menjadi pengendali baru. Dengan masuknya Jadug (42 persen) maka kepemilikan Nilam di RAFI menjadi 15 persen. Juga muncul nama Eko Mujianto (28 persen), Sedangkan Velliq Arsapranata tetap 5 persen. Masuk juga nama Nur Arief Budiyanto (4 persen) serta Bobby Dwi Febrianto (3 persen) dan Fuad Iskandar (3 persen).
BACA JUGA: Profil Philmon S. Tanuri, Direktur Utama Trimegah (IDX: TRIM) Pilihan Boy Thohir
Jadug sendiri terus mengurangi sahamnya dalam dinamika perusahaan. Hingga perjanjian jual beli 30 April 2021 pemegang saham terbesar sudah ada di nama baru yakni Yuni Ayuningsih (35 persen). Saham Jadug menjadi 33 persen. Sedangkan nama Nilamsari tidak lagi ada sebagai pemegang saham.Namun pada akhir 2021, Jadug kembali menjadi pengendali dengan kepemilikan 43 persen dan Yuni 20 persen.
Pada Desember 2021, perusahaan melakukan right issue dengan masuknya PT Globalasia Capital Investama. Investor baru ini melakukan injeksi modal sebesar Rp 18 miliar. Tambahan modal ini sekaligus mengakhiri peran Jadug menjadi pengendali dan beralih ke PT Global Asia Capital Investama.
Saat itu Global Asia menggenggam 55,04 persen, Jadug menjadi 19,33 persen dan Yuni 8,99 persen. Atthur Shadewa Menjadi pemegang saham dengan kepemilikan 6,73 persen.
Nama Nilamsari baru kembali menjadi pemegang saham setelah Atthur Shadewa menjual kepemilikannya pada 4 April 2022 senilai Rp 2,02 miliar. Masuknya Nilam membuat susunan pemegang saham jelang IPO menjadi Globalasia Capital (55,04 persen), Jadug Trimulyo Ainul (19,33 persen), Yuni Ayuningsih (8,99 persen), Nilamsasri (6,73 persen), Fuad Iskandar (2,7 persen), Velli Arsapranata dan Joe Steven masing masing (2,25 persen), Nur Arief Budiyanto (1,8 persen), dan Yuli Prasetya Adi (0,9 persen). Inilah struktur yang kemudian dibawa perusahaan untuk IPO.
Lalu siapa pemilik Globalasia Capital? Prospektus perusahaan mengungkapkan pemilik akhir dari perusahaan pemilik RAFI ini adalah Eko Pujianto dan Budi Utomo. Eko memiliki 51 persen saham Globalasia sehingga ditetapkan sebagai penerima manfaat utama alias Ultimate Beneficial Owner per 13 April 2022.
Eko juga bertindak sebagai Direktur utama RAFI. Dalam pengumuman perusahaan, Eko merupakan kelahiran 1993 alias berumur 28 tahun saat ini. Alumni Universitas Sebelas Maret ini merupakan founder CV KM Tour n Travel (sejak 2011), dan founder 10 Koperasi Pertanian (Duta Tani).
Sedangkan Jadug sebagai pemegang saham terbesar kedua merupakan mantan Ketua BEM Universitas Diponegoro yang menyelesaikan pendidikannya pada 2018. Sosok generasi Z ini menduduki posisi posisi komisaris utama RAFI sebagai kompensasi pemegang saham terbesar kedua. Selain RAFI, Jadug juga menjalankan PT Moey Jaya Abadi dan PT Sarana Punggawa Nusantara. (Ira Guslina)
