Finance

Deflasi Juli 2026 (mtm) Belum Tentu Menandakan Daya Beli Pulih

TheEconopost.com, Indonesia mencatat deflasi pada Juli 2026 sebesar 0,14 persen secara bulanan (month-to-month). Namun, di balik penurunan harga tersebut, tekanan inflasi inti justru tetap bertahan di level yang relatif tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan harga lebih dipengaruhi oleh faktor musiman dan pasokan, sementara permintaan domestik belum mengalami perubahan yang signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan (year-on-year) pada Juli 2026 tetap terkendali, sedangkan inflasi inti mencapai 2,76 persen. Secara bulanan, inflasi inti masih tumbuh 0,14 persen. Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, inflasi inti mencerminkan pergerakan harga yang lebih dipengaruhi oleh keseimbangan permintaan dan penawaran serta tidak dipengaruhi gejolak harga pangan maupun kebijakan pemerintah. Karena itu, inflasi inti kerap dijadikan indikator untuk membaca tekanan fundamental dalam perekonomian.

Deflasi pada Juli juga tidak berdiri sendiri. Sejak awal tahun, inflasi tercatat 1,65 persen sehingga ruang kenaikan harga masih cukup terbuka hingga akhir 2026. Di sisi lain, terdapat disparitas antarwilayah yang cukup lebar. Papua Barat mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,47 persen, sedangkan Papua Selatan hanya 1,46 persen. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa dinamika harga di daerah masih sangat dipengaruhi kondisi distribusi, struktur konsumsi, dan pasokan lokal.

Dari sisi sektor eksternal, kinerja perdagangan mulai menunjukkan tantangan. Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 naik 4,13 persen menjadi 140,81 miliar dollar AS, dengan ekspor nonmigas tumbuh lebih tinggi sebesar 4,90 persen. Namun, kenaikan impor jauh lebih besar, yakni 18,69 persen menjadi 137,24 miliar dollar AS. Akibatnya, surplus neraca perdagangan semester I-2026 menyusut menjadi hanya 3,58 miliar dollar AS, meski sektor nonmigas masih mencatat surplus 19,35 miliar dollar AS yang tertahan oleh defisit migas sebesar 15,77 miliar dollar AS.

Lonjakan impor tersebut juga memberi sinyal bahwa kebutuhan bahan baku dan barang modal mulai meningkat. Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama, baik sebagai tujuan ekspor nonmigas terbesar maupun pemasok impor terbesar Indonesia. Ketergantungan ini membuat kinerja perdagangan nasional masih sensitif terhadap perlambatan maupun pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Di sektor pertanian, indikator menunjukkan perkembangan yang lebih positif. Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat menjadi 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada saat yang sama, luas panen padi Juni 2026 bertambah hampir 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan produksi berpotensi memperkuat pasokan pangan domestik sehingga membantu menjaga stabilitas harga dalam beberapa bulan ke depan.

Kombinasi deflasi, inflasi inti yang masih bertahan, surplus perdagangan yang menipis, serta membaiknya indikator pertanian menunjukkan ekonomi Indonesia tengah berada dalam fase penyesuaian. Harga-harga relatif terkendali, tetapi mesin pertumbuhan belum sepenuhnya bertumpu pada konsumsi domestik.

Ke depan, keseimbangan antara permintaan dalam negeri, kinerja ekspor, dan kecukupan pasokan pangan akan menjadi faktor penting yang menentukan arah inflasi sekaligus pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2026.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com