Finance

Saat Dunia Memburu Dolar AS, BI Naikkan Suku Bunga BI Rate Jadi 5,75 Persen

TheEconopost.com, Bank Indonesia (BI) kembali memilih jalur stabilitas. Di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah, menguatnya dolar AS, dan potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat, bank sentral menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Kenaikan dengan jarak dekat, karena pada pekan lalu bank sentral juga sudah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin. Sedangkan dalam 1 bulan terakhir, suku bunga acuan sudah naik 1%.

Langkah itu diambil ketika ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan, tetapi tekanan dari luar negeri terus membesar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam paparan RDG BI yang diselenggarakan hari ini, Kamis, 18 Juni 2026, sumber utama risiko saat ini tidak lagi hanya berasal dari perang di Timur Tengah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kombinasi antara lonjakan inflasi global, membengkaknya defisit fiskal Amerika Serikat, dan kemungkinan berlanjutnya pengetatan moneter oleh bank sentral AS.

Perang yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu produksi, distribusi, dan rantai pasok global. Meski ketegangan sedikit mereda setelah tercapainya kesepakatan sementara (interim deal) antara AS dan Iran pada 14 Juni 2026, BI menilai situasi masih jauh dari stabil.

“Perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis,” kata Perry dalam hasil Rapat Dewan Gubernur BI.

Situasi tersebut telah memukul prospek ekonomi global. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 hanya mencapai 3 persen, sementara tekanan inflasi meningkat hingga sekitar 4,4 persen. Kondisi itu memaksa sejumlah bank sentral dunia mulai kembali menaikkan suku bunga.

Perhatian terbesar BI tertuju pada Amerika Serikat. Saat ini Fed Funds Rate masih bertahan di level 3,75 persen. Namun, Perry melihat ruang kenaikan suku bunga masih terbuka karena inflasi AS berpotensi meningkat.

Prospek kenaikan suku bunga AS menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan global. Ketika suku bunga tetap tinggi atau bahkan naik, investor cenderung mempertahankan dana mereka di aset-aset dolar AS yang menawarkan imbal hasil menarik.

Fenomena itu tercermin dari tingginya yield US Treasury. Pada 17 Juni 2026, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai 4,49 persen, sedangkan tenor dua tahun sebesar 4,18 persen. Tingginya yield tersebut didorong oleh defisit fiskal AS yang terus melebar.

Kombinasi suku bunga tinggi, yield obligasi yang menarik, dan dolar AS yang kuat membuat arus modal global bergerak menjauhi negara berkembang.

“Preferensi penempatan investor global ke negara Emerging Markets belum kuat dan beralih ke aset aman di negara maju,” ujar Perry.

Situasi ini menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika dana asing lebih banyak mengalir ke Amerika Serikat, tekanan terhadap nilai tukar dan pasar keuangan domestik meningkat.

Di tengah tekanan global tersebut, menjaga stabilitas rupiah menjadi prioritas utama BI.

Nilai tukar rupiah pada 17 Juni 2026 tercatat Rp17.730 per dolar AS, menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026. Namun, penguatan itu tidak datang dengan sendirinya.

BI meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar offshore menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) maupun melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik di mata investor asing.

Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Hingga 15 Juni 2026, kepemilikan investor nonresiden pada SRBI mencapai Rp238,09 triliun atau sekitar 23,32 persen dari total outstanding.

Dalam pandangan BI, menjaga daya tarik aset rupiah menjadi semakin penting ketika investor global sedang mencari instrumen yang memberikan imbal hasil tinggi dengan risiko relatif rendah.

Meski lingkungan global memburuk, BI melihat fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

Konsumsi pemerintah menjadi motor utama pertumbuhan dalam beberapa bulan terakhir. Percepatan realisasi belanja negara, termasuk pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara dan penyaluran bantuan sosial, menopang permintaan domestik.

Konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga seiring keyakinan konsumen yang masih positif. Sementara itu, investasi menunjukkan perbaikan yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang tetap berada di zona ekspansi.

Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit bahkan meningkat menjadi 11,51 persen secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan 9,98 persen pada April. Kredit investasi tumbuh paling tinggi mencapai 21,95 persen.

Atas dasar itu, BI masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 pada kisaran 4,9-5,7 persen.

Kenaikan BI-Rate menjadi 5,75 persen menunjukkan dilema yang dihadapi bank sentral saat ini. Di satu sisi, ekonomi membutuhkan dukungan agar tetap tumbuh. Namun, di sisi lain, tekanan global menuntut BI memperkuat pertahanan stabilitas.

Karena itu, BI memilih pendekatan bauran kebijakan. Suku bunga dinaikkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi, sementara kebijakan makroprudensial tetap longgar agar kredit dan pembiayaan terus mengalir ke sektor riil.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com