Finance

BSI (BRIS) Tawarkan Sukuk Rp2 Triliun

TheEconopost.com, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menawarkan sukuk mudharabah berlandaskan keberlanjutan senilai Rp2 triliun. Dana hasil penerbitan surat utang syariah tersebut akan digunakan untuk membiayai kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan dan sosial.

Berdasarkan informasi tambahan ringkas yang disampaikan pada 20 Oktober 2026, penerbitan Sukuk Mudharabah Berlandaskan Keberlanjutan Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2026 itu merupakan bagian dari program penawaran umum berkelanjutan dengan target penghimpunan dana sebesar Rp10 triliun.

Sukuk tersebut ditawarkan dalam tiga seri dengan tenor mulai dari 370 hari kalender hingga tiga tahun. Ekuivalen bagi hasil yang ditawarkan berkisar 7,00–7,20 persen per tahun, bergantung pada seri yang dipilih investor.

Seri A memiliki nilai penerbitan Rp900 miliar dengan tenor 370 hari kalender dan ekuivalen bagi hasil 7,00 persen per tahun. Seri B bernilai Rp230 miliar dengan tenor dua tahun dan ekuivalen bagi hasil 7,05 persen per tahun. Adapun Seri C bernilai Rp870 miliar dengan tenor tiga tahun dan ekuivalen bagi hasil 7,20 persen per tahun.

Masing-masing seri memiliki nisbah bagi hasil untuk pemegang sukuk sebesar 83,43 persen untuk Seri A, 84,03 persen untuk Seri B, dan 85,82 persen untuk Seri C. Ekuivalen bagi hasil tersebut mengacu pada proyeksi pendapatan yang dibagihasilkan sebagaimana tercantum dalam dokumen penawaran.

Sukuk ini memperoleh peringkat idAAA(sy) dari Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Pemesanan minimum ditetapkan sebesar Rp5 juta dan berlaku untuk kelipatannya.

Dana hasil penerbitan setelah dikurangi biaya emisi akan dialokasikan untuk pembiayaan baru maupun pembiayaan yang telah berjalan dalam kategori kegiatan usaha berwawasan lingkungan dan sosial.

Untuk kategori lingkungan, BSI merencanakan alokasi sebesar 30–50 persen. Cakupannya antara lain energi terbarukan dan efisiensi energi, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan air dan air limbah berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam dan lahan berkelanjutan, serta bangunan berwawasan lingkungan.

Sementara itu, kategori sosial memperoleh alokasi sebesar 50–70 persen. Pembiayaan mencakup akses terhadap layanan esensial, infrastruktur dasar dan perumahan terjangkau, penciptaan lapangan kerja melalui pembiayaan usaha kecil dan menengah serta usaha mikro, ketahanan pangan, dan pemberdayaan sosial ekonomi.

Pembayaran pendapatan bagi hasil dilakukan setiap tiga bulan, dengan pembayaran pertama dijadwalkan pada 11 Februari 2027. Pokok sukuk akan dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo masing-masing seri, yakni 21 November 2027 untuk Seri A, 11 November 2028 untuk Seri B, dan 11 November 2029 untuk Seri C.

Masa penawaran umum berlangsung pada 4–6 November 2026. Penjatahan dijadwalkan pada 9 November 2026, sedangkan distribusi sukuk secara elektronik dan pengembalian uang pemesanan dilakukan pada 11 November 2026. Sukuk tersebut direncanakan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 12 November 2026.

Dalam dokumen penawaran, BSI menyebutkan bahwa sukuk tidak dijamin dengan agunan khusus dan tidak termasuk dalam program penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan. Investor juga menghadapi risiko gagal bayar serta risiko rendahnya likuiditas sukuk di pasar sekunder.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com