Lifestyle

Bekerja vs Nganggur, Ternyata Gen Z dan Millennial Lebih Pilih Opsi Ini

Tempias.com, JAKARTA – Kurnian tampak sibuk dengan ketikannya di gawai. Ia tengah mempersiapkan kata-kata yang menurutnya cocok untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. “Daripada ditekan terus di kerjaan, mending berhenti dan nikmati hidup.” katanya pada Tempias.com beberapa waktu lalu.

Setelah menghabiskan beberapa waktu, surat resign itu selesai. Pria berumur 24 tahun itu kini resmi menjadi pengangguran.

Kurnian hanyalah satu dari sekian banyak pekerja yang memilih resign. Sebagian orang beranggapan bahwa mempunyai pekerjaan adalah hal yang penting untuk menunjang kehidupan. Berdasarkan survei Ranstad Workmonitor 2022, kebanyakan dari gen Z dan milenial justru lebih memilih jadi pengangguran daripada merasa tak bahagia di tempat kerja.

Rincian survei menyebutkan, sebanyak 41 persen pekerja berusia 18-24 tahun alias Gen z setuju dengan pendapat tersebut. Sedangkan 38 persen pekerja milenial berusia 25-34 tahun juga sependapat terkait hal itu.

Temuan itu mengatakan, adanya kesenjangan yang terdeteksi antara kelompok usia muda dan tua terkait pilihan menjadi pengagguran ketimbang tak bahagia di tempat kerja.

Survei ini dilakukan terhadap 35 ribu pekerja berusia 18-67 tahun di Eropa, Asia Pasifik dan Amerika. Survei dilakukan pada 21 Februari sampai 13 Maret 2022.

Tak jauh berbeda dengan Kurnian, Maria seorang sarjana lulusan Ekonomi yang sempat bekerja selama 16 bulan penuh. Ia sama sekali tidak terganggu dengan statusnya yang kini menganggur. “Aku jadi lebih banyak waktu untuk belajar dan persiapkan diri dengan pekerjaan yang lebih baik nantinya.”

Maria mengaku keluar dari pekerjaannya karena tekanan yang ia dapatkan. Beban psikis dan stres dalam kerjaan cukup mengganggu kehidupan dan hubungannya bersama kawan-kawan. Oleh sebab itu, ia putuskan untuk resign.

Maria mengisi waktunya dengan banyak belajar, membaca, berkumpul dengan teman hingga menekuni kegemarannya mendesain akuarium.

“Masih banyak tempat kerja di Indonesia yang kurang memperhatikan hak-hak pekerja. Ketimbang dapat tekanan kuat tapi gaji sedikit mending keluar.” ungkap Maria.

Berdasarkan penjabaran Maria, prioritas generasi z dan milenial dalam bekerja adalah intensif dan manfaat, fleksibilitas dalam lokasi dan jam kerja, serta apakah perusahaan menawarkan ruang untuk profesional dan pengembangan diri.

Dalam survei yang sama, hampir 90 persen responden menjawab kalau mereka akan turut berpartisipasi dalam program pembelajaran atau pengembangan diri jika tempatnya bekerja menyediakan untuk karyawan.

Dilansir dari Hypebae, Sander Van’t Noordende, selaku CEO global dari Randstad, mengatakan survei dan temuan ini menjadi peringatan keras bagi pebisnis. Orang-orang kini melakukan pergeseran kekuatan yang jelas saat para generasi z dan milenial yang mengutamakan prioritasnya.

“Anak-anak muda ingin membawa seluruh dirinya untuk bekerja yang tercermin ke dalam tekad mereka untuk enggak mengkompromikan nilai-nilai pribadi ketika memilih atasan. Bisnis perlu memikirkan kembali pendekatan untuk menarik dan mempertahankan staf atau menghadapi persaingan yang serius,” katanya.

Sejalan dengan pemikiran Sahrul yang lahir pada 1994. Pria yang senang desain ini katakan sedang mencari perusahaan yang mampu memperdalam ilmu desainnya. “Tempat kerja yang gak kaku dan gak pelit untuk kirim karyawannya kemana-mana untuk kembangkan ilmu itu idaman banget.”

Walau generasi tua menganggap keputusan Kurnian, Maria dan Sahrul kurang bertanggung jawab, namun ia tak sendirian berpikiran demikian. Mereka bertiga yang kini berumur 20 tahunan, termasuk dalam golongan milenial dan gen z.

Mereka katakan, meski menganggur, terasa lebih bahagia dan punya banyak waktu luang untuk belajar dan melakukan hal nyang bermanfaat. Pengembangan diri, melakukan hobby, berkumpul dengan keluarga tercinta hingga teman-teman.

“Ketimbang bertahan di perusahaan yang lingkungan kerjanya toxic dan bikin enggak nyaman, mending aku menganggur saja deh.” tutup Maria. (Wilingga)

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com