Perusahaan Semen Afiliasi Anthony Salim (INTP) Konsolidasi Bisnis Pelayaran
TheEconopost.com, Perusahaan semen yang terafiliasi dengan Anthony Salim, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) melakukan konsolidasi bisnis pelayaran pengangkutan semen melalui rencana penggabungan PT Lintas Bahana Abadi (LBA) ke dalam PT Bahana Indoor.
Dalam tahunan laporan perusahaan, PT Bahana Indoor sebanyak 99,99% sahamnya dimiliki INTP. Sedangkan pemegang saham INTP per 31 Juli adalah Per 31 Juli 2026, kepemilikan saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) masih didominasi oleh Heidelberg Materials AG dengan 1,88 miliar saham atau 54,72%.
Di bawahnya, Treasure East Investments Limited menguasai 125,89 juta saham atau 3,67%, Dornier Profits Limited 132,70 juta saham atau 3,87%, sedangkan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. sendiri tercatat memiliki 147,35 juta saham atau 4,29%. Pemegang saham lainnya antara lain Parallax Venture Partners XXX Ltd sebesar 2,55%, ING Bank NV SG Branch S/A Powerside Investments Limited 2,29%, Deutsche Bank AG (Private Banking) Spore WM Client 1,60%, Invesco Asian Fund (UK) 1,00%, DJS Ketenagakerjaan Program Jaminan Hari Tua 2,99%, dan Taspen 1,04%.
Berdasarkan penelusuran Treasure East Investments Limited, Parallax Venture Partners XXX Ltd, hingga Dornier Profits Limited adalah kendaraan investasi milik Grup Salim. Sedangkan mitra utama yakni Heidelberg Materials AG adalah salah satu perusahaan multinasional produsen bahan bangunan terbesar di dunia asal Jerman yang memproduksi semen, agregat, beton siap-pakai dan aspal.
Berdasarkan ringkasan rancangan penggabungan yang diumumkan pada Kamis (27/8/2026), LBA akan berakhir demi hukum setelah penggabungan, sedangkan Bahana Indoor (BI) menjadi perusahaan penerima penggabungan. Setelah merger efektif, seluruh aset dan kewajiban LBA akan beralih kepada BI.
Kedua perusahaan sama-sama bergerak di bidang pelayaran, khususnya pengangkutan semen melalui kapal. LBA berdiri pada 24 Juni 2014 dengan modal ditempatkan dan disetor Rp54,95 miliar. Adapun BI berdiri sejak 23 April 1990 dengan modal ditempatkan dan disetor Rp5,26 miliar.
Struktur kepemilikan kedua perusahaan juga saling terafiliasi. LBA dimiliki 99,90% oleh PT Bahana Indoor dan 0,10% oleh PT Indomix Perkasa. Sementara itu, BI dimiliki 99,90% oleh PT Indomix Perkasa dan 0,10% oleh PT Handal Dinamika.
Rencana merger tersebut didorong oleh upaya meningkatkan efisiensi biaya operasional, pemasaran, dan administrasi. Selain itu, kedua perusahaan memiliki pelanggan yang sama sehingga penggabungan dinilai dapat menciptakan sinergi dalam pelayanan.
Penggabungan juga diarahkan untuk memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku bagi perusahaan pelayaran yang belum dapat dipenuhi oleh LBA. Dengan menjadi perusahaan penerima penggabungan, BI diharapkan dapat memenuhi ketentuan tersebut.
Kinerja Berbeda
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, kinerja LBA dan BI menunjukkan perbedaan. LBA mencatat pendapatan usaha Rp10,46 miliar dengan biaya usaha Rp8,57 miliar. Laba usaha tercatat Rp1,87 miliar dan laba bersih Rp2,41 miliar.
Sementara itu, BI membukukan pendapatan usaha Rp3,03 miliar, tetapi menanggung biaya usaha Rp4,50 miliar. Kondisi tersebut membuat BI mencatat rugi usaha Rp1,47 miliar dan rugi bersih Rp1,37 miliar.
Dari sisi neraca, LBA memiliki total aset Rp120,95 miliar, kewajiban Rp63,18 miliar, dan ekuitas Rp57,77 miliar. BI memiliki aset Rp114,38 miliar, kewajiban Rp59,58 miliar, dan ekuitas Rp54,80 miliar.
Penilaian yang dilakukan KJPP Karmadi & Rekan berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025 menempatkan nilai pasar LBA sebesar Rp57,43 miliar dan BI Rp55 miliar.
Setelah penggabungan, pemegang saham BI akan menjadi pemegang saham LBA. Setiap satu saham BI dengan nilai nominal Rp75.000 akan dikonversikan menjadi 16 saham LBA dengan nilai nominal Rp1.000 per saham.
Adapun berdasarkan laporan posisi keuangan proforma per 31 Desember 2025, perusahaan hasil merger diproyeksikan memiliki total aset Rp400,74 miliar, total utang Rp328,11 miliar, dan ekuitas Rp72,63 miliar.
Dari sisi sumber daya manusia, seluruh karyawan LBA akan beralih menjadi karyawan BI. Hubungan kerja seluruh karyawan BI juga akan tetap berlanjut setelah penggabungan.
Rencana tersebut juga mempertimbangkan keberlanjutan kontrak. Setelah merger efektif, BI akan tetap menjalankan perjanjian sewa kapal yang sebelumnya dimiliki BI dan LBA hingga kewajiban berdasarkan perjanjian tersebut berakhir.
Proses merger dijadwalkan efektif pada 1 Oktober 2026 setelah RUPS kedua perusahaan pada 29 September 2026. Pada tanggal yang sama, perseroan akan melakukan pemberitahuan penggabungan kepada Kementerian Hukum.
Setelah merger, kegiatan utama perusahaan tetap berada di sektor pelayaran dan pengangkutan semen melalui kapal. Pemegang saham yang tidak menyetujui penggabungan memiliki hak meminta sahamnya dibeli dengan harga wajar, tanpa menghentikan proses penggabungan.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami, dukung kami dengan membeli berita ini sesuai keinginan Anda. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. ![]() Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi eksklusif sesuai kebutuhan. |

