HeadlineIHSG

Prospek IPO di Sisa 2025 dan Penjelasan BEI Soal 8 Saham Baru Harganya Anjlok

TheEconopost.com, Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap percaya diri terhadap prospek pencatatan saham baru tahun ini, meskipun realisasi hingga kuartal III-2025 baru mencapai sepertiga dari target. Hingga akhir September 2025, tercatat baru 23 perusahaan resmi melantai di bursa dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp15,1 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebutkan capaian tersebut masih mencerminkan tren positif, terutama dari sisi besaran dana yang masuk ke pasar modal. Meski demikian, secara jumlah belum mendekati target 66 emiten baru pada tahun ini. BEI menilai kondisi global menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan perusahaan untuk go public.

“Secara umum, kondisi geopolitik global mempengaruhi appetite perusahaan untuk IPO. Berdasarkan dari data World Federation of Exchanges, jumlah perusahaan tercatat di BEI tumbuh 0,95% year-to-date (YTD) per Agustus 2025, lebih tinggi dibandingkan bursa di Thailand, Filipina, Vietnam (Ho Chi Minh), maupun Singapura yang justru mencatat penurunan pertumbuhan jumlah perusahaan tercatat,” ujar Nyoman, Jumat (4/10/2025).

Dari target 66 emiten baru, sebanyak 11 perusahaan masih berada dalam tahap pipeline. BEI menegaskan tidak akan mengejar jumlah secara instan, melainkan tetap memprioritaskan aspek kualitas sebelum perusahaan tersebut resmi tercatat.

“Sehubungan dengan 11 perusahaan yang berada di pipeline, fokus BEI tidak semata pada percepatan proses listing, melainkan juga pada persiapan kualitas agar setiap calon perusahaan tercatat memiliki aspek pemenuhan regulasi dan kepatuhan yang baik, going concern perusahaan yang terjaga serta dapat memberikan manfaat bagi stakeholder pasar modal,” katanya.

Dalam data yang disampaikan akhir September 2025, pipeline IPO di BEI pada sisa tahun terdiri dari 11 emiten yang mencakup 4 emiten jumbo dan 7 emiten medium. Secara sektor, calon emiten itu terdiri dari 2 Basic Materials; 1 Cyclicals; 1 Non-Cyclicals; 2 Financials; 2 Industrials; 1 Technology, dan 2 Perusahaan Transportation & Logistic.

Jika seluruh persyaratan dapat dipenuhi dalam sisa waktu tahun ini, BEI berharap perusahaan-perusahaan tersebut bisa segera masuk ke lantai bursa dan memperluas pilihan investasi saham bagi investor domestik. “Selain pemenuhan persyaratan IPO, BEI senantiasa menekankan bahwa perusahaan yang berhasil tercatat diharapkan tidak hanya mampu melaksanakan IPO dengan sukses, tetapi juga menjaga kinerja, keberlangsungan usaha, dan kepercayaan investor dalam jangka panjang,” ujarnya.

Sementara itu mencermati dari 23 emiten baru, delapan di antaranya mengalami penurunan harga saham di pasar sekunder. Meski begitu, BEI menilai pergerakan harga dalam jangka pendek tidak dapat dijadikan indikator utama kualitas perusahaan. “Kinerja perusahaan tercatat tidak semata-mata diukur dari fluktuasi harga saham di pasar sekunder dalam jangka pendek. Indikator kinerja dapat tercermin di antaranya dari kekuatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang baik, serta kejelasan strategi bisnis jangka panjang,” tutur Nyoman.

Ia menambahkan, dinamika harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat permintaan investor, sentimen pasar, kondisi makroekonomi, strategi alokasi portofolio, hingga tingkat likuiditas. “Oleh karena itu, penurunan harga saham dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan lemahnya kinerja dan kualitas perusahaan yang baru tercatat,” katanya.

Untuk menjaga kepercayaan investor, BEI memperkuat peran sebagai fasilitator dan pengawas melalui pendampingan dan pengawasan berkelanjutan. “Lebih lanjut, BEI juga melakukan evaluasi secara berkala yang tidak hanya berfokus pada kepatuhan regulasi, tetapi juga pada penerapan praktik terbaik dalam tata kelola perusahaan. Dengan langkah-langkah ini, BEI mengupayakan bahwa standar kualitas IPO di Indonesia terjaga baik sehingga perusahaan tercatat mampu memberikan nilai tambah jangka panjang bagi investor,” ujarnya.

Di sisa tahun ini, BEI akan tetap menempatkan kualitas sebagai prioritas utama. “Mempertimbangkan timeline untuk perusahaan dapat melakukan pencatatan saham di sisa tahun 2025, kualitas akan menjadi fokus utama guna memastikan perusahaan yang telah berada dalam pipeline memiliki kualitas yang baik,” kata Nyoman.

BEI juga menjalankan strategi jangka panjang dengan menyelenggarakan program edukasi dan pendampingan, mulai dari go public workshop, coaching clinic, one-on-one meeting, hingga networking event. Upaya ini ditujukan untuk mempercepat transformasi perusahaan menuju status terbuka sekaligus memperluas ekosistem pasar modal. Selain itu, BEI memperkuat kolaborasi dengan kementerian, asosiasi pengusaha, perbankan, dan mitra strategis lainnya. Edukasi yang diberikan tidak hanya mencakup IPO saham, tetapi juga instrumen pendanaan lain seperti obligasi, sukuk, dan efek beragun aset untuk memperluas alternatif pembiayaan.

“Dari sisi kualitas, BEI menerapkan evaluasi ketat yang tidak hanya berfokus pada aspek formal, tetapi juga mencakup keberlangsungan usaha, kualitas tata kelola, dan kompetensi manajemen dari calon perusahaan tercatat. Selain itu, BEI tengah menyusun kajian strategis IPO bersama berbagai pemangku kepentingan untuk memahami peluang dan tantangan, sekaligus memperkuat regulasi serta infrastruktur pasar modal,” ujarnya.

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com