FORU dan Mengapa Batu Bara Kokas Masih Menjadi Rebutan di Tengah Transisi Energi?
TheEconopost.com, Narasi mengenai masa depan batu bara dalam beberapa tahun terakhir cenderung didominasi isu transisi energi. Berbagai negara berlomba menurunkan emisi karbon dengan mengurangi penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan mempercepat pemanfaatan energi terbarukan. Namun, di balik tren tersebut terdapat satu jenis batu bara yang justru masih memiliki prospek cerah, yakni batu bara kokas (coking coal) atau batu bara metalurgi.
Komoditas ini tidak digunakan untuk menghasilkan listrik, melainkan menjadi bahan baku yang hingga kini masih sulit tergantikan dalam industri baja. Selama kebutuhan baja dunia terus bertumbuh untuk menopang pembangunan infrastruktur, kawasan industri, kendaraan, hingga berbagai proyek manufaktur, permintaan terhadap batu bara kokas diperkirakan tetap tinggi.
Perbedaan fungsi inilah yang membuat batu bara kokas memiliki dinamika pasar yang berbeda dibandingkan batu bara termal. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan batubara terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu batubara termal (thermal/steaming coal) yang biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dan batubara metalurgi.
Batubara metalurgi adalah merupakan batubara kalori tinggi yang memiliki karakteristik tertentu yang menghasilkan kokas. Kokas diproduksi dengan jalan memanaskan batubara metalurgi dalam oven pada kondisi reduksi tanpa udara dalam suhu sangat tinggi. Proses pembuatan ini disebut destruksi kering atau karbonisasi. Melalui proses ini, kandungan air, gas, dan zat terbang lainnya dalam batu bara dibuang, meninggalkan bongkahan karbon murni yang keras, berwarna abu-abu gelap, dan berpori
Kokas, Material yang Belum Tergantikan
Dalam industri baja konvensional, kokas memegang fungsi yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar bahan bakar. Kokas mampu menopang beban bijih besi di dalam tanur, memiliki porositas tinggi sehingga memperlancar sirkulasi gas panas, berfungsi sebagai agen reduktor yang memisahkan oksigen dari bijih besi, sekaligus menghasilkan panas yang stabil untuk proses peleburan logam.
Selama sebagian besar industri baja dunia masih menggunakan teknologi tersebut, kebutuhan terhadap kokas diperkirakan tetap bertahan meskipun berbagai negara mulai mengembangkan teknologi baja rendah karbon.
Permintaan Industri Menjadi Penopang
Kebutuhan terhadap baja masih menjadi salah satu indikator penting pertumbuhan ekonomi. Jalan tol, pelabuhan, bandara, gedung, rel kereta api, pembangkit listrik, hingga kawasan industri membutuhkan baja dalam jumlah besar.
Di kawasan Asia, permintaan tersebut masih terus meningkat seiring urbanisasi dan industrialisasi. Kondisi itu membuat batu bara kokas tetap memiliki prospek berbeda dibandingkan batu bara termal yang mulai menghadapi tekanan akibat kebijakan pengurangan emisi karbon.
Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya produksi baja, baik di Indonesia maupun di negara-negara penghasil baja lainnya. Kenaikan kebutuhan baja secara otomatis meningkatkan konsumsi kokas sebagai bahan baku utama.
Selain permintaan yang meningkat, Indonesia juga mulai dipandang memiliki potensi sumber daya batu bara metalurgi yang lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Evaluasi yang pernah dilakukan Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) menemukan puluhan area prospektif batu bara metalurgi di empat cekungan utama, yakni Kutai, Ombilin, Sumatera Selatan, dan Barito. Potensi tersebut mendorong semakin banyak perusahaan melakukan eksplorasi terhadap komoditas yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.
Di sisi lain, harga batu bara kokas juga cenderung memiliki daya tarik tersendiri. Ketika harga batu bara termal bergerak fluktuatif mengikuti permintaan sektor pembangkit listrik, batu bara kokas lebih dipengaruhi oleh siklus industri baja global.
Diversifikasi Bisnis
Prospek tersebut mulai memengaruhi strategi sejumlah emiten, termasuk emiten yang sebelumnya tidak bergerak di sektor pertambangan. Salah satunya adalah PT Fortune Indonesia Tbk (FORU). Dalam RUPS kemarin, 22 Juli perusahaan mengumumkan rencana transformasi bisnis melalui pelaksanaan Rights Issue yang akan mendukung akuisisi saham PT Borneo Prima (BP), perusahaan pertambangan batu bara kokas (coking coal).
Founder IMR Group sekaligus Direktur Utama FORU Anirudh Misra mengatakan transformasi tersebut didasari keyakinan terhadap prospek industri batu bara kokas serta potensi investasi di Indonesia.
“Indonesia telah menjadi bagian penting dari perjalanan IMR Group selama lebih dari dua dekade, dan kami tetap percaya pada potensi jangka panjang negara ini sebagai tujuan investasi strategis,” katanya dalam keterangan tertulis.
Anirudh mengklaim BP memiliki cadangan yang berkualitas, operasi yang telah berjalan, perizinan yang lengkap, serta didukung oleh tim manajemen yang berpengalaman. Melalui transaksi ini, FORU akan memperoleh sumber pertumbuhan baru melalui eksposur terhadap bisnis yang memiliki prospek jangka panjang. Sementara itu, BP juga akan terus mengembangkan kegiatan operasionalnya, termasuk meningkatkan kapasitas produksinya.
“Inisiatif-inisiatif tersebut diharapkan dapat menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham,” ujar Anirudh Misra.
Nilai Strategis Cadangan Batu Bara Kokas
Aset yang menjadi target akuisisi FORU, yakni PT Borneo Prima, diklaim memiliki wilayah konsesi sekitar 15.000 hektare di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, BP memiliki total cadangan sekitar 87,7 juta ton dengan kualitas batu bara mencapai 7.850 kcal/kg (CV adb). Selain telah memasuki tahap produksi komersial, perusahaan juga didukung perizinan yang lengkap serta pengalaman operasional di sektor pertambangan.
Bagi investor, kombinasi cadangan yang besar, operasi yang telah berjalan, serta kualitas batu bara yang tinggi menjadi faktor penting dalam menentukan nilai suatu aset tambang. Hal itu dinilai mampu mempercepat pertumbuhan dibandingkan membangun proyek baru dari tahap eksplorasi.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami—bebas klikbait, bebas tekanan politik, dan fokus pada hal-hal penting di pasar dan ekonomi—dukung kami dengan membeli berita yang Anda suka sesuai keinginan. Tak ada paywall. Tak ada sponsor yang mengatur isi. Hanya Anda yang membuat kami tetap independen. Berapapun pembayaran Anda, sangat berarti. Mari jaga berita berkualitas tetap hidup dan bisa diakses semua orang. Bayar Sekarang – Sesuai Keinginan Anda!. ![]() Cukup scan QR code yang tersedia, dan terus nikmati informasi terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda. Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi tajam, terpercaya, dan eksklusif sesuai kebutuhan. |

