Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$444,4 Miliar
TheEconopost.com, Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia naik menjadi 444,4 miliar dollar AS pada Mei 2026. Secara tahunan, pertumbuhannya mencapai 2,1 persen (year on year/yoy), meningkat dari 2 persen pada April 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh bertambahnya utang sektor publik, terutama pemerintah dan Bank Indonesia, sementara kontraksi utang swasta mulai mereda.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, kenaikan ULN pada Mei terutama dipengaruhi pertumbuhan utang sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral, sementara kontraksi utang swasta mulai mereda.
“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,9% pada Mei 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 83,9% dari total ULN,” ujar Ramdan.
Mengapa utang luar negeri bertambah?
Pendorong utama kenaikan berasal dari pemerintah. Posisi ULN pemerintah mencapai 217,3 miliar dollar AS atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan.
Menurut Bank Indonesia, pertumbuhan tersebut dipengaruhi masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Kondisi ini menunjukkan investor global masih menaruh kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia, meski pemerintah juga melakukan pembayaran utang luar negeri yang telah jatuh tempo.
Dana hasil pembiayaan tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk belanja rutin. Pemerintah mengarahkan pemanfaatannya ke berbagai sektor produktif, antara lain kesehatan, administrasi pemerintahan dan jaminan sosial, pendidikan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan.
Selain pemerintah, kenaikan juga berasal dari Bank Indonesia. Hal ini didorong meningkatnya kepemilikan investor asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Mengapa utang swasta justru turun?
Berbeda dengan sektor publik, utang luar negeri swasta masih mengalami kontraksi.
Pada Mei 2026, posisi ULN swasta tercatat 195,9 miliar dollar AS, atau turun 0,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski masih negatif, penurunannya jauh lebih kecil dibandingkan April yang mencapai kontraksi 0,5 persen.
Perbaikan tersebut terutama berasal dari kelompok lembaga keuangan yang mulai mengurangi laju penurunan pinjaman luar negeri.
Adapun utang swasta masih terkonsentrasi pada sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan. Keempat sektor tersebut menyumbang hampir 80 persen dari total ULN swasta.
Kapan utang luar negeri dianggap aman?
Besarnya utang sebenarnya bukan satu-satunya ukuran kesehatan ekonomi. Salah satu indikator yang banyak diperhatikan adalah rasio utang luar negeri terhadap PDB.
Semakin rendah rasio tersebut, semakin besar kemampuan suatu negara menghasilkan pendapatan untuk membayar kewajiban utangnya.
Pada Mei 2026, rasio ULN Indonesia terhadap PDB berada di 29,9 persen. Selain itu, 83,9 persen dari total utang merupakan utang jangka panjang sehingga risiko pembayaran dalam waktu dekat relatif lebih rendah dibandingkan jika didominasi utang jangka pendek.
Struktur seperti ini memberikan ruang yang lebih longgar bagi pemerintah maupun dunia usaha dalam mengelola kewajiban pembayaran.
Ramdan mengatakan Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri agar tetap berada pada tingkat yang sehat.
“Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” kata Ramdan.
Bagi masyarakat, kenaikan utang luar negeri tidak otomatis menjadi sinyal negatif. Yang lebih penting adalah memastikan dana pinjaman digunakan untuk kegiatan produktif, kemampuan membayar tetap terjaga, dan komposisi utang dikelola secara hati-hati sehingga tidak membebani stabilitas ekonomi pada masa mendatang
