Finance

Rekomendasi Saham Pekan Depan (28/9) di Tengah Tekanan IHSG dan Rupiah

TheEconopost.com, Sejumlah sekuritas memantau saham sektor komoditas di tengah tekanan terhadap pasar saham Indonesia. Pelemahan rupiah ke level Rp17.903 pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu (25/9), meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta aksi jual investor asing menjadi sejumlah faktor yang menjadi penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini (28/9/2026).

Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat investor asing membukukan jual bersih atau net sell saham Indonesia sebesar Rp3,5 triliun pada pekan lalu. Dengan demikian, akumulasi net sell asing sepanjang 2026 mencapai Rp105 triliun.

Tekanan jual asing pada pekan lalu menjadi yang terbesar sejak pertengahan Juni 2026. Mirae Asset menilai kondisi tersebut terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen, pelemahan rupiah, dan tingginya harga minyak.

IHSG pada perdagangan Jumat (25/9/2026) ditutup di level 6.242 atau melemah 0,9 persen. Pada sesi pertama, IHSG sempat menguat hingga 6.328 sebelum berbalik melemah pada sesi kedua.

Saham perbankan menjadi sasaran utama aksi jual asing. Mirae Asset mencatat net sell terbesar terjadi pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp958 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp708 miliar dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp491 miliar.

Sebaliknya, beberapa saham mencatat akumulasi pembelian asing. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menjadi salah satu saham dengan net buy asing terbesar sebesar Rp77 miliar, disusul PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) Rp70 miliar dan PT Singaraja Putra Tbk (SINI) Rp65 miliar.

Di tengah tekanan pasar, perhatian sekuritas juga tertuju pada pergerakan harga komoditas. Harga tembaga naik 1,3 persen menjadi 14.728 dollar AS per ton, timah naik 1,4 persen menjadi 54.247 dollar AS per ton, dan nikel naik 0,9 persen menjadi 16.329 dollar AS per ton.

Harga batubara juga meningkat 0,5 persen menjadi 144 dollar AS per ton. Mirae Asset melihat peluang penguatan harga batubara setelah International Energy Agency (IEA) menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan global batubara pada 2026 menjadi 1,2 persen. Kenaikan harga gas dan LNG dinilai dapat mendorong peralihan pembangkit listrik ke batubara.

Sejumlah saham yang berkaitan dengan komoditas batubara yang disebut dalam laporan Mirae Asset antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Sementara itu, harga minyak mentah Brent bertahan di sekitar 104 dollar AS per barel. Adapun harga minyak sawit mentah atau CPO turun 4,7 persen menjadi 4.475 ringgit Malaysia per ton.

Mirae Asset melihat CPO berpotensi mengalami rebound setelah terkoreksi cukup dalam. Penguatan dollar AS yang berpotensi menekan ringgit Malaysia dapat membuat CPO Malaysia lebih kompetitif di pasar ekspor. Namun, kenaikan stok CPO masih menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan harga.

Saham perkebunan yang terkait dengan CPO yang masuk dalam pantauan Mirae Asset antara lain PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan TAPG.

Selain Mirae Asset, BRI Danareksa Sekuritas memasukkan sejumlah saham dalam watchlist untuk perdagangan berikutnya. Saham yang dipantau antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), MDKA, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR).

BRI Danareksa mengidentifikasi PTBA dan ITMG dalam kondisi akumulasi besar atau big accumulation. MDKA disebut berpotensi membentuk pola cup and handle, sedangkan DSSA juga berada dalam pola serupa. HRTA disebut berada dalam tren pembalikan positif dan UVCR telah menembus level resistance.

BRI Danareksa menegaskan daftar tersebut merupakan watchlist awal dan bukan rekomendasi untuk membeli saham. Keputusan akhir perdagangan disampaikan dalam pembaruan pasar pada pagi hari.

Di sisi lain, Sinarmas Sekuritas menyoroti tekanan terhadap rupiah sebagai salah satu risiko utama pasar saham. Tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut apabila dollar AS dan imbal hasil US Treasury tetap tinggi. Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian bagi sektor yang memiliki biaya atau eksposur dalam dollar AS.

Sinarmas Sekuritas menilai sektor penerbangan dan transportasi dapat menghadapi tekanan karena biaya bahan bakar, leasing, dan kewajiban dalam dollar AS meningkat. Sektor farmasi juga menghadapi tekanan karena ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat meningkatkan biaya produksi.

Untuk sektor konsumer, dampaknya dinilai beragam. Perusahaan yang banyak menggunakan bahan baku impor berpotensi mengalami tekanan margin, sedangkan perusahaan dengan kemampuan menaikkan harga memiliki ruang yang relatif lebih besar untuk mengimbangi kenaikan biaya.

Sektor perbankan juga menghadapi dampak yang beragam. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan risiko kualitas kredit, terutama pada bank yang lebih kecil. Namun, bank dengan fundamental kuat dapat memperoleh manfaat apabila suku bunga tetap tinggi untuk menjaga stabilitas rupiah.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com