Adu Laba Emiten Sawit TP Rachmat (TAPG), Anthony Salim (LSIP) dan Astra (AALI) pada 2025
TheEconopost.com, Sejumlah emiten kelapa sawit milik konglomerasi jumbo telah melaporkan kinerja tahun lalu. Tiga di antaranya yang telah menyampaikan kinerja 2025 adalah PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) milik konglomerasi Triputra Grup yang didirikan TP Rachmat, PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) milik konglomerasi Salim Grup yang dikendalikan Anthony Salim, serta PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) milik konglomerasi Jardine Cycle & Carriage Ltd melalui Astra International (ASII).
Dalam laporan keuangan yang dikutip Rabu, 18 Maret 2026, kebun sawit milik Astra Grup menjadi pemilik laba per saham terbesar. Tercatat AALI meraih laba Rp764,65 per lembar, melonjak tajam dari posisi 2024 sebesar Rp596,22 per lembar atau naik 28,24%.
Secara keseluruhan, laba AALI yang dapat diatribusikan mencapai Rp1,53 triliun dengan hak laba entitas induk mencapai Rp1,47 triliun. Sebagai perbandingan periode 2024, AALI mencatat laba atribusi sebesar Rp1,18 triliun dengan laba yang dapat didistribusikan ke investor Rp1,14 triliun.
Sebagai gambaran, dalam periode 2025 ini AALI melaporkan meraih pendapatan Rp28,65 triliun. Naik dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp21,81 triliun.
BACA JUGA: IPO Triputra Agro (TAPG), Pemegang Saham Terakhir Istri T.P Rachmat Serta Meity Subianto
Harga saham AALI sendiri pada penutupan perdagangan kemarin berada di level Rp7.200. Dengan demikian, earning yield AALI berada pada level 10,62% dan P/E ratio 9,42x.
Laba per saham terbesar kedua dari tiga konglomerasi ini digenggam oleh PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) milik Anthony Salim. Pada 2025 lalu, LSIP membukukan laba per saham Rp277, naik dari posisi tahun sebelumnya Rp217 atau melonjak 27,64%.
Total, LSIP membukukan laba pada tahun lalu sebesar Rp1,88 triliun, naik dari posisi Rp1,47 triliun.
Harga saham LSIP per 17 Maret 2026 bertengger pada level Rp1.340 per lembar. Dengan demikian, earning yield LSIP mencapai 20,67% dan P/E ratio 4,83%.
Dalam periode ini, LSIP melaporkan pendapatan naik menjadi Rp5,51 triliun, naik dari posisi Rp4,56 triliun.
Sementara itu, konglomerasi ketiga yakni TAP Agro mencatatkan laba 2025 sebesar Rp186 per lembar. Jumlah ini berbanding dengan capaian 2024 sebesar Rp157 per lembar atau naik 18,47%.
Pada 2025, TAPG mencatatkan pendapatan melompat menjadi Rp11,4 triliun. Sebagai perbandingan pada tahun sebelumnya pendapatan perusahaan sebesar Rp9,67 triliun.
Secara nilai rupiah, emiten sawit milik TP Rachmat ini melaporkan laba paling besar, yakni mencapai Rp3,81 triliun, berbanding Rp3,35 triliun.
Harga saham TAPG sendiri bertengger pada level Rp1.745 per lembar atau dengan kata lain menunjukkan earning yield 9% serta P/E ratio 11,11x.
Catatan Auditor
Ketiga konglomerasi sawit ini menggunakan akuntan Big 4 sebagai auditornya. LSIP dan TAPG menggunakan KAP Purwanto, Sungkoro & Surja (EY Indonesia) sebagai pemeriksa laporan keuangannya. Sementara itu, Astra Agro menunjuk KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan (PwC) sebagai auditor atas kinerja 2025.
Dalam catatannya untuk TAPG, akuntan publik Sherly Jokom dari EY Indonesia menyebut laporan keuangan TAPG disajikan secara wajar dalam semua hal yang material.
Dalam penjelasannya, Sherly mencatat pendapatan grup Rp11,4 triliun yang terutama berasal dari penjualan CPO dan turunannya. Auditor juga melakukan pengujian atas pisah batas transaksi pendapatan mendekati dan menjelang 31 Desember 2025 untuk memastikan bahwa pendapatan telah diakui pada periode yang tepat.
“Atas dasar sampel, kami melakukan pengujian rinci atas transaksi pendapatan dengan melakukan verifikasi ke dokumen pendukungnya untuk memastikan bahwa pendapatan telah diakui sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku,” jelas Sherly lebih lanjut.
Sementara itu, dalam audit LSIP, EY menunjuk Sandy sebagai akuntan publik untuk memeriksa kepatuhan terhadap standar akuntansi atas laporan keuangan emiten kelapa sawit grup Salim tersebut. Disebutkan bahwa laporan keuangan LSIP telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, mencakup posisi keuangan konsolidasi per 31 Desember, kinerja keuangan, hingga arus kas.
Dalam catatannya, Sandy dalam audit utamanya memeriksa pendapatan grup pada 2025 sebesar Rp5,51 triliun yang utama berasal dari penjualan minyak sawit dan inti kelapa sawit. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai langkah kehati-hatian bahwa pendapatan mungkin diakui secara tidak tepat untuk meningkatkan hasil usaha dan mencapai pertumbuhan pendapatan grup.
“Atas dasar sampel, kami menguji transaksi pendapatan dengan melakukan verifikasi ke dokumen pendukungnya untuk memastikan bahwa pendapatan telah diakui sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Kami melakukan pengujian rinci pada pisah batas transaksi untuk memastikan keterjadian pendapatan dan apakah pendapatan telah dicatat pada periode yang tepat,” ulas Sandy menjelaskan dasar opini yang disematkan kepada LSIP.
Sementara itu, EY pada audit AALI juga memberikan opini wajar terhadap emiten sawit konglomerasi Astra tersebut.
Andy Santoso dari EY menyebut audit utama dilakukan terhadap tagihan restitusi pajak. Disebutkan bahwa total nilai tercatat restitusi pajak dari pajak penghasilan badan berasal dari berbagai tahun pajak atas entitas di dalam grup yang berstatus keberatan atau banding.
“Di mana nilainya merepresentasikan 26% dari total tagihan restitusi pajak,” tulis Andy.
Dia menjelaskan bahwa dalam konteks akuntansi, terdapat kemungkinan perbedaan hasil yang dapat dipulihkan terhadap jumlah tagihan restitusi pajak yang disebabkan proses penyelesaian sengketa.
“Kami telah memeriksa dan menilai basis teknis seperti yang dijelaskan dalam dokumen keberatan, banding, dan peninjauan kembali pajak untuk menilai pemulihan tagihan restitusi pajak,” jelasnya.
Basis opini juga telah didukung dengan diskusi dengan manajemen, memanfaatkan pemahaman tentang industri, bisnis, dan operasi grup, mempertimbangkan hasil dari pemeriksaan dan sengketa pajak tahun sebelumnya hingga melibatkan spesialis pajak di PwC.
“Kami menilai kecukupan informasi yang diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan konsolidasi sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku,” ulasnya lebih lanjut.
| Bayar Sesuai Keinginan Anda Terima kasih telah membaca berita istimewa di The Econopost. Jika Anda menyukai jurnalisme kami maka tunjukkan dukung itu dengan membeli berita ini dengan harga sesuai keinginan Anda. Cukup scan QR code yang tersedia lalu bayar sesuai keinginan. Terus nikmati informasi terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda. ![]() Kontribusi Anda sangat berarti bagi kami untuk terus menghadirkan informasi tajam, terpercaya, dan eksklusif sesuai kebutuhan. |

