Mengenal Generasi Penerus Djarum, Nama-Nama di Balik iForte hingga Menara Telekomunikasi TOWR
TheEconopost.com, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) memperpanjang pelaksanaan penawaran tender sukarela untuk mengakuisisi saham publik PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR/STP). Langkah tersebut dilakukan setelah Protelindo menjadi pemegang saham pengendali perseroan.
Berdasarkan dokumen Pernyataan Penawaran Tender Sukarela hari ini, Jumat 24 Juli 2026, Protelindo kembali menawar sebanyak 980.044 saham atau sekitar 0,09% dari modal ditempatkan dan disetor penuh STP yang masih beredar di publik. Tender sukarela ini seiring upaya delisting perusahaan.
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp45.000 per saham, sehingga pemegang saham publik memiliki kesempatan menjual kepemilikannya kepada Protelindo selama periode tender berlangsung.
Periode penawaran tender baru dibuka mulai 24 Juli hingga 24 Agustus 2026, setelah memperoleh pernyataan efektif pada 22 Juli 2026. Adapun penyelesaian pembayaran kepada pemegang saham yang menerima penawaran dijadwalkan pada 4 September 2026.
Aksi korporasi tersebut merupakan tindak lanjut setelah sebelumnya tender sukarela dibuka 15 Juni-14 Juli 2026 dengan periode pembayaran 24 Juli.
Sebagai informasi, Protelindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi sentral telekomunikasi, penyewaan menara telekomunikasi, instalasi tenaga listrik, hingga pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.
Sementara itu, STP menjalankan usaha di bidang konstruksi sentral telekomunikasi, real estat, serta perusahaan holding. Perseroan merupakan salah satu operator menara telekomunikasi yang kini berada dalam kelompok usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR).
Berikut jadwal pelaksanaan penawaran tender sukarela tersebut:
| Tahapan | Tanggal |
|---|---|
| Tanggal Pernyataan Penawaran Tender Sukarela | 22 Mei 2026 |
| Pernyataan Efektif | 22 Juli 2026 |
| Periode Penawaran | 24 Juli–24 Agustus 2026 |
| Perkiraan Pembayaran | 4 September 2026 |
Dalam prospektus yang sama, Djarum membeberkan stuktur kepemilikan saham dalam konglomerasi keluarga ini setelah salah satu pengendali utamanya Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada Kamis, 19 Maret 2026, di Singapura pada usia 86 tahun.
Pemilik Djarum Grup
Dalam struktur kepemilikan PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (STP), operator menara telekomunikasi yang kini menjadi bagian dari ekosistem PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) menjelaskan Keluarga Hartono sebagai penerima manfaat akhir Grup Djarum terpencar dalam dua perahu besar.
Di tingkat paling atas terdapat PT Tricipta Mandhala Gumilang (TMG) mewakili Robert Budi Hartono, saudara mendiang Bambang. TMG ini dimiliki anak-anak Robert dengan komposisi terbesar berada di tangan Victor Rahmat Hartono dan Martin Basuki Hartono yang masing-masing menguasai 33,33% saham.
Selanjutnya, Armand Wahyudi Hartono memiliki porsi 24,5%. Tiga anggota keluarga perempuan Robert yakni Alicia Katrina Hartono, Jacqueline Chiara Hartono, dan Marco Krisna Hartono, masing-masing menguasai 2,95% saham.
TMG kemudian menguasai 51% saham PT Septa Adhikari Investama (SAI), sedangkan 49% sisanya dimiliki PT Caturguwiratna Sumapala (CGS).
Caturguwiratna Sumapala adalah perusahaan induk yang dikendalikan anak-anak Bambang. Mereka adalah yaitu Stefanus Wijaya Hartono, Roberto Setiabudi Hartono, Tessa Natalia Damayanti Hartono, dan Vanessa Ratnasari Hartono.
Struktur Kepemilikan Grup Djarum

SAI menjadi pemegang saham terbesar PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) dengan kepemilikan 45,29%. Perusahaan ini kemudian menguasai 19,95% saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk. Di sisi lain, PT Lingkarmulia Indah memiliki 5,33% saham TOWR, sementara sisanya dimiliki publik dan saham tresauri.
Sebagai induk usaha, PT Sarana Menara Nusantara Tbk. hampir sepenuhnya menguasai PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dengan kepemilikan sekitar 99,999999998%.
Protelindo merupakan pemegang saham pengendali PT Solusi Tunas Pratama Tbk. dengan kepemilikan 97,33%. Sisanya dimiliki PT Iforte Solusi Infotek sebesar 2,58% dan masyarakat sekitar 0,09%.
Struktur tersebut menunjukkan bagaimana investasi keluarga Hartono di sektor infrastruktur digital dikelola melalui beberapa lapis perusahaan investasi. Model kepemilikan seperti ini lazim digunakan kelompok usaha besar untuk memisahkan fungsi investasi, pengelolaan aset, hingga pengendalian perusahaan operasional.
Di luar bisnis menara telekomunikasi, keluarga Hartono juga dikenal memiliki portofolio usaha yang luas melalui Grup Djarum, termasuk sektor perbankan melalui PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), elektronik melalui Polytron, e-commerce melalui Blibli alias PT Global Digital Niaga Tbk (BELI).
Grup Djarum juga memiliki dan mengendalikan sejumlah emiten lainnya, termasuk perusahaan ritel PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), konstruksi kawasan industri PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) hingga media seperti Kumparan, Narasi Tv, hingga IDN Times melalui GDP Ventures.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami—bebas klikbait, bebas tekanan politik, dan fokus pada hal-hal penting di pasar dan ekonomi—dukung kami dengan membeli berita yang Anda suka sesuai keinginan. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. Mari jaga berita berkualitas tetap hidup dan bisa diakses semua orang. Bayar Sekarang – Sesuai Keinginan Anda!. ![]() Cukup scan QR code yang tersedia, dan terus nikmati informasi terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda. Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi tajam, terpercaya, dan eksklusif sesuai kebutuhan. |

