Siapa Pengendali Baru IATA? Pemilik Karya Pacific Investama Terafiliasi dengan Pengendali MCOL
TheEconopost.com, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebagai wali amanat Sukuk Wakalah I MNC Energy Tahap 1/2023 dan Obligasi Berkelanjutan I/2023 dari PT Karya Pacific Energy Tbk. (IATA) (d/h MNC Energy Investments) meminta para pemegang surat utang perusahaan untuk berkumpul pada 27 Agustus mendatang.
Permintaan RUPSU dan RUPO ini seiring dengan perubahan kepemilikan IATA dari PT MNC Asia Holding Tbk. (BHIT) milik Hary Tanoesoedibjo menjadi PT Karya Pacific Investama (KPI).
“Agenda RUPO/RUPSU adalah persetujuan atas permohonan waiver/pengesampingan ketentuan dan perubahan Pasal 7.3 huruf c Perjanjian Perwaliamanatan terkait Pemegang Saham Utama Perseroan selama jangka waktu Obligasi/Sukuk Wakalah,” dikutip dari keterbukaan bertanggal 13 Agustus pada Senin, 17 Agustus 2026.
Lalu siapakah pengendali baru IATA? Dalam dokumen kepemilikan di atas 1% BEI per 31 Juli 2026, struktur pemegang saham PT Karya Pacific Energy Tbk. (IATA) menunjukkan PT Karya Pacific Investama (KPI) sebagai pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 17,358 miliar saham atau setara 55,50%.
Pemegang saham selanjutnya adalah Gideon Tjahja Purnomo menguasai 1,517 miliar saham atau 4,85%, Gerry Sandric memiliki 1,229 miliar saham atau 3,93%, Andy sebanyak 663,24 juta saham atau 2,12%, R Tjahyono Imawan sebanyak 425,32 juta saham atau 1,36%, dan PT Karya Bumi Energi sebanyak 381,5 juta saham atau 1,22%.
KPI sendiri sebelumnya menyatakan melakukan tender sukarela dengan harga penawaran Rp99 per saham.
Siapa Pemilik Karya Pacific Investama (KPI)?
Dalam dokumen resmi perusahaan, Wardono Asnim disebut sebagai pengendali KPI sekaligus pemilik manfaat akhir perusahaan. Berdasarkan informasi yang dirujuk dari situs Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum, Wardono Asnim tercatat sebagai pemilik manfaat akhir KPI melalui Karya Teknik Investama (70%).
Wardono Asnim merupakan ayah kandung Windiman Asnim dan Winarto Asnim. Keduanya berbagi kepemilikan dengan sang ayah sebagai pemegang saham PT Karya Teknik Investama (KTI). Rinciannya, untuk perusahaan holding (KTI), sang ayah memiliki 82%, sedangkan kedua putranya berbagi kepemilikan masing-masing 9%.
Bisnis keluarga Asnim sendiri melalui KTI mencakup PT Keterjangkauan Tenang Energi (96%), PT Tambang Nikel Indonesia (90%), PT Wahana Karya Mineral (90%), PT Banten Anugerah Industri Kemajuan (90%), Indonesia Pacific Aluminium Industri (90%), PT Karya Tekno Indonesia (22%), PT Tes Cipta Nusantara (94%), PT Win Jaya Abadi (90%), PT Marunda Tank Terminal (94%), dan PT Harmoni Nusantara Investama (50%).
Nama Wardono Asnim juga muncul dalam bisnis Grup Mandiri Coal (MCOL). Wardono juga muncul sebagai Komisaris Utama PT Maritim Prima Mandiri (Mandiri Tranship) bersama dengan Eddy Sugianto. Nama disebut terakhir adalah pengendali akhir MCOL dan MAHA.
Sedangkan pemilik lain KPI adalah Kohar Chua (20%) serta Amin Manner (10%).
Dalam susunan pengurus KPI, Kahar Chua tercatat sebagai Direktur Utama dan Christian sebagai Direktur. Sementara itu, Winarto Asnim menjabat sebagai Komisaris Utama dan Amin Mansur sebagai Komisaris.
KPI sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang aktivitas perusahaan holding dan berkedudukan di Jakarta Barat. Sementara IATA bergerak di bidang investasi, perusahaan induk, serta perdagangan batu bara.

Sebelum transaksi ini, IATA berada di bawah kendali PT MNC Asia Holding Tbk. Laporan keuangan konsolidasian MNC Asia Holding mencatat IATA sebagai entitas yang dikonsolidasikan, sehingga IATA berada di bawah pengendalian MNC Asia Holding (BHIT). Namun dalam data terbaru, holding grup MNC itu mengklaim kepemilikan saham menjadi 0%.
KPI sendiri melakukan transaksi pembelian saham IATA pada 2024 dan 2025. Salah satu transaksi pada 2024 dilakukan dengan BHIT selaku pengendali IATA melalui Bursa Efek Indonesia.
Bisnis IATA sendiri saat ini telah bergeser ke batu bara. Perusahaan mendapat kuota produksi awal batu bara sebesar 2 juta metrik ton (MT) untuk 2026 dari pemerintah Indonesia. Kuota tersebut menjadi salah satu tantangan bagi perseroan untuk mengejar target produksi yang telah ditetapkan hingga akhir tahun.
Manajemen IATA pada akhir Juni 2026 menyampaikan target produksi batu bara mencapai 7,89 juta MT hingga akhir tahun. Target tersebut ditetapkan seiring masuknya PT Karya Pacific Investama (KPI) sebagai pemegang saham pengendali baru IATA.
Dengan target produksi 7,89 juta MT dan kuota awal 2 juta MT, IATA membutuhkan tambahan kuota produksi hampir 6 juta MT dari pemerintah untuk merealisasikan target produksi tersebut.
Dari sisi aset pertambangan, IATA saat ini memiliki tiga Izin Usaha Pertambangan (IUP) melalui tiga anak usahanya, yakni PT Putra Muba Coal (PMC), PT Arthaco Prima Energy (APE), dan PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE).
Ketiga IUP tersebut memiliki total sumber daya batu bara sebesar 598 juta MT dan cadangan (reserves) batu bara sebesar 288 juta MT.
| Donasi Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami, dukung kami dengan donasi sesuai keinginan. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun Donasi Anda, sangat berarti. ![]() Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi eksklusif sesuai kebutuhan. |

