HeadlineIHSG

Rekomendasi Saham Hari Ini 9 Oktober Saat IHSG Dibayangi Tren Bearish

TheEconopost.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tren bearish pada perdagangan hari ini, Jumat (9/10/2026). Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan indeks berpotensi menguji area support 5.973 dan 5.851, di tengah tekanan jual investor asing dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta dalam Strategy Notes & JCI Technical View: Bearish Structure Remains Intact menyatakan struktur bearish IHSG masih bertahan seiring upaya indeks menguji level support terdekat. Meski demikian, indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) masih menunjukkan sinyal positif yang didukung peningkatan volume perdagangan.

Mirae menetapkan level resistance IHSG pada 6.180 dan 6.267. Pada perdagangan sebelumnya, aksi jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp848,28 miliar, sedangkan akumulasi net sell sepanjang tahun berjalan mencapai Rp110,28 triliun. Kinerja IHSG sejak awal tahun tercatat minus 30,25 persen.

Mirae menyarankan investor mengakumulasi saham dengan fundamental solid, neraca keuangan sehat, prospek pertumbuhan jelas, serta likuiditas perdagangan yang baik. Investor juga diminta menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

Tekanan terhadap pasar saham domestik antara lain berasal dari kenaikan harga minyak mentah dan kekhawatiran inflasi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memunculkan risiko terhadap pasokan dan jalur pelayaran minyak. Harga minyak juga mendapat tekanan tambahan dari gangguan pasokan akibat penutupan sementara fasilitas produksi di Teluk Meksiko menghadapi ancaman Badai Isaias.

Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sekaligus menyulitkan bank sentral global, khususnya Federal Reserve, untuk melonggarkan kebijakan moneter. Kondisi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap arah suku bunga Amerika Serikat.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah dan berlanjutnya arus dana keluar investor asing membatasi aliran likuiditas ke pasar saham. Namun, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dan keputusan FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market menjadi sentimen penopang pasar.

Rekomendasi Saham ADMR AMRT dan MEDC

Di tengah tekanan pasar, Mirae Asset Sekuritas memberikan rekomendasi teknikal untuk tiga saham, yakni PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Untuk ADMR, Mirae merekomendasikan accumulative buy dengan area masuk Rp1.450–Rp1.550. Target harga pertama ditetapkan Rp1.555, target kedua Rp1.600, dan target ketiga Rp1.885. Level support berada pada Rp1.450 dan Rp1.410.

Pada AMRT, Mirae juga merekomendasikan accumulative buy dengan kisaran masuk Rp1.225–Rp1.265. Target harga pertama sebesar Rp1.270, target kedua Rp1.325, dan target ketiga Rp1.640. Adapun level support berada pada Rp1.225 dan Rp1.110.

Sementara itu, MEDC memperoleh rekomendasi add dengan area masuk Rp1.385–Rp1.485. Mirae menetapkan target harga pertama Rp1.500, target kedua Rp1.530, dan target ketiga Rp1.715. Level support saham ini berada pada Rp1.385 dan Rp1.350.

IHSG Berpotensi Menguji Level 6.000

Pandangan bearish tersebut sejalan dengan analisis BRI Sekuritas dalam laporan Sapa Mentari edisi 9 Oktober 2026. Sekuritas ini memperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000, dengan support terdekat pada 6.019.

IHSG ditutup melemah 1,88 persen ke level 6.031,28 pada Kamis (8/10/2026), setelah sempat menguat hingga 6.179,09 sebelum berbalik turun. Tekanan jual meningkat di tengah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan kecenderungan kebijakan moneter ketat.

BRI Sekuritas menilai area 6.000–6.019 menjadi penopang penting bagi indeks. Apabila area tersebut bertahan, tekanan jual berpotensi mereda. Sebaliknya, penembusan ke bawah level 6.000 dapat meningkatkan risiko pelemahan menuju 5.854.

Pasar juga mencermati data penjualan ritel Indonesia Agustus 2026 yang diproyeksikan tumbuh 1,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,1 persen pada Juli. Data tersebut menjadi indikator untuk mengukur keberlanjutan pemulihan konsumsi domestik.

Untuk perdagangan Jumat, BRI Sekuritas memilih JECX, VICI, dan WIFI sebagai saham pilihan.

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 6.019–6.049. Dalam laporan Morning Navigator edisi 9 Oktober 2026, MNC Sekuritas merekomendasikan saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).

MNC Sekuritas mencatat IHSG melemah 1,88 persen ke level 6.031,28 pada Kamis (8/10), disertai penjualan bersih investor asing sebesar Rp859,25 miliar. Sektor industri dan energi menjadi penekan utama, masing-masing turun 2,86 persen dan 2,77 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan naik 0,70 persen, sedangkan transportasi dan logistik menguat 0,61 persen.

Di tengah pelemahan indeks, MNC Sekuritas menilai ekspektasi pendapatan dan ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan ke depan yang membaik berpotensi mendukung saham konsumen dan ritel menjelang periode belanja kuartal IV-2026.

MNC Sekuritas juga menyoroti ekspansi PT Elnusa Tbk (ELSA) yang membidik peluang jasa energi di Irak melalui pengembangan solusi geosains terintegrasi. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperluas basis pelanggan non-captive perusahaan.

Selain itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) telah mengaktifkan lebih dari 3.100 titik Internet Rakyat yang menjangkau sekitar 3,1 juta rumah tangga di 94 kota dan kabupaten. MNC Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk WIFI dengan target harga Rp3.400.

Pilihan Saham KLBF dan ASSA

Rekomendasi lain datang dari IPOT Platinum Club melalui daftar Daily Stock Pick edisi 9 Oktober 2026. IPOT memilih KLBF dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) sebagai saham beli.

KLBF pada harga acuan Rp775 memiliki target harga pertama Rp820 dan target kedua Rp870, dengan batas cut loss di bawah Rp730. IPOT mencatat akumulasi smart money sebesar Rp9,3 miliar dan volume perdagangan di atas rata-rata sebagai indikasi potensi kelanjutan tren bullish.

Adapun ASSA pada harga acuan Rp585 memiliki target harga pertama Rp615 dan target kedua Rp640, dengan batas cut loss di bawah Rp555. Akumulasi smart money selama lima hari terakhir dengan net aggression Rp1 miliar dinilai menunjukkan kekuatan beli.

Dengan IHSG yang masih menghadapi tekanan teknikal dan risiko eksternal, investor perlu mencermati level support indeks serta perkembangan harga minyak, nilai tukar rupiah, dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed sebelum mengambil keputusan investasi.

Rekomendasi dan target harga tersebut merupakan pandangan masing-masing sekuritas berdasarkan analisis pada periode terkait, bukan jaminan hasil investasi. Investor perlu mempertimbangkan profil risiko, kondisi fundamental emiten, dan pergerakan harga terkini sebelum bertransaksi.

Putra

Editor In Chief https://www.theeconopost.com/ Hubungi saya di redaksi@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com