HeadlineSosok

Profil Ham Pak Japyusuf (Yusuf) Hamdani, Konglomerat Senior di Balik IPO Niramas Utama (JELI)

TheEconopost.com – Di usia 85 tahun, Ham Pak Japyusuf Hamdani menjadi figur sentral yang mengantar PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO, menuju Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2026. Ia menjabat sebagai Direktur Utama Perseroan sejak 2013 dan merupakan salah satu tokoh yang telah membangun bisnis Niramas selama lebih dari tiga dekade.

Japyusuf menyelesaikan pendidikan menengah di Chinese High School Jakarta pada 1961. Karier bisnisnya berkembang melalui berbagai perusahaan di sektor manufaktur, distribusi, jasa keuangan, hingga perkebunan. Saat ini, selain memimpin Niramas Utama, ia juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Niramas Utama International sejak 2002 serta Komisaris Utama di sejumlah perusahaan dalam kelompok usaha, termasuk PT Supra Megah Utama, PT Gaharu Sejahtera, PT Jaya Mulia Permata, dan PT Aneka Wahana Nusantara.

Di bawah kepemimpinannya, Niramas Utama berkembang menjadi salah satu produsen makanan penutup berbahan dasar nata de coco terbesar di Indonesia. Perseroan yang bermula dengan nama PT Nata Sari Raya pada 1990 kini mengoperasikan empat pabrik yang berlokasi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi. Produk-produknya dipasarkan di dalam negeri maupun ekspor melalui merek INACO.

Langkah penting terbaru perusahaan adalah IPO dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 350 juta saham baru atau setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum. Dengan kisaran harga Rp900 hingga Rp1.120 per saham, Perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp392 miliar. Dana tersebut antara lain digunakan untuk ekspansi kapasitas produksi, belanja modal, pembayaran sebagian utang bank, dan modal kerja.

Kinerja Keuangan

Menjelang IPO, kinerja keuangan Niramas Utama menunjukkan perbaikan signifikan. Pada tahun buku 2025, Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp753,05 miliar dengan laba bersih Rp39,03 miliar. Angka tersebut melonjak dibandingkan laba bersih 2024 yang sebesar Rp11,63 miliar dan 2023 sebesar Rp1,68 miliar.

Total aset Perseroan per 31 Desember 2025 mencapai Rp552,11 miliar, naik dibandingkan Rp522,60 miliar pada 2024. Sementara itu, ekuitas meningkat menjadi Rp145,52 miliar dari Rp118,52 miliar pada tahun sebelumnya.

Perbaikan profitabilitas juga tercermin dari rasio return on equity (ROE) yang mencapai 26,82% pada 2025, meningkat dari 9,81% pada 2024.

Meski kinerja membaik, Niramas masih memiliki kewajiban yang relatif besar. Per akhir 2025, total liabilitas Perseroan mencapai Rp406,59 miliar, terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp323,89 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp82,71 miliar. Rasio liabilitas terhadap ekuitas (debt to equity ratio) tercatat 2,79 kali, membaik dibandingkan 3,41 kali pada 2024.

Sebagai bagian dari penggunaan dana IPO, sekitar 10,63% dana hasil penawaran umum akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman modal kerja kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Per 31 Maret 2026, saldo pokok pinjaman tersebut mencapai Rp94 miliar dan direncanakan turun menjadi Rp54 miliar setelah pembayaran.

Daftar Pemegang Saham JELI

Sebelum IPO, struktur kepemilikan Niramas Utama sangat terkonsentrasi. Sebanyak 99,8% saham Perseroan dimiliki oleh PT Niramas Utama International, sementara 0,2% saham dimiliki Sadikun Wiratno.

Dalam Niramas UUtama, para pengendali muncul dengan Yusuf Hamdani menjadi pengendali melalui Supra Pangan Investasi yang berinduk kepada Supra Sentral Investama. Dalam Niramas juga muncul nama Tony Loesiahari, Tjokro Susilo, dan Erijanto Djadjasudarma dengan kepemilikan masing-masing 2,5%. Sedangkan direktur yang juga Ketua Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman memiliki saham 1,35% dan Komisaris Utama Sadikun Wiratno memiliki 1,25%.

Setelah IPO secara proforma, PT Niramas Utama International tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 73,92%, sementara masyarakat akan menguasai sekitar 25,93% saham Perseroan dan Sadikun Wiratno memegang 0,15%.

Dengan langkah menuju pasar modal ini, Ham Pak Japyusuf Hamdani menandai babak baru perjalanan bisnis Niramas Utama. Setelah lebih dari tiga dekade membangun perusahaan dari produsen nata de coco menjadi pemain makanan penutup nasional, IPO menjadi upaya perusahaan memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi bisnis ke depan

Redaksi

Dukung kami untuk terus menyajikan konten bermanfaat dan memberi insight. Hubungi kami di redaksi@theeconopost.com. Untuk kerja sama iklan dan promosi lainnya ke marketing@theeconopost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@theeconopost.com